Home » Politik » Syafi’i Ma’arif: “Nasionalisme Sempit sudah Tak Laku”
Ahmad Syafi'i Ma'arif
Ahmad Syafi'i Ma'arif

Syafi’i Ma’arif: “Nasionalisme Sempit sudah Tak Laku”

3/5 (1)

Pemilu presiden putaran pertama telah berlangsung. Seperti diketahui, Muhamadiyah sebagai organisasi terbesar kedua di negeri ini mendukung sepenuhnya Amien Rais sebagai calon presiden. Hal ini wajar dilakukan Muhamadiyah karena Amien dianggap sebagai putera dan kader terbaik karena pernah menjadi ketua umum organisasi ini. Namun nampaknya, sangat berat bagi Amien untuk bisa lolos ke putaran kedua.

Lalu, bagaimana sikap Muhammadiyah pada pemilu presiden putaran kedua ini? Berikut perbincangan Novriantoni Kahar dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif yang akrab disapa dengan sebutan Buya Syafi’i, yang berlangsung pada Kamis, 15 Juni 2004 lalu.

 

Buya, pemilu presiden babak pertama sudah berlalu. Hasil pesta demokrasi ini pun nyaris kita tahu. Nah, apakah Buya punya kritik untuk proses demokrasi ini?

Ya, kritik pasti ada. Tapi secara keseluruhan, saya memberi apresiasi yang tinggi terhadap proses demokrasi di sebuah negara yang baru saja memulai demokrasi ini. Saya pikir, kita patut bangga, apalagi ada berbagai pujian dari banyak pihak, baik dalam maupun luar negeri atas prestasi kita dalam mempertahankan iklim demokrasi.

Adapun kalau di sana-sini masih ada kekurangan, memang masih bisa dimaklumi. Kita belum berpengalaman sebelumnya dalam soal-soal teknis pemilu, misalnya bagaimana menanggulangi kecurangan. Bagi saya pribadi, kekurangan-kekurangan itu merupakan bagian dari proses yang perlu kita perbaiki pada masa mendatang.

Artinya, sekalipun cacat di sana-sini, sistem demokrasi jauh lebih baik dibandingkan romantisisme beberapa kalangan islamis tentang sistem khilafah?

Khilafah itu, apa?! Menurut saya, pendekatan itu sudah terlalu jauh dari suasana zaman kita, dan lebih banyak bersifat ahistoris. Sistem khilafah juga tidak mungkin diaplikasikan karena secara teoritik tidak pernah satu, kecuali sampai masa Utsman; itu pun sudah terjadi perpecahan. Makanya, saya rasa sistem kita sekarang jauh lebih baik, karena partisipasi masyarakat lebih dimungkinkan tanpa memandang asal-usul.

Dalam sistem khilafah, di luar khilâfah al-râsyidah (kekhalifahan yang bijak), soal partisipasi mesti melihat berbagai kategori, misalnya soal latar belakang Qurays (sebagai suku elit, Red), soal Ahlul Bait (kekerabatan dengan Nabi, Red). Sistem semacam itu, menurut saya berlawan dengan semangat Alqur’an yang menempatkan manusia dalam posisi yang sama di hadapan Tuhan.

Tapi kan demokrasi juga memungkinkan munculnya pemimpin yang populer, walau trade record pribadinya tidak sebaik kandidat lain!

Itu bisa saja terjadi. Oleh sebab itu, diperlukan pendidikan politik yang memadai agar pemilih tidak terperangkap oleh popularitas seseorang tanpa tahu kemampuannya. Masyarakat perlu diberi penjelasan agar mereka lebih kritisdalam menentukan pilihan dalam pemilu yang menggunakan sistem demokrasi.

Pada pemilu presiden putaran pertama, Anda terang-terangan mendukung putra terbaik Muhammadiyah, dan mungkin putra terbaik bangsa ini, Bapak Amien Rais. Sekarang dia mungkin tidak masuk putaran kedua. Apakah Anda kecewa?

Saya sudah mengantisipasi kemungkinan itu (tidak masuknya pasangan Amien-Siswono ke putaran kedua). Di antara pasangan capres-cawapres yang tampil kemarin, bagi saya Amien lah yang kurang punya beban masa lampau. Tapi nyatanya dia hanya didukung sekitar 15-20 juta orang saja.

Soal ini sudah saya tuliskan di harian Republika (Resonansi, 13/07/2004), yaitu tentang soal peradaban demokrasi. Peradaban politik kita nampaknya baru sampai segitu, dan kita harus terima kenyataan itu dengan legowo, lapang dada dan jangan dipersoalkan lagi.

Saya berharap, siapapun yang tidak berhasil masuk ke putaran kedua, harus mengucapkan selamat kepada yang masuk. Pada putaran kedua, yang akan keluar sebagai pemenang akhirnya juga cuma satu. Nah, dalam konteks itu, yang kalah harus mengucapkan selamat (kepada yang menang) dan menawarkan kerja sama yang konstruktif. Jadi, yang menang jangan sampai berkacak pinggang, dan harus menerima kemenangan itu dengan penuh tawâdlu‘ (rendah hati).

Dulu Cak Nur pernah bilang, kalaupun yang terpilih dalam pemilu yang demokratis adalah setan gundul, kita harus menerimanya dengan lapang dada. Dalam pandangan Anda, apakah sekarang rakyat kembali memilih “setan gundul”?

Tidak sampai seperti itulah! Para pemilih kita saya rasa tidak akan semakin bodoh. Mereka saat ini semakin cerdas. Hanya memang membutuhkan waktu, karena demokrasi kita, sampai pada periode kedua ini, baru berjalan sekitar 6 tahun, sejak 1998. Jadi waktunya masih pendek sekali.

Kita bisa begini saja, menyelenggarakan pemilu yang demokratis, aman, dan damai, walaupun masih ada kekurangan di sana-sini, menurut saya sudah luar biasa. Coba bandingkan dengan proses demokrasi di Philipina!

Dalam prediksi buya, apakah demokrasi kita akan mampu selamat dari ancaman otoritarianisme?

Saya berharap, siapapun yang terpilih dalam pemilu presiden babak kedua, baik sipil atau bekas militer, mereka harus punya komitmen penuh pada demokrasi. Kalau tidak, bangsa ini akan kembali mengalami masa krisis yang berkepanjangan. Dan saya tidak tahu, apakah nantinya bangsa ini masih punya masa depan (kalau kembali ke sistem otoriter, Red).

Untungnya, modal penting kita sekarang adalah kebebasan pers. Modal ini harus dijaga betul-betul, dan mesti dihormati. Memang ada ekses-ekses kebebasan pers yang masih kita temukan. Itu harus kita perbaiki.

Hanya saja, kelemahan kita selama ini, sehingga demokrasi terkesan carut-marut, dikarenakan adanya dua syarat demokrasi yang ditinggalkan: pertama sikap lapang dada, kedua rasa tanggung jawab.

Banyak pengamat memprediksi pemilih dwi-tunggal Amien-Siswono kemarin cenderung golput dalam putaran kedua, sebab mereka termasuk pemilih rasional. Apa komentar Buya tentang golput?

Menurut saya, mereka (pemilih Amien-Siswono red.) mungkin akan terbelah tiga. Pertama akan golput, dan kita belum tahu berapa persentasinya. Sebagian mungkin akan melirik pasangan Mega-Hasyim, dan sebagian lagi akan mendukung pasangan SBY-Kalla. Saya agak bergaul dengan kelompok-kelompok itu, dan saya mendengar mereka berbicara begitu.

Bagaimana posisi Muhammadiyah; apa akan memberi dukungan secara institusional kepada salah satu calon yang maju ke putaran kedua?

Tidak akan berlaku. (Dukungan secara institusional) hanya berlaku kemarin saja, terhadap putera terbaik Muhammadiyah –istilah yang dipakai kalangan Muhammadiyah. Mungkin itu merupakan peristiwa yang unik dalam sejarah Muhammadiyah.

Untuk masa yang akan datang, sikap resmi Muhammadiyah harus ditetapkan melalaui rapat pleno; suatu institusi yang sangat demokratik. Tapi saat ini, saya melihat kecenderungan teman-teman memberikan kebebasan kepada warga Muhammadiyah untuk menggunakan kecerdasan ruhaninya dalam memilih.

Apakah kekalahan duet Amien-Siswoni berekses negatif terhadap Muhammadiyah?

Saya rasa tidak. Memang banyak yang sedih, dan itu hal biasa. Tapi saya rasa, umur kesedihan itu tidak akan lama. Sekarang, kita suka atau tidak suka, golput ataupun tidak, roda sejarah akan tetap bergulir. Menurut saya, kita tidak boleh larut dalam kesedihan dan kemurungan; kita harus bangkit kembali. Ya… ke depan kita akan kembali memberi sumbangan terbaik untuk bangsa ini.

Dapatkah dukungan Muhammadiyah atas duet Amien-Siswono pada pemilu lalu diartikan kuatnya pengaruh sayap struktural dibandingkan sayap kultural di tubuh Muhammadiyah?

Saya rasa, keduanya berjalan beriringan. Saya pikir, orang Muhammadiyah –terutama aktivis yang betul-betul merasa mempunyai Muhammadiyah– memilih Amien juga bukan semata-mata karena dia kader Muhammadiyah, tapi juga memakai parameter-parameter yang objektif dan rasional.

Apa rekomendasi Muhammadiyah untuk pemilu tahap kedua?

Paling-paling kita akan mengatakan, siapapun pemenangnya, Muhammadiyah sebagai institusi yang taat konstitusi akan menerima hasilnya. Tapi secara pribadi –belum berupa rekomendasi Muhammadiyah– saya ingin memberi beberapa cacatan penting kepada presiden mendatang.

Pertama, saya berharap presiden yang akan datang betul-betul menunjukkan komitmen yang jujur dan tulus untuk menjaga kedaulatan bangsa yang sedang diobok-obok pihak luar, walau kadang-kadang banyak orang yang tidak mau mengakuinya.

Itu bukan mitos, Buya?

O… tidak! Mitos apa?! Lihat saja kasus Duta Besar Amerika yang menemui saya untuk persoalan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Belum lagi kalau kita bicara kasus penjualan Indosat yang memudahkan pihak luar mengakses rahasia kita di sini. Saya rasa, kasus itu akan memudahkan jalan bagi orang lain untuk mengobok-obok kita. Tapi mengapa itu terjadi? Sebab kita rapuh. Ada proses kerapuhan dari dalam diri kita. Jadi kita tidak semata-mata menyalahkan orang lain.

Persoalan kedua yang ingin saya tekankan adalah soal penegakan hukum. Bagi saya, persoalan ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Presiden yang akan datang harus memperhatikan soal ini secara serius. Misalnya, sekneg harus dibersihkan dari tikus-tikus di dalamnya.

Presiden juga perlu menunjuk kapolri yang bermental seperti pak Alm. Hoegeng Imam Santoso (mantan Kepala Polri) yang baru saja meninggal (14/07/2004). Jaksa agung dan pihak kehakiman yang akan ditunjuk harus betul-betul punya komitmen kuat untuk penegakan hukum. Demokrasi tidak mungkin berfungsi baik kalau aspek hukum tidak ditegakkan setegak-tegaknya.

Bagaimana soal ekonomi; bukankah demokrasi saja tidak akan mengenyangkan?

Itu juga sangat perlu. Demokrasi tanpa perbaikan sektor ekonomi, di tengah jeritan kelaparan, tidak akan bisa menjawab apa-apa. Oleh sebab itu, di samping soal penegakan hukum, kita juga perlu mencari orang-orang yang berjiwa nasionalisme tinggi untuk memegang sektor keuangan negara.

Kita butuh orang-orang yang nasionalismenya kuat, tapi juga tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga dunia dan negara lain. Kita punya orang-orang seperti itu, walaupun kita tidak perlu menyebut namanya.

Tentu tidak sekedar nasionalisme sempit, kan, Buya?

Nasionalisme sempit sudah tidak laku lagi sekarang ini. Di zaman serba global, dengan kampung-kampung elektronik yang semakin menghapuskan batasan antaranegara, tidak mungkin lagi kita menunjukkan nasionalisme sempit. Hanya orang gila saja yang mempertahankan nasionalisme sempitnya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.