Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Sains » Nirwan A. Arsuka: “Alquran Bisa Dianulir oleh Teori Ilmiah Baru”
Nirwan Ahmad Arsuka

Nirwan A. Arsuka: “Alquran Bisa Dianulir oleh Teori Ilmiah Baru”

4/5 (1)

Akan tetapi, dalam kenyataannya orang seperti Abdussalam terkucilkan dari komunitas Islam. Dalam arti, dia dianggap tidak mewakili Islam karena berasal dari aliran Ahmadiyah, misalnya. Bagaimana Anda menjelaskan gambaran umum secara lebih rinci tentang Islamisasi sains?

Kita mulai dari pandangan ortodoks, yang melihat kegiatan ilmiah murni sebagai kegiatan sekuler. Kegiatan yang mencoba mengurangi wilayah kekuasaan Tuhan karena kaum ortodoks melihat bahwa penjelasan yang menggunakan akal sehat terhadap keajaiban Tuhan tersebut telah mengambil alih peran Tuhan.

Misalnya peran Tuhan di situ yang sebenarnya bisa dijelaskan oleh rasio, justru mereka tolak secara total. Hal itu tidak saja berangkat dari pandangan bahwa dunia sains yang memang mereka tuding anti religius dan atheis, tetapi juga menolak hasil-hasilnya. Alasanya, menurut mereka, dianggap kegiatan dari perpanjangan yang tak bertuhan.

Pandangan tersebut semakin merosot didesak oleh kenyataan di mana kehadiran sains dan teknologi semakin tidak bisa dibendung. Juga dengan fakta melajunya iptek yang mampu menjelaskan hal-hal yang paling pragmatis seperti pemurnian air minum sampai ke hal-hal yang lebih vital seperti teknologi pembedahan otak yang disumbangkan oleh teknologi mutakhir ini. Mereka lebih terbuka, dan kita melihat bagaimana kelompok ortodoks ini kemudian beralih menjadi kelompok pragmatis.

Kelompok pragmatis ini yang mencoba menyerap buah teknologi sebanyak mungkin tetapi tetap mempertahankan pandangan religusnya, yakni bahwa pada dasarnya pandangan sains dan teknologi itu bukan islami. Itu kegiatan yang anti Islam karena memperkecil peran Tuhan.

Mereka ini yang kemudian bermetamorfose menjadi kelompok yang mencoba mengislamkan pengetahuan tersebut. Dan mereka berpikir; kalau sejumlah sejumlah asumsi-asumsi dasar itu diislamkan, maka akan memunculkan buah teknologi yang bersifat Islami.

Bagaimana sikap Anda sebagai penggiat iptek menyikapi kelompok pengusung islamisasi sains tersebut?

Menurut saya, pada awalnya pandangan ini sudah salah. Keinginan mengetahui yang ada di alam ini adalah dorongan naluriah dalam diri manusia karena tanpa itu tidak mungkin kita bisa bertahan hidup. Kalau kita tidak mengetahui hujan; bagaimana mengantisipasinya, bagaimana gejala-gejala ini bekerja, bagaimana kita menghindari dampak buruknya, maka tidak akan mungkin kita bertahan di tengah lingkungan yang terus berubah ini.

Memahami fenomena alam itu bukan kegiatan anti religius. Bagi kelompok pragmatis yang memperjuangkan islamisasi ilmu pengetahuan, pada dasarnya itu dianggap tidak Islami.

Cara berpikir itu harus dirombak. Saya tidak tahu bagaimana perombakan itu berlangsung, tetapi beberapa contoh menunjukkan bahwa apa yang disebut pengetahuan islami justru menjadi karikatur dalam perkembangan ilmu pengetahuan karena dasar-dasar teorinya sangat lemah, mudah dibantah, dan tidak cukup meyakinkan. Kalaupun islamisasi teknologi ini bisa memberikan sumbangan, itu terjadi pada pilihan-pilihan teknologi.

Memang kita perlu semacam etik yang bisa menjadi penuntun kita untuk melakukan pilihan-pilihan pada teknologi yang jumlahnya sangat banyak. Kemungkinan-kemungkinannya juga sangat besar dengan konsekuensi yang belum bisa kita tebak sekarang. Di situ khazanah religi bisa sangat menolong untuk membantu manusia melakukan pilihan-pilihan yang tepat.

