Home » Politik » Dunia Islam » Setan dan Nalar Konspirasi Kaum Islamis
640px-Satan_before_the_Lord

Setan dan Nalar Konspirasi Kaum Islamis

3.97/5 (30)

IslamLib – Setan, iblis dan jin merupakan rangkaian kata yang saling terkait berkelindan dalam konsep “invisible creature”, dan dianggap memiliki pengaruh atas tindak-tanduk perilaku manusia. Terminologi ini digunakan oleh kaum agamawan (khususnya Islam) untuk menggambarkan suatu penyebab keburukan yang dilakukan oleh manusia. Definisi populer dari para ulama klasik mengenai istilah ini dapat dibaca dari berbagai karya tafsir yang terkenal luas; Thabari, Ibnu Katsir, ar-Razi, dll.

Setan yang berasal dari kata syathana, bermasdar syaithan merupakan sikap membelot dari yang sebenarnya. Thabari, misalnya, mengisahkan kejadian Umar bin Khattab yang menyebut kudanya dengan sebutan “setan” karena enggan berlari dan dianggap membelot dari kegunaannya sebagai binatang transportasi.

Setan merupakan istilah genus yang dapat melekat pada siapa saja, sedangkan iblis dan beberapa jenis jin adalah diferensia dan dianggap makhluk dengan karakter setan tersebut. Bahkan, Quran menyebut manusia pun tidak lepas dari karakter setan yang terus mengganggu dalam berbuat kebajikan.

Menurut hemat saya, maksud ulama klasik atas penafsiran setan ini adalah sebentuk penegasian sikap buruk yang dilakukan oleh manusia. Manusia dianggap terlahir dengan “fitrahnya” yang taat kepada Tuhan dengan senantiasa berbuat kebaikan. Nnamun, pelbagai fenomena yang terjadi turut mengubah sifat baik manusia sehingga membelot dari fitrah asal ia dilahirkan. Ketika itulah setan menjadi kata kunci penyebab pembelotan tersebut.

Mayoritas Muslim kerap menganggap setan sebagai makhluk dan aktor utama yang harus bertanggung jawab atas berbagai peristiwa kejahatan di muka bumi. Setan menjadi konsep yang terpatri dalam ingatan manusia melalui indoktrinasi para propagandis agama yang menyatakan bahwa manusia itu baik dan setan itu jahat. Manusia berbuat jahat karena godaan setan, dan bukan sepenuhnya kesalahan manusia.

Konsep setan sebagai penyebab utama segala kejahatan ini seakan menjadi sugesti tersendiri bagi masyarakat Muslim ketika menghadapi realita yang berbeda dengan apa yang diharapkan. Konsepsi setan secara tidak sadar melahirkan sikap mencari-cari kesalahan (blaming) kaum outsider yang berbeda identitas dengan mereka yang menyalahkan.

Setan yang abstrak disematkan pada manusia yang berbeda ideologi, sehingga menjadi setan konkrit. Sikap blaming ini khususnya kerap ditunjukkan oleh kaum Islamis yang meyakini bahwa Islam adalah solusi untuk segala permasalahan, termasuk kacaunya kondisi sosial-politik. Setan yang pada awalnya merupakan divine concept dalam urusan penyebab dosa dan pahala, seolah berevolusi menjadi sebuah paradigma dan sikap dalam merespon situasi sosial, politik dan ekonomi.

Stagnasi perkembangan peradaban di dunia Muslim saat ini direspon secara apologetik oleh kalangan Islamis. Respon tersebut, paling tidak, memiliki empat tahap yang terus disosialisasikan di berbagai dunia Muslim.

Tahap pertama, kalangan Islamis selalu memberikan garis demarkasi antara “kita” yang memiliki misi suci atas nama Tuhan, dan “mereka” yang dianggap bertindak atas dorongan syahwat duniawi. “Mereka” inilah yang direpresentasikan sebagai setan-setan dunia yang terus mengganggu misi suci kaum Islamis.

Kedua, mencari fenomena yang diklaim dapat merugikan umat Muslim di seluruh dunia. Ketiga, selalu menutupi kekacauan situasi sosial, ekonomi dan politik, dan berdalih segala fenomena yang terjadi telah direkayasa sedemikian rupa untuk menjatuhkan agama Islam. Dan akhirnya, dunia Islam yang saat ini terus dilanda kekacauan dan terbelakang dalam modernisasi dianggap sebagai korban dari ulah mereka yang tidak suka terhadap Islam.

Belakangan, sikap blaming ini tersentuh dengan analisis gandrung kalangan akademisi serta elit yang terancam oleh globalisasi,yang menghadapi kompleksnya permasalahan sosial-politik. Di sinilah lahirnya nalar konspirasi. Tak heran, ‘teori konspirasi” laku keras dan digandrungi oleh para aktifis Islamisme di pelbagai belahan dunia.

Bernard Lewis, ilmuan sejarah pada kajian Timur-Tengah, telah lebih dulu menulis dengan baik sikap blaming dan nalar konspirasi yang kerap ditunjukan oleh kalangan Islamis. Negara-negara Islam yang dikatakan Lewis sebagai negeri dengan peradaban fallen low (peradaban rendah yang terakhir mengikuti modernisasi) jatuh terpuruk dan terus dihantam badai kekacauan politik. Alih-alih introspeksi diri, kalangan Islamis justru sering meng-kambing hitamkan pihak-pihak tertentu sebagai biang kerok kejatuhan peradaban.

