Home » Politik » Robohnya Monumen Gaza
Seorang ibu dan anaknya di atas reruntuhan rumahnya di Gaza
Seorang ibu dan anaknya di atas reruntuhan rumahnya di Gaza

Robohnya Monumen Gaza

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Selama seminggu penuh publik internasional disuguhi berita dan gambar-gambar dramatis tentang evakuasi warga di permukiman-permukiman Yahudi di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Banyak aspek yang bisa dibahas dari peristiwa bersejarah itu. Salah satunya adalah ketegasan pemerintah Israel di bawah PM Ariel Sharon dalam mengeksekusi apa yang telah diputuskannya. Ketegasan itu amat mengesankan mengingat latar-belakang yang amat panjang dan sarat cerita di balik pemukiman-pemukiman itu.

Ia juga mengesankan karena tindakan itu mencakup penghancuran sinagoga-sinagoga Yahudi. Dunia menyaksikan betapa buldoser-buldoser Israel kali ini bukan menggilas rumah-rumah Palestina seperti kegiatan rutinnya, melainkan melumat rumah-rumah ibadah Yahudi itu tanpa ampun.

Begitulah selayaknya sebuah pemerintahan bersikap: sekali keputusan sah berlandaskan hukum diambil, ia harus dilaksanakan dengan segala risikonya. Hanya dengan demikian status “negara hukum” (rechststaat) – atau dalam versi yang lebih tegas lagi: rule of law – benar-benar bermakna.

Sharon berani menempuh risiko besar itu, termasuk ditinggalkan oleh kawan-kawannya di partai Likud, seperti mundurnya Menteri Netanyahu dari kabinet. Tak sedikit pula warga Israel yang mengutuknya sebagai pengkhianat. Tapi Sharon, yang memahat reputasi panjang sebagai tokoh garis-keras yang haus darah, maju terus dengan kebijakan lepas-tangannya (disengagement plan).

Mayoritas rakyat Israel menyambut baik tindakan tegas pemerintahnya itu, meski tidak ada jaminan penghapusan permukiman Gaza akan membuat mereka merasa lebih aman di masa depan. Sebab memang kebijakan Sharon tersebut agak “misterius” – tidak terlalu jelas target politik dan militernya, tak jelas pula imbalannya bagi Israel dalam perang abadinya dengan Palestina.

Pelepasan kali ini sama sekali tak menyinggung prinsip “tanah bagi perdamaian” (land for peace) yang selama ini dijadikan harga mati oleh Israel, dan pernah dipraktekkan pada 1982, ketika Israel mengembalikan Gurun Sinai kepada Mesir setelah dirampasnya sejak 1973.

Sedangkan Gaza dan Tepi Barat telah didudukinya sejak 1967. Dan kini, tiba-tiba Sharon – yang selama puluhan tahun gigih mendorong warga Yahudi agar bermukim di tanah-tanah Palestina yang direbutnya itu – mengusir ribuan warganya sendiri, menggiring mereka kembali ke wilayah “asli” Israel.

Dalam kasus Gaza, evakuasi itu sempurna: sekitar 8.000 orang di 21 permukiman Yahudi. Pada kasus Tepi Barat, warga Yahudi yang digelandang memang sangat sedikit, yaitu hanya beberapa ratus orang di empat dari 120 permukiman.

Ada dugaan bahwa Sharon sengaja melikuidasi permukiman Yahudi Gaza demi berkonsentrasi pada perlindungan terhadap warganya di Tepi Barat. Sebab melindungi mereka memang sangat mahal ongkosnya, secara ekonomi, politik maupun militer.

Padahal Gaza sangat kurang bermakna dari segi biblikal dibanding Tepi Barat, yang bagi keyakinan agama Yahudi bernilai luhur. Maka Sharon memilih menghancurkan yang kurang penting untuk memperkokoh penguasaannya atas yang lebih penting.

Hari-hari ini pihak Palestina, khususnya kelompok-kelompok garis-keras seperti Hamas, menahan diri karena tampaknya cukup gembira dan puas menyaksikan penghapusan 21 permukiman di Gaza itu.

Di masa depan, permukiman Yahudi di Tepi Barat pun pasti mereka tuntut untuk dihapus, terutama jika Israel tidak memberi konsesi yang wajar bagi Negara Palestina.

Permukiman-permukiman Yahudi itu, di Gaza maupun Tepi Barat, merupakan monumen kezaliman yang sangat mencolok mata. Di Gaza yang langka tanah, misalnya, 8.000-an warga Yahudi menempati lebih dari 20 persen wilayah; sementara hampir 80 persennya ditempati 1,3 juta warga Palestina, dengan segala kemiskinan mereka.

Di wilayah Palestina yang gersang itu, kompleks-kompleks perumahan Yahudi tersebut merupakan kemewahan yang menyempurnakan pencideraan terhadap rasa keadilan universal: mereka hidup di rumah-rumah indah, dengan halaman-halaman luas yang ditumbuhi taman-taman hijau dan fasilitas-fasilitas umum yang sangat baik, lengkap dengan kolam-kolam renang – sementara warga Palestina selalu kesulitan air bersih.

Monumen ketidakadilan di Gaza itu kini tuntas diruntuhkan tanpa ampun. Di masa-masa mendatang, dunia berharap monumen kezaliman di Tepi Barat pun secara bertahap bisa dihapus; bukan hanya empat, tapi lebih banyak lagi sampai, jika mungkin, seluruh 120 permukiman Yahudi itu diakhiri.

Setelah itu, barulah dunia boleh mengumumkan bahwa salah satu batu-sandung besar perdamaian Timur Tengah telah disingkirkan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.