Home » Politik » Internasional » Serangan Paris dan Kebingungan Kita
pray for paris

Serangan Paris dan Kebingungan Kita

4.31/5 (110)

IslamLib – Kota Paris kembali menjadi sasaran serangan kaum teroris. Jumat malam kemaren, enam serangan serentak terjadi di kota itu, dan menewaskan kurang lebih 128 nyawa. Yang menjadi obyek serangan kali adalah sasaran sipil yang sama sekali defenseless, tanpa perlindungan dan merupakan titik lemah: stadion sepak bola, tempat konser, dan restoran. Januari lalu, tiga aksi terorisme juga terjadi secara berurutan, salah satunya menghantam kantor sebuah majalah satir Charlie Hebdo dan menewaskan 11 nyawa awak redaksi majalah itu.

Tak berselang lama setelah serangan Paris kemaren malam itu, kelompok ISIS menyatakan bertanggung jawab. Jika kita ikuti percakapan di media sosial internasional, sebetulnya tuduhan sudah mengarah ke kelompok teroris “Islam”, bahkan sebelum pernyataan dari ISIS itu keluar.

Tentu saja ini bisa dimaklumi. Setiap muncul aksi kekerasan di negeri-negeri Barat dalam tahun-tahun terakhir ini, jari-jari publik di sana langsung menuding kelompok jihadis Islam. Untuk hal ini, publik di Barat tak bisa sepenuhnya disalahkan, sebab sejumlah pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa kekerasan demi kekerasan dilakukan oleh kelompok-kelompok itu.

Serangan Paris kali ini membuka perdebatan yang sudah kerap kita dengar selama ini. Kenapa ada kelompok yang mengaku Islam dan melakukan kekerasan, bahkan tindakan brutal yang di luar akal sehat? Apakah ISIS, kelompok yang selama beberapa tahun terakhir ini menyedot seluruh perhatian dunia karena tingkat kebrutalan mereka yang fantastis, adalah bagian dari Islam atau bukan?

Umat Islam di seantero dunia memang dihadapkan pada momen yang amat sulit saat ini. Berhadapan dengan aksi-aksi teror yang diatas-namakan Islam itu, umat Islam terbelah dalam banyak kubu, sebuah petunjuk bahwa mereka mengalami kebingungan dalam menghadapi fenomena kekerasan yang secara kemanusiaan sangat “menjijikkan” ini.

Ada kubu yang sama sekali tak mau mengakui bahwa apa yang dilakukan ISIS memiliki landasan dalam ajaran Islam. Kubu ini amat sulit menerima kenyataan bahwa agama Islam bisa melahirkan kelompok brutal semacam ini. Mereka mengalami guncangan mental yang amat besar dan di luar kemampuan mereka untuk menanganinya. Akibat dari guncangan itu, mereka lalu menunjukkan sikap “denial”, menolak bahwa ini semua ada kaitannya dengan Islam.

Saya bisa memahami sepenuhnya keguncangan semacam ini. Brutalitas bukan hal baru dalam sejarah manusia. Tetapi brutalitas dengan skala seperti dilakukan oleh ISIS selama ini dan diberikan sokongan hujjah atau argumen keagamaan, memang amat sulit dicerna. Bagaimana mungkin agama yang konon membawa “rahmat bagi sekalian alam” (rahmatan lil alamin) bisa berujung pada tindakan kekerasan semacam ini? Bagi mereka ini, fenomena ISIS adalah “too evil to be true”.

Bentuk-bentuk “denial” bisa macam-macam. Ada yang menisbahkan “provenance” atau asal-usul kelompok ini kepada konspirasi negeri-negeri Barat: Amerika, Israel. Ada yang melekatkan asal-usul kemunculan ISIS ini kepada golongan Syiah. Logic di balik tuduhan ini adalah adanya konspirasi Syiah untuk menghancurkan Islam dari “dalam”. Sementara pihak lain menisbahkan silsilah ISIS kepada ideologi Wahabi.