What went wrong? Apa yang salah? Pertanyaan fundamental yang sekaligus menjadi judul bukunya pada tahun 2012 ini diajukan oleh Lewis dalam mengamati sikap atau respons kalangan Islamis atas keruntuhan peradaban Islam. Sejak fajar sejarah, kalangan Islamis menyalahkan bangsa Mongol sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kejatuhan kejayaan dinasti Islam, ini sikap blaming pertama.

Modernisasi politik terus berlangsung, hadirlah kekuatan-kekuatan baru yang berjaya memimpin peradaban yang sering diistilahkan dengan kekuatan “Barat”, Inggris dan Prancis, yang semakin menenggelamkan kekuatan-kekuatan negara Islam.

Sikap blaming pun kembali digencarkan secara masif. Kali ini, Amerika dan sekutunya yang menjadi objek tuduhan kalangan Islamis. Amerika dianggap sengaja merancang perubahan sosial-politik demi jatuhnya agama Islam. Terlebih, setelah tahun 1949 negara Yahudi Israel berhasil terbentuk dengan dukungan Inggris dan Amerika, maka Yahudi pun ikut dianggap bersalah atas terpuruknya kekuatan Islam yang pernah berjaya selama berabad-abad.

Tidak selesai sampai Yahudi, gerakan revolusi Islam yang mengangkat kaum agamawan berideologi Syiah pada tampuk kekuasaan di Iran, cukup memberikan kebangkitan bangsa Persia tersebut dan mengalahkan popularitas kebangkitan negara-negara Sunni lainnya.

Lagi-lagi, Syiah menambah daftar pihak yang bermain konspirasi atas terpuruknya Islam (mainstream) sebagai kekuatan politik. Jadi saat ini, paling tidak, ada 3 setan dunia yang bersekongkol melakukan konspirasi agar peradaban Islam terus terpuruk; Mongol, Amerika-Salibis, Yahudi dan syiah.

Hingga saat ini nuansa konspirasi terus kita rasakan di Indonesia dengan berbagai pesan viral, quote, broadcast dll dalam menyikapi berbagai fenomena yang berkeliaran di media sosial. Sebagai contoh adalah peristiwa teror di kawasan gedung Sarinah yang mengejutkan kita beberapa waktu lalu.

Pasca peristiwa ini, tidak sedikit analisis dengan nalar konspirasi berkeliaran di media sosial. Dapat ditebak, nalar konspirasi ini berakar pada kalangan Islamis yang getol mengkampanyekannya di media sosial. Kali ini, TNI-Polri yang dianggap sebagai dalang dalam pewayangan teror Sarinah tersebut.

Nalar konspirasi ini alih-alih menyelesaikan masalah, justru membuat gamang dan membuat masyarakat yang terperdaya hanya mengkambing-hitamkan sesuatu tanpa ada solusi yang jelas. Pun tidak dapat menjelaskan secara utuh bagaimana pihak yang dianggap “bermain” itu melakukan pengaturan lakon, sehingga sang lakon teror rela untuk menghilangkan nyawa secara konyol.

Pokoknya, tulis saja bahwa mereka kuat, semena-mena, menghegemoni dan ingin mengambil keuntungan dari terpuruknya Islam. Beberkan saja data-data palsu dan analisis “ngawur”. Inilah komposisi umum yang mereka imani dari teori konspirasi. Sasaran pembaca fiksi konspirasi ini mudah ditebak; masyarakat yang miskin informasi, pihak-pihak yang tersakiti hingga akademisi yang malas dan miskin metodologi penelitian sosial.

Sampai sini terlihat bagaimana konsep setan abstrak bertransformasi menjadi nalar konspirasi, dengan dalang dari pihak-pihak tertentu sebagai setan konkritnya, dan tentunya dianggap penyebab dan perekayasa segala fenomena buruk yang terjadi.

Suatu waktu saya berkesempatan mengikuti seminar akademik yang salah satu pembicaranya adalah Martin Van Bruinessen, antropolog kenamaan Negeri kincir angin yang banyak mengkaji isu-isu Islam di Indonesia. Satu statemen yang saya ingat dari Brunissen terkait nalar konspirasi ini adalah bahwa teori konspirasi hanya digunakan oleh akademisi yang malas berpikir secara konprehensif dan peneliti korup yang tidak ingin terlalu lelah terjun menyelami data-data lapangan.

Pada akhirnya, memang terlalu mudah melayangkan segala macam kekacauan dan musibah pada satu aktor, jejaring, institusi atau apapun yang dianggap “setan”, daripada mengakui rumitnya struktur sosial-politik yang cukup menjadi faktor atas kekacauan tersebut.

Hal ini pulalah yang sebenarnya membuat nalar konspirasi menjadi teori pujaan dalam menganalisis masalah di satu sisi, sekaligus mempertontonkan kerendahan (kalau tidak ingin mengatakan kebodohan) para pengarang dan pengimannya di sisi yang lain.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.