Home » Politik » Sekularisasi » Vocal Minority
silenr majority

Vocal Minority

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Jurgensmeyer, dalam magnum opus-nya, Nasionalisme Religius Versus Nasio-nalisme Sekular, menyatakan bahwa sekulerisme adalah hadiah terbesar dari dunia Kristen. Tentu saja, Kristen yang dimaksud adalah tradisi Lutherian —yang oleh Samuel P. Huntington disebut paling potensial menyemai benih demokrasi.

Persentuhan Islam dengan sekularisme, dalam sejarahnya, adalah pertarungan antara doktrin ideal dengan realitas. Pengalaman Turki menunjukkan bahwa Kemal Ataturk terlalu “bernafsu” mencangkokkan ide sekuleristik itu pada masyarakat yang secara kultural memiliki resistensi tinggi.

Indonesia, sejak “zaman baheula,” sudah tercerahkan oleh debat publik mengenai tema sensitif ini, bahkan jauh sebelum Cak Nur berpolemik dengan Mohammad Roem, Prof. Rasyidi hingga Daud Rasyid.

Para founding fathers kita: Soekarno yang berdebat panas dengan M. Natsir soal “api vis-à-vis abu Islam” hingga Mohammad Hatta yang menurut sebagian kalangan fanatik dicap “pengkhianat” karena menghilangkan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Kalau dirunut jauh ke belakang, Nabi Saw —yang menjadi sumber tradisi kedua setelah Al-Qur’an— mempunyai sejarah yang bertolak belakang dengan Yesus. Yesus adalah figur pembebas dari “gembala-gembala” yang tertindas yang justru dikejar-kejar penguasa.

Pengalaman Nabi Saw menunjukkan dua fakta: fase Mekkah di mana beliau hanya memiliki otoritas spiritual menunjukkan kegagalan dakwah, sedang fase Madinah di mana beliau tidak hanya berbekal otoritas spiritual, tapi juga dibaiat sebagai pemimpin pemerintahan menunjukkan kesuksesan dakwah.

Hal itulah yang dibaca sebagai keterkaitan agama dengan negara (al-diin wa al-daulah), hingga orang sekaliber Yusril Ihza Mahendra memberi analogi; memisahkan Islam dengan politik bagaikan menceraikan gula dari manisnya.

Bagi kelompok yang percaya pada argumen ini, negara dilihat sebagai instrumen untuk menubuhkan (embodied) syariat Islam. Demonstrasi yang baru-baru ini dilakukan Front Pembela Islam, Laskar Mujahidin dan Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) bertitik tolak pada argumen ini.

Alih-alih mereka memikirkan realitas sui generis Indonesia yang dibingkai dari kemajemukan background agama, kultural, ras dan etnik, kelompok-kelompok tersebut juga menafikan pluralitas di antara kelompok Islam.

Muslim Indonesia tidak monolitik. Muslim disini adalah sebuah gambaran masyarakat yang menjunjung tinggi kemajemukan dan menghargai kearifan lokal-tradisional. Muslim “jenis” ini tidak berambisi menyelesaikan persoalan “di sini dan kini” dengan perspektif tradisi Arab yang kental, apalagi yang cenderung anakronis.

Mereka adalah mayoritas diam (silent majority), yang hanya bersuara ketika pemilu digelar. Fakta lagi-lagi berbicara; Pemilu 1999 menunjukkan kekalahan telak partai-partai Islam. Itu berarti mereka yang teriak-teriak soal syariat Islam adalah vocal minority yang tidak memiliki akar di masyarakat. Wallahu a’lam!

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.