Home » Politik » Internasional » Teror Paris dan Kata Putus Soal ISIS
Stop-it-fool-BA-Baracus

Teror Paris dan Kata Putus Soal ISIS

4.16/5 (58)

IslamLib – Hal yang membuat kagok dan paling tidak mengenakkan sebagai Muslim, tiap kali terjadi aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam—baik oleh ISIS maupun kelompok teror lainnya—seperti di Paris kemarin (13/11/2015) adalah bagaimana kita harus bersikap. Cara yang standar dan paling etis dan beradab tentulah dengan menunjukkan simpati kepada para korban seraya mengutuk siapapun pelaku aksi biadab itu.

Sangat kurang terpelajar dan tidak sopan rasanya bila kita mengait-ngaitkan kebrutalan di suatu tempat dengan kebrutalan di tempat lain—dengan menyontek cuitan orang pula—sebagaimana yang dilakukan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Bila anda pergi ke Paris dan ikut mengantarkan jenazah para korban kebrutalan semacam itu sambil bilang bahwa ini adalah akibat ulah kalian di tempat lain—seperti di Palestina atau negara Muslim lainnya—mungkin anda akan pulang tinggal nama.

Kita tentu mafhum dengan apa yang dimaksud Kang Aher, politisi Partai Keadilan Sejahtera itu. Dia ingin menunjukkan bahwa duka yang dialami orang-orang berbudaya di Paris sana tidaklah spesial bila dibandingkan dengan sengsara tak bersudah yang dialami orang-orang Palestina dan kawasan-kawasan Muslim yang nyaris kehilangan harapan akan kedamaian dan hidup berkeadaban. Dan kekacauan-kekacauan yang mereka alami itu tidaklah sepenuhnya lepas dari campur tangan negara-negara yang selama ini bertindak sebagai koboi dunia.

Kemunculan kelompok teror seperti ISIS yang mengklaim telah menegakkan Khilafah berdasarkan tatacara Rasulullah (al-khilafah ala minhaji al-nubuwwah) sejak 29 Juni 2014 lalu, tentu tidak terlepas juga dari dosa besar George W Bush yang menginvasi Irak di tahun 2003.

Invasi dan kesalahan-kesalahan strategis Amerika di Irak, tak pelak lagi telah meninggalkan kekacauan tak berujung dan ikut meratakan jalan bagi munculnya berbagai kelompok barbar semacam ISIS.

Situasi chaos dan berlarut-larutnya konflik Suriah sejak 2011, secara langsung mendatangkan lebih banyak petaka. Keinginan negara-negara seperti Saudi, Turki, dan Qatar untuk menjatuhkan rezim Bashar Assad dengan meminjam tangan ISIS dan milisi-milisi lainnya, tak pelak lagi telah ikut memungkinkan ISIS menjadi grup teror terkuat dan terkaya di dunia saat ini.

Saudi, Turki, dan Qatar mungkin masih berpikir bahwa baik ISIS maupun Jabhat al-Nusrah akan setia menjadi kawan seiring dalam menjalankan perang proxy mereka melawan Assad dan sekutunya, Iran. Namun dalam empat tahun yang sia-sia, alih-alih berhasil menjatuhkan Assad, yang tampak justru makin kacaunya keadaan dan tumbuhnya ISIS menjadi monster yang bahkan tak dapat dikendalikan lagi oleh tuan-tuanya.

Kita tidak tahu, sampai kapan tuan-tuan yang telah menggerakkan kaum muda militan dari berbagai penjuru dunia untuk mencari mati syahid di Suriah dan Irak itu akan sadar bahwa ISIS adalah kanker yang tak hanya berfungsi menggerogoti sel-sel Assad dan Iran, tapi justru akan mematikan bagi semua.

Selama tuan-tuan itu tak kunjung menyadari bahaya ISIS—baik bagi dunia Islam sendiri maupun bagi tatanan dunia yang beradab—seraya terus berfantasi akan dapat mengendalikan monster-monster kejam itu, dunia masih akan terus dalam bahaya.

Aksi-aksi terorisme dari orang-orang yang bosan hidup itu tak hanya akan mengenai Paris tapi juga menunggu giliran untuk menghamtam Ankara, Riyadh, maupun Doha—dan sebagian sudah.

Lalu apa yang bisa diperbuat dunia agar aksi-aksi itu dapat dibendung atau dikurangi?

Pertama, stop berfantasi bahwa negara-negara Muslim dan kaum Muslim moderat akan dapat membendung kaum muda militan Islam itu dari meledakkan diri. Jika Amerika, Inggris, Perancis dan dunia benar-benar ingin mengurangi produksi monster-monster seperti ini, tutuplah pabrik-pabrik dan keran-keran yang mengalirkan ideologi takfiri ke dalam diri mereka sejak dari ladangnya!