Kubu kedua berpandangan lain. Mereka mengatakan dengan jujur bahwa memang ada “masalah” internal dalam tubuh umat Islam yang bersumber dari pemahaman yang keliru terhadap ajaran jihad dalam Quran. Selama masalah ini tak diakui dengan terus terang, umat Islam akan terjebak dalam pusaran kekerasan terus-menerus, dan tak mampu melakukan proses kritik-diri yang amat diperlukan untuk melakukan perbaikan ke dalam.

Tetapi kebingungan serupa juga terjadi di Barat. Di satu pihak ada kubu di sana yang langsung menuduh Islam, apapun coraknya, sebagai agama kekerasan. Beberapa menit setelah peristiwa serangan Paris ini, seorang tokoh new atheist yang terkemuka Sam Harris, penulis buku The End of Faith itu, menulis komentar pendek di akun twitternya: Islam is not a religion of peace.

Pandangan Sam Harris ini bukan hanya ada di Barat. Gema dari pandangan ini juga kita jumpai di dunia Islam. Seorang ex-Muslim dari Mesir yang mengaku keluar dari Islam empat tahun lalu, menulis komentar “keras” di akun twitternya seperti ini: I left Islam 4 years ago. Islam is a major source of terrorism in the world today.

Tetapi ada juga kubu lain di Barat yang mencoba berpikir dingin dan tidak terjebak dalam emosi sesaat dengan menggeneralisasi semua orang Islam sebagai entitas yang monolitik. Mark Ruffalo, salah satu aktor dalam film Avenger itu, menulis twit berikut ini: Do not allow this horrific act allow you to be drawn into the loss of your humanity or intolerance. That is the intended outcome. Intinya: jangan kehilangan akal sehat, toleransi dan rasa kemanusiaan. Sebab itulah ujung yang justru dikehendaki oleh kaum teroris.

Ada suara-suara yang emosional dan terguncang, tetapi juga ada suara lain yang terus menjaga akal sehat, rasionalitas dan kritisisme. Dua sikap yang bertentangan ini kita jumpai baik di dunia Islam maupun di Barat. Kekerasan-kekerasan atas nama agama ini memang telah membelah dunia ke dalam kubu-kubu pandangan yang saling bertolak belakang.

Kebingungan serupa juga terjadi pada aspek yang lain: bagaimana fenomena seperti ISIS ini mesti dijelaskan? Bagaimana agama bisa melahirkan kekerasan seperti ini? Apakah agama hanya “smoke screen”, tirai asap saja yang menyembunyikan sebab-sebab yang jauh lebih esensial di baliknya?  Ataukah memang agama sendiri memiliki peran dalam kemunculan kekerasan itu sendiri?

Mereka yang menganggap “agama” sebagai semacam kesadaran palsu saja (umumnya mereka ini adalah intelektual kiri) cenderung menganggap bahwa agama hanya sebab permukaan saja. Sebab yang sesungguhnya dalam aksi-aksi teror ini lebih bersifat sosial-politik-ekonomi. Ada yang mempersempit lagi faktor-faktornya ke dalam penjelasan yang jauh lebih spesifik: perebutan sumber daya alam. Anehnya, penjelasan “kiri” ini juga diamini oleh kalangan Islam konservatif yang tak hendak melihat agamanya terus-terusan dikambing-hitamkan. Mereka setuju dengan para intelektual kiri dalam membenamkan faktor agama ke bawah karpet. Sebuah unholy alliance yang janggal.

Kubu yang lain menempatkan agama justru pada titik pusat yang penting dan tak bisa diabaikan. Menurut kubu kedua ini, agama jelas tak bisa cuci tangan dari kekerasan-kekerasan ini. Sebab dalam Kitab Suci-nya memang, harus jujur diakui, ada penegasan-penegasan skriptural yang bisa ditafsirkan begitu rupa untuk mendukung aksi-aksi teror. Dalam kasus ISIS, bahkan perkaranya bisa jauh lebih “vulgar”, sebab mereka selalu menuliskan alasan-alasan keagamaan secara eksplisit setiap melakukan aksi-aksi brutal yang di luar bayangan manusia yang waras: seperti aksi membakar manusia.

Aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok “Islam” ini memang menghadapkan seluruh penduduk bumi kepada suatu kenyataan yang pahit tentang dunia modern: betapa sulitnya mengatasi sebuah teror yang menyusup dengan mudah ke segala sektor kehidupan, seperti sebuah virus yang bergerak dengan leluasa di dunia maya.

Persebaran ide-ide teror bisa dengan mudah berlangsung melalui platform digital. Meskipun rencana-rencana teror yang dipantik oleh ide-ide itu bisa dideteksi, tetapi selalu saja ada kemungkinan luput dan lolos. Bahwa aksi ini terus muncul dari waktu ke waktu menunjukkan betapa kita sekarang tengah mengalami kerepotan yang akut untuk menanganinya. Semua orang saat ini rentan terkena ide ini, dan semua orang bisa bertindak secara individual untuk mengeksekusi ide itu tanpa sebuah komando siapapun.

Kekerasan sekarang ini mengalami proses digitalisasi, “demokratisasi”, dan dengan mudah bisa dieksekusi. Sarana-sarana untuk mengeksekusi kekerasan begitu mudah diperoleh dan dipelajari. Sementara itu, realitas di lapangan, terutama di negeri-negeri Barat, memang tak seluruhnya menyenangkan bagi kelompok-kelompok minoritas Muslim di sana.

Anak-anak muda Muslim yang mengalami frustrasi karena realitas diskriminasi yang dihadapi oleh komunitas Muslim di Barat bisa dengan mudah tergoda untuk memeluk ide-ide radikal keagamaan. Munculnya fenomena Muhammed Emwazi alias Jihadi John dari Inggris adalah contoh yang sangat baik.

Di pihak lain, corak penafsiran Islam yang keras dan “konfrontatif” terhadap “yang lain” (terutama “yang lain” di dunia Barat) memang harus kita akui ada sejak dahulu. Bagi kalangan tertentu dalam Islam, pemahaman keagamaan yang keras dan konfrontatif ini justru mereka pandang sebagai perisai ideologis yang paling manjur berhadapan dengan hegemoni Barat. Makin keras suatu pandangan keagamaan, makin memberikan mereka rasa percaya diri menghadapi Barat yang “perkasa”.

Ketimbang menganggap masalah kekerasan ini sebagai penghadap-hadapan antara Barat dan Islam, saya kira justru lebih baik jika kita memandangnya sebagai tantang semua pihak. Yang menjadi korban dari ideologi kekerasan atas nama Islam, sejujurnya, justeru lebih banyak kalangan Islam sendiri ketimbang masyarakat Barat. Salah sekali jika pihak Barat menganggap semua orang Islam sepakat dengan kelompok-kelompok teror ini, ada di pihak yang berseberangan dengan mereka (maksdunya publik Barat), dan karena itu patut dimusuhi.

Sementara itu, salah juga jika umat Islam menganggap pihak Barat berada dalam satu kubu yang sama: memusuhi Islam. Sebab, tak kurang-kurang kalangan di Barat yang memberikan pembelaan pada Islam dan melakukan pembedaan yang jelas antara umat Islam pada umumnya yang cinta damai (peace loving Muslim), dan kalangan teroris yang hanya memakai agama sebagai pembenaran saja atas tindakan teror.

Di tengah-tengah kegelapan teror, lilin akal sehat tak boleh padam. Sebab hanya dengan begitu kita bisa pelan-pelan mengurai masalah dengan jernih, tanpa terjatuh pada occidentophobia (benci Barat) atau Islamophobia (benci Islam).[]

 

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.