Home » Politik » Radikalisme » Tangan yang Terputus
6212433214_8a2f566fd6_z

Tangan yang Terputus

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

IslamLib – Dodi Rahmawan tak akan bisa memeluk istrinya, seperti dulu. Telapak tangan kirinya, yang hancur karena ledakan bom di Utan Kayu itu, sudah diamputasi. Meski nanti ia sembuh, jemari di tangan kiri itu tak akan pernah kembali. Ia akan sulit memeluk tiga anaknya, seperti yang biasa dia lakukan. Telapak kiri itu pergi bersama ledakan laknat di halaman kantor kami.

Para petinggi kepolisian menyalahkan Dodi, karena melanggar prosedur penjinakan bom. Sebagai kepala reserse Polres Jakarta Timur, yang bukan ahli gegana, ia dianggap melewati batas. Dodi mestinya menunggu tim gegana datang, daripada mencoba menjinakkan bom sendirian. Tanpa peralatan memadai.

Tetapi, yang ditunggu tak datang-datang. Dodi yang sudah di tempat, tak tahan lagi. Ia ingin segera membereskan bom yang bikin geger Utan Kayu itu. Malangnya, bom justru meledak, ketika sedang dia coba jinakkan. Ia terluka, bersama dua polisi lain; dan seorang staf keamanan KBR68H.

Tetapi kami tak akan ikut menyalahkan Dodi. Bagi kami yang kebingungan melihat bom berjam-jam dibiarkan di halaman kantor, tindakan Dodi adalah kerelaan menjalani tugas yang patut dipuji. Ia pun rupanya tak sabar, menanti tim gegana datang. Dan setelah meminta panduan lewat telepon, ia mencoba apa yang dapat dia lakukan.

Mereka yang mengerti bom, tentu saja menganggapnya ceroboh. Tetapi, bagi awam yang menjadi korban seperti kami, tindakan Dodi meyakinkan kami bahwa masih ada pelayan publik yang mau bertindak. Bukan hanya omong, mencari kesalahan orang lain, dan menghindari tugasnya.

Presiden turut berkomentar tentang profesonalisme polisi yang mesti ditingkatkan. Mungkin maksudnya, menyinggung cara Dodi menangani bom itu. Kami sependapat dengan pentingnya meningkatkan kemampuan polisi. Tetapi, kami juga menghargai orang yang dengan kerelaan menjalankan tugasnya.

Dodi mengambil risiko untuk menangani bom itu, meski bukan keahliannya, karena ia ingin menjalankan fungsinya sebagai polisi : pengayom masyarakat. Ia tentu tak mau diam saja, melihat orang-orang cemas karena teror bom di wilayah tugasnya.

Kami prihatin tindakan itu harus dibayar mahal, dengan tangan kiri yang terputus. Itu, menjadikan Dodi korban terparah dari serangan bom buku di Utan Kayu Selasa lalu. Ketika kami menjenguknya sehari setelah ledakan, suasana berduka sangat terasa di Paviliun Kencana RSCM. Istri, ibu dan kakak-kakaknya ada di sana.

Kami hampir tak bisa bicara. Kecuali saling menguatkan. Berbagi dukungan sesama korban. Atas nama warga Komunitas Utan Kayu, kami sampaikan penghargaan pada niat baik Dodi membantu kami mengatasi bom laknat itu.

Yang mesti dipersalahkan, dan dikutuk, adalah orang yang mengirim bom buku itu. Bukan Dodi yang karena kerelaannya menjalankan tugas telah menjadi korban. Tangan kirinya Terputus.

Sebagian orang mengolok-olok Dodi, ketika mereka lihat rekaman video penjinakan bom yang gagal itu. Video yang diputar luas oleh banyak televisi. Mereka mencemooh, kenapa bom disiram air? Tidak ada penanganan bom seperti itu di dunia. Belakangan kami tahu, pilihan tindakan itu salah.

Tetapi, kami tak akan pernah mengolok-olok orang yang terlanjur menjadi korban. Apalagi, ia menjadi korban ketika dengan niat baik menjalankan tugasnya. Ia bermaksud menjinakkan ancaman yang mungkin mencederai warga kami. Tindakan Dodi, bagi kami, bukanlah sesuatu yang patut dijadikan lelucon.

Kami belajar menghargai mereka yang berniat baik untuk menolong.

Ancaman teror, tampaknya masih akan berlanjut. Kemarin paket mencurigakan yang kedua dikirim ke Komunitas Utan Kayu. Syukurlah, gegana berhasil menanganinya dengan baik. Kami juga mesti berlatih mengantisipasi ancaman-ancaman itu, dengan benar. Agar tak jatuh korban lagi. Sembari tentunya, tak boleh henti menjalankan tugas : memenuhi hak warga akan informasi, memperluas ruang untuk kebebasan berpikir dan berpendapat.

Tiap kali mengingat Dodi, kami teringat tangan yang terputus. Teringat tentang orang yang menjadi korban, ketika membantu kami menghindarkan diri dari ancaman teror. Kekerasan itu muncul dari ketaksiapan sebagian orang untuk hidup dalam perbedaan. Kekerasan mungkin juga menjadi jalan pintas, untuk mereka memaksakan tujuannya.

Apapun tujuan itu, kekerasan bukan cara yang bisa kami terima. Ingatan tentang tangan yang terputus itu, sebaliknya adalah juga peneguh untuk meneruskan upaya meningkatkan saling pengertian antar warga. Hidup dalam perbedaan, tak berarti harus saling membunuh.

Tangan yang terputus itu, mengingatkan harapan yang tak akan pernah putus.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.