Ya, saya sedang membicarakan Saudi, ladang minyak yang menjadi bahan bakar Muslim militan. Paksa Saudi untuk melakukan reformasi, bukan memohon kaum Muslim moderat dan liberal untuk berapologi bahwa aksi-aksi tersebut bukan bagian dari Islam. Benar, aksi-aksi itu bukan bagian dari Islam secara umumnya, tapi ia bagian yang integral dari ideologi Wahabi-takfiri-Saudi yang dieskspor ke berbagai belahan dunia dengan kekuatan petro dolar.

Saya tidak mengatakan kalau ideologi lain—baik versi Islam Syiah ataupun versi yang sekular—tidak akan mungkin memproduksi monster-monster semacan itu. Namun dalam dua dekade terakhir, ideologi takfiri yang mendapat dukungan logistik Saudi inilah yang terbukti paling ampuh menginspirasi dan mendorong munculnya aksi-aksi terorisme.

Kaum Mullah Iran bukan tidak mampu mencetak robot-robot yang siap meledakkan diri seperti kaum militan al-Qaidah ataupun ISIS. Namun dalam dua dekade terakhir ini, kita nyaris tak mendengar lagi militan Syiah yang dengan bangga mencemplungkan diri ke dalam aksi-aksi seabsurd ini.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan sebagai bahan pelajaran: kenapa dan oleh sebab apa para militan Syiah itu tidak lagi tertarik memproduksi robot-robot yang bersedia meledakkan diri?

Kalau kita tahu sebab-musababnya, itu mungkin akan banyak membantu dunia dalam mengatasi aksi-aksi terorisme yang mematikan ini.

Kedua, kalau dunia benar-benar berkeinginan melenyapkan ISIS, paksa Saudi dan negara-negara yang menggunakan ISIS sebagai pion mereka dalam perang proxy di Timur Tengah untuk ambil inisiatif dan peran terdepan dalam penyelesaian masalah, bukan justru membuat masalah baru dengan meluluhlantakkan negara jirannya yang miskin papa: Yaman.

Jika Saudi tidak mau ambil bagian dalam menyelesaikan persoalan ISIS dan merebaknya kaum takfiri di berbagai belahan dunia, masukkan monarki absolut itu ke dalam axis of evil—istilah yang perlu untuk negara-negara yang menampik pentingnya tatanan dunia yang beradab!

Dunia kini tampaknya sudah harus memilih the lesser evil antara ISIS dan rezim Bashar Assad. Bagi mayoritas rakyat Suriah, ISIS mungkin dianggap sebagai setan yang kurang jahat dibandingkan rezim Assad. Namun bagi dunia, pilihannya sudah sangat nyata.

Rezim Assad sungguh kejam terhadap rakyatnya dan memicu tumbuh-kembangnya kelompok-kelompok semacam ISIS. Namun kemampuan Assad untuk menyakiti dunia jauh lebih terbatas dibandingkan ISIS yang bersifat borderless, tidak mengenal dan bahkan tidak mengakui batasan dunia.

Problemnya adalah: apakah Saudi, Turki, Qatar, dan kekuatan-kekuatan anti-Assad di kawasan mau mengakui kegagalan mereka dalam mendongkel Assad untuk lalu putar haluan menghabisi macan-macan yang mereka pelihara sendiri?

Jika mereka bersedia putar haluan, tentu persoalannya jauh lebih gampang. Namun bila mereka berkeras dengan pendirian mereka, rasanya dunia masih akan lama dirundung teror ISIS dan kader-kader penerusnya.

Ketiga, tentu tak ada makan gratis dalam percaturan politik internasional. Bila—dan andai saja—Saudi, Turki dan Qatar bersedia melepaskan ISIS, tentu tuntutan yang sama perlu diajukan kepada Iran, Rusia, dan mungkin Cina. Negara-negara pro-Assad tersebut harus legawa pula untuk ambil langkah guna menyelesaikan kekacauan di Suriah dan atau merumuskan Suriah pasca-Assad.

Persoalan Suriah mutlak harus dipahami sebagai sebuah paket yang kunci-mengunci dengan persoalan ISIS. Satu persoalan takkan dapat diurai bila persoalan lainnya terbengkalai.

Saya berharap, akan ada terobosan-terobosan penting dari para pemimpin dunia pasca-teror Paris ini. Timur Tengah tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi berada dalam kondisi kekacauan seperti dewasa ini. Dunia Islam sudah saatnya meneriakkan kifayah (cukup) kepada ISIS, atau Islam sebagai agama akan terus menjadi bahan cemoohan dan diasosiasikan dengan simbol keterbelakangan.

Dunia perlu segera mengambil kata putus, atau ISIS yang justru membuat harapan kita akan dunia yang tentram dan beradab kian pupus!

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.