Home » Tokoh » Farid Esack
Farid Esack (Foto: enca.com)

Farid Esack

3.5/5 (2)

Anotasi Karya Intelektual

Untuk mengetahui pemikiran Esack, menurut hemat penulis, perlu dijelaskan perkembangan pemikirannya yang didasarkan pada karya-karya yang telah ditulisnya. Sebagai seorang intelektual-organik dan seorang aktivis cemerlang, Esack lebih dari cukup produktif dalam menulis banyak artikel ilmiah.

Oleh karena itu, penulis akan melakukan ulasan sederhana terhadap beberapa bukunya yang telah diterbitkan, yakni:

But Musa Went to Firaun!

Buku ini, secara lengkap, berjudul But Musa Went to Firaun!: A Compilation of Questions and Answers about The Role of Muslims in the South African Struggle for Liberation. Buku yang berukuran kecil ini diterbitkan oleh Clyson Printers, Maitland tahun 1989. Jumlah halaman buku ini hanya 84 halaman, memang tak terlalu tebal untuk ukuran buku pada umumnya. Buku ini berisi tanya jawab.

Buku ini tidak dilengkapi daftar isi, tapi secara umum terdiri dari 6 bab dilengkapi pengantar, pendahuluan, catatan penjelas dan glosari. Bab pertama berisi identitas muslim, kepentingan dan urgensi keterlibatan kaum muslim dengan realitas sosial di sekitarnya. Bab kedua berisi partisipasi, negosiasi dan konfrontasi.

Dalam bab ini, Esack banyak mengutip kisah perlawanan Nabi Musa terhadap penguasa tiran saat itu, Firaun. Adapun bab ketiga berisi tentang Islam, Iman dan Politik. Esack menekankan pentingnya politik sebagai medium untuk menyampaikan aspirasi serta mengubah struktur eksploitatif melalui prosedur-prosedur demokratis.

Pada bab empat, Esack menulis pentingnya kerjasama kaum muslim secara lintas agama (inter-faith) untuk melawan tirani atas nama apapun. Sedangkan bab lima, masa depan serta tujuan yang hendak dicapai diulasnya secara detail. Setelah menulis masa depan serta tujuan yang hendak dituju, Esack menandaskan tugas penting serta kewajiban yang harus dilakukan dalam bab enam.

Esack sebenarnya menulis buku ini untuk keperluan organisasi The Call of Islam yang waktu itu sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan ide-ide perlawanan terhadap rezim apartheid dengan mengutip kisah-kisah nabi masa lalu yang telah dihidangkan al-Quran dan disirahkan Nabi Saw.

Sebagaimana dinyatakan dalam kata pengantar, buku ini dimaksudkan untuk mencari ruh pembebasan untuk melepaskan diri dari penjajahan para tiran. Fatima Meer, aktivis perempuan yang memberi pengantar buku ini, mengidolakan revolusi damai di Iran yang dipelopori oleh para ulama.[36]

Fatima sangat percaya bahwa Islam sebagai esensinya adalah teologi yang sarat dengan nilai-nilai pembebasan. Dalihnya adalah Islam di dalam dirinya adalah seperangkat gugusan norma yang anti-penindasan atas nama apapun.

Quran Liberation and Pluralism

Buku yang diterbitkan oleh Oneworld Publication England pada tahun 1997 berjudul asli Quran, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity against Oppression ini telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa.

Dalam edisi bahasa Indonesia, para pencinta ilmu kita dapat memperolehnya berkat jerih payah Penerbit Mizan yang telah menerbitkan buku tersebut dengan judul Al-Quran, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan yang Tertindas (2000).

Dalam edisi bahasa Indonesia, buku tersebut dilengkapi surat Nelson Mandela dari penjara tentang kunjungannya ke makam Syaikh Madura.[37]Diterjemahkan oleh Watung Budiman, buku yang disunting Samsurrizal Panggabean dan Yuliani Liputo ini tidak jadi diberi pengantar oleh Samsurrizal Panggabean yang dikenal sebagai pemikir muda dari CSPS UGM Yogyakarta yang aktif mengamati Afsel.