Bukankah itu menunjukkan kontribusi positif agama terhadap iptek?

Yang saya harapkan, kita tidak hanya sampai di situ. Kita seharusnya tidak hanya pada policy, tetapi penciptaan teknologi dan pengembangan kultur teknologis dan ilmiah ini. Fungsi seluruh agama sebenarnya sama, dan tafsir yang terlalu literer terhadap ajaran Islam yang diimposisikan pada perkembangan ilmu pengetahuan, akan merugikan bukan hanya pada perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, tapi juga umat Islam.

Secara jujur kita harus katakan bahwa kita hanya menjadi parasit. Kita hanya memanfaatkan temuan orang, tetapi tidak memberikan kontribusi balik terhadap khazanah yang dikembangkan oleh ilmuwan cemerlang, yang dianggap tidak Islami.

Selain kelompok-kelompok yang Anda jelaskan di atas, orang seperti Abdussalam masuk kategori mana?

Jadi Abdussalam mewakili mereka yang terjun langsung dalam riset dan tidak apriori terhadap iptek karena memang mereka terlibat sendiri dengan kegiatan ilmiah ini. Hal ini tidak menyebabkan keberislaman mereka semakin merosot, tapi justru iman mereka semakin kokoh.

Mereka meyakini bahwa di balik fenomena alam ini ada sesuatu kekuatan yang bisa disebut Tuhan. Pemahaman mereka tentang Tuhan sudah berbeda dengan yang dipahami secara umum. Mereka lebih rendah hati, sebagaimana yang terjadi pada Abdussalam.

Namun di sisi lain, Abdussalam juga semakin percaya diri bahwa masyarakat muslim bisa kembali merebut posisinya sebagai kelompok yang memberikan kontribusi penting bagi pengetahuan dan kebudayaan manusia, dan juga bisa terus menerus mendamaikan antara pandangan religius sekaligus pandangan progresif terhadap perkembangan ilmu.

Karena —sebagaimana yang kita lihat pada perkembangan mutakhir bioteknologi— sudah kelihatan secara genetik bahwa seluruh manusia lebih banyak mempunyai persamaan ketimbang perbedaan. Perbedaan kita secara genetik hanya sekitar 0,0 %, sementara persamaan kita 99 % lebih. Perbedaan yang kita miliki secara esensial ini tak lebih dari produk-produk kebudayaan kita saja yang tidak punya landasan ilmiah sama sekali.

Kalau kita di Indonesia, ada buku yang ditulis oleh Maurice Bucaille tentang Sains dan Al-Qur’an yang membenarkan ayat-ayat Alquran yang sangat cocok dengan temuan-temuan sains.

Soal Maurice Bucaille ini, ketika pertama kali ia muncul sejumlah orang bersorak karena implikasi dari penjelasannya adalah Alquran sudah banyak berbicara sejak 14 abad sebelum penemuan-penemuan oleh ilmuwan cemerlang di seluruh dunia.

Tapi mereka lupa bahwa teori-teori ilmiah itu bersifat tentatif, setiap saat bisa diubah oleh teori yang lebih bagus. Kalau para pendukung Bucaille tetap berpatokan dengan mencantolkan ayat dengan teori ilmiah maka mereka merisikokan ayat tersebut untuk suatu waktu dianulir pada saat teori ilmiah tersebut difalsifikasi. Contoh yang paling tepat ialah tentang dzarrah yang dalam terjemahan Alquran Depag disebut sebagai sebesar biji sawi.

Teori atom, saat dimunculkan mekanika quantum dengan berbagai pakarnya, telah menjelaskan secara panjang lebar tentang struktur terkecil alam semesta ini. Teori baru itu sudah menunjukkan bahwa penyusunan alam semesta adalah building block, bukan lagi dzarrah.

Pendeknya, bukan sebuah partikel, tapi mungkin gelombang. Kalau kita mau konsisten dengan ini, maka ayat yang mendukung teori tersebut seharusnya juga sudah difalsifikasi. Sehingga, bagi saya, buku Bucaille ini cocok bagi mereka yang merasa rendah diri., tapi itu bukan cara yang sangat tepat untuk memajukan kultur ilmiah dan teknologi di masyarakat Muslim.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.