Sewaktu mengisi diskusi tentang buku Quran Liberation and Pluralism sebelum edisi bahasa Indonesia terbit di FORMACI, Ihsan Ali-Fauzi menyatakan bahwa Rizal sedang menulis pengantarnya. Dengan demikian, para pembaca agak kesulitan menangkap konteks dan relevansinya dengan situasi di tanah air.

Dalam edisi bahasa Inggris, buku tersebut berisi pendahuluan, tujuh bab, dan kesimpulan serta dilengkapi apendiks, glosari, bibliografi dan indeks. Buku ini tidak sekadar merumuskan perspektif baru dalam hubungan antaragama, tapi juga meletakkan dasar bagi sikap yang obyektif dan kritis terhadap peganut agama yang sama.

Pemahaman agama yang lebih signifikan selalu datang dari pengalaman baru, ungkap Jonh Hick seolah ingin mengafirmasi titik balik pengalaman eksistensial Esack dari seorang minoritas yang tertindas menjadi seorang pemikir liberatif-progresif.[38]

Buku tersebut sampai saat ini diyakini sebagai magnum opus Esack. Dengan tawaran kunci-kunci hermeneutika bagi hadirnya al-Quran yang inklusif, toleran dan pluralis yang menjadi pokok-pokok ajaran Islam Liberal yang ditawarkan Charles Kurzman Esack berupaya mendobrak klaim kebenaran ekslusif suatu agama. Teologi pembebasan Islam yang ditawarkan Esack, kata Paul Knitter, sama mempesona dan menantangnya dengan teologi pembebasan Kristen dari Gutierrez.

On Being A Muslim

Buku yang ditulis Esack ini juga diterbitkan oleh Oneworld Publication Oxford tahun 1999 dengan judul asli On Being A Muslim: Finding a Religious Path in the world Today. Penerbit yang berpusat di Inggris ini terkenal dengan terbitan buku-buku yang ditulis oleh sarjana kelas dunia. Selain menerbitkan karya-karya Esack, Oneworld juga mempublikasikan buku-buku tentang studi Islam yang ditulis Montgomerry Watt, Mark R. Woodward, Richard Martin, Reynold Nicholson, Majid Fakhry dan lain-lain.

Buku ini terdiri dari pendahuluan, tujuh bab, kesimpulan dan dilengkapi catatan, bibliografi terpilih dan indeks. Ketika ia meluncurkan buku tersebut, sempat muncul tudingan dari sebagian akademisi yang menganggapnya terlalu hiperbolikal dan melodramatis dalam mengangkat kisah-kisah hidupnya. Memang benar bahwa Esack banyak mengisahkan pengalaman hidupnya dalam buku yang berjumlah 212 halaman.

Bagi Esack, setiap karya adalah cerminan dari otobiografi sang penulis. Dan buku yang ditulis setelah ia menerbitkan Quran Liberation and Pluralism ini memotret rangkaian perjalanan dan pengalaman hidupnya sebagai seorang muslim berhadapan dengan realitas sosial. Di sinilah titik balik pengalaman eksistensial Esack yang hidup di tengah struktur eksploitatif dan dominasi serta hegemoni rezim penindasan dieksplorasi secara mendetail dan lugas.

Buku ini memang mirip otobiografi intelektual yang merekam perjalanan panjang Esack yang lahir di masa pemerintahan apartheid, belajar di Pakistan yang sarat dengan penindasan terhadap kaum minoritas dan perempuan serta pengalaman melanglang buana di Eropa dan Timur Tengah.

Pada awal buku, Esack menulis bahwa buku ini lahir dari sejarah yang panjang (a long history),[39] sepanjang sejarah hidup pengarangnya sendiri. Jadi, ia tak ditulis ketika Esack menurunkan buah pemikirannya melalui sebuah pena di atas kertas atau ketika jari-jemarinya mengetik tuts demi tuts di atas keyboard komputernya, namun telah terjalin dalam rangkaian hidupnya.

Manifesto Pluralisme Al-Quran

Pada bab I buku Quran Liberation and Pluralism, Esack menjelaskan wacana pluralisme agama yang bertemu dengan praksis pembebasan yang konkret. Ia memahami pluralisme tak sekadar mengakui dan menghormati perbedaan.

Esack mencontohkan bila orang Jawa berdagang obat terlarang, orang Ambon juga berdagang obat terlarang, kemudian mereka membentuk kartel di Jakarta yang diperdagangkan ke Malaysia itu juga termasuk pluralisme. Nilai pluralisme dalam al-Quran ditujukan pada tujuan tertentu yang berujung pada humanisme universal.

Pluralitas agama, suku dan golongan adalah sunnatullah bila kita kembalikan pada al-Quran surat al-Hujurat: 13.[40] Pengertian pluralisme Esack mirip dengan Nurcholish Madjid yang membedakan pluralitas dengan pluralisme. Menurut Cak Nur, demikian beliau disapa, pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru mengesankan fragmentasi.

Ia juga tidak dipahami sebagai kebaikan negatif (negative good) sekadar untuk merontokkan fanatisme buta. Pluralisme adalah pertalian sejati kebhinnekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bonds of civility).[41]

Pada wilayah yang rawan konflik, pluralitas memang dimaknai sebagai sumbu perpecahan karena hilangnya faktor kepercayaan (trust) akibat pengelompokan segregatif atas dasar simbol agama dan kesukuan.

Di Maluku, pasien Kristen misalnya, enggan berobat kepada dokter muslim karena takut bukan diberi obat, tapi justru racun mematikan. Sebaliknya, sang dokter juga tak sudi mengobati pasien tersebut karena bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan, ia dituduh sengaja membunuh.

Padahal dalam al-Quran surat al-Maidah ayat 48 ditegaskan Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami tetapkan syariah dan jalan yang terang. Kalau seandainya Allah menghendaki, kamu dijadikan sebagai satu umat saja.

Namun Allah ingin menguji kamu mengenai hal-hal yang dianugerahkan kepadamu itu. Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kembali semuanya, lalu Allah akan menerangkan mengapa dulu kamu berbeda-beda.

Inilah yang menguatkan pluralisme sebagai fakta teologis, dimana barangsiapa menentang pluralisme berarti ia menentang kehendak Tuhan dan menyangkut soal agama sama sekali tidak ada paksaan di sana (la ikraha fi al-diin).[42]

Hal inilah yang sedari awal ditegaskan oleh Esack akan pentingnya menjalin solidaritas antaragama untuk pembebasan. Pluralisme dimaknainya sebagai modal awal bagi tumbuhnya gerakan interreligius yang meneriakkan semangat pembebasan bagi kaum yang tertindas. Sejarah para nabi ialah lembaran sejarah orang-orang tertindas.

Kata Esack, semua nabi datang dari kalangan tertindas, kecuali Nabi Musa yang dibesarkan di istana Firaun tapi kemudian berjuang bersama kaum tertindas melawan tiranisme Firaun. Pada umumnya, tantangan yang pertama kali muncul ketika utusan Tuhan menyampaikan dakwah, selalu datang dari para penguasa yang menari di atas penderitaan rakyat yang papa dan tertindas.

Uniknya, Esack mengartikan konsep mustadafun (kaum tertindas) secara elastis. Rakyat Palestina yang diusir dan diperlakukan semena-mena oleh Israel adalah tertindas. Namun Esack pernah duduk di hotel bintang lima di Paris. Di sana ada tiga orang Palestina yang duduk kemudian mengamuk pada seorang pelayan kulit hitam.

Maka yang menjadi penindas adalah tiga orang Palestina itu.[43] Penindasan inilah yang menjadi musuh bersama kemanusiaan, yang oleh Esack harus dilawan dengan praksis pembebasan yang berbasis pada pluralisme dan solidaritas antaragama (the basis of pluralism being postulated in the Quran is, one may say, liberative praxis). Inilah yang dimaksud Esack dengan proyek hermeneutika pembebasan al-Quran.


[1]Perspektif yang dipakai disini memang sangat kental nuansa postmodernismenya dengan pemilahan narasi besar (grand narasi) dan narasi kecil. Cara pandang oposisi biner semacam ini menjadi kritik postomodernis terhadap kreasi modernitas yang menegasi satu pihak untuk mengangkat pihak lain. Namun pemikiran Theodore Adorno mengritik kecenderungan periferi yang ingin membalik keadaan. Core-nya tetap ada, hanya ganti posisi. Bagi Adorno, kecenderungan posisional itulah yang harus ditiadakan karena cenderung tidak adil.

[2]Penulis sengaja memakai konteks lokal Afrika Selatan sebagai relasi penanda dan petanda (siginifiant dan signifier). Banyak pemikir Islam yang melakukan proses perkawinan antara ortodoksi dengan tradisi lokal di mana ia mengembangkan gagasannya. Thariq Ramadhan, cucu Hasan al-Banna, yang sedang menekuni filsafat Nietze di sebuah universitas di Jerman, juga berambisi menegakkan pemikiran Islam Eropa. Abdurrahman Wahid juga terkenal dengan pemikiran pribumisasi Islam yang meniscayakan akulturasi Islam yang dibawa dari Timur tengah dengan konteks lokal Indonesia yang sebelumnya telah dihuni budaya Hindhu Budha. Inilah yang oleh Cak Nur disebut sebagai budaya hibrida. Cak Nur bahkan mengatakan bahwa al-Quran sendiri banyak mengandung unsur non Arab dilihat dari kosakatayang ditampilkan. Lihat Orasi Ilmiah Nurcholish Madjid dalam Islamic Culrural Center, dimuat di Jawa Pos, Islam Agama Hibrida, 11-12 Desember 2001.

[3]Farid Esack, Quran Liberation, Op.Cit, dalam acknowlegement. Dalam makalah yang disajikan pada seminar tentang HAM dan Aplikasi Hukum Islam di Dunia Modern yang diselenggarakan Norwegian Institute of Human Rights (NIHR), Oslo, 14-15/2/1992, Esack juga mengawali tulisannya dengan perkataan ini. Setelah direvisi, kumpulan makalah dalam pertemuan tersebut dibukukan dengan judul Islamic Law Reform and Human Rights Chalenges and Rejoinders. Lihat Farid Esack, Spektrum Teologi Progresif di Afrika Selatan, dalam Dekonstruksi Syariah II, terj. Farid Wajidi, (Yogyakarta: LKiS, 1996), h. 189.

[4]Lihat buku Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan,terj.Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), terutama bab I, II dan III.

[5]Farid Esack, Negeri Ini Perlu Komisi Rekonsiliasi dan Kebenaran, dalam Tabloid Detak No. 132 tahun ke-3 April 2001, h. 26-27.

[6]Wawancara dengan Farid Esack. dalam http//www.tempo.co.id

[7]Farid Esack, Tabloid Detak, Op.Cit., h. 27.

[8]Ibid.

[9]Wawancara dengan Farid Esack, Op.Cit.

[10]Inilah kritik utama Karl Marx terhadap agama. Agama yang didukung agen agama (pastur, romo, kiai dan lain-lain) seringkali dijadikan alat kaum borjuasi untuk melanggengkan penindasan. Agama adalah candu karena merekomendasikan kesadaran palsu (false consciousness). Kritik Marx terhadap agama ini sebenarnya berdasar pada pemikiran Ludwig Feurbach tentang teori proyeksi ilutif.

[11]Aduk-aduk Tempat Sampah agar Bisa Makan, dalam Tabloid Detak,Op.Cit.

[12]Irwandi, Membaca Reception Hermeneutik Maulana Farid Esack, dalamSkripsi (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, tidak diterbitkan).

[13]Pernyataan Esack yang dimuat dalam wawancara dengan Tempo tersebut menarik disimak karena pandangan semacam ini jelas bertentangan dengan arus umum (mainstream) di kalangan umat Islam. Teologi dalam Islam lebih didominasi paham Asyariyah yang menekankan konsep tanzih(kemahakuasaan Tuhan), dan kurang menaruh perhatian pada konsep teologi keadilan dan cinta kasih Tuhan sebagaimana dipraktikkan kaum Mutazilah dan sufi. Karena dominasi konsep tanzih inilah yang kemudian mendorong umat Islam untuk melakukan sesuatu demi semata-mata melayani Tuhan. Padahal, seperti dikatakan Gus Dur, Tuhan tidak perlu diurus dan dibela. Lihat Abdurrahman Wahid, Tuhan Tidak Perlu Dibela, (Yogyakarta, LkiS, 2001).

[14]Wawancara dengan Farid Esack, Op.Cit.

[15]Farid Esack, Quran Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity against Oppression, (London: One World Oxford, 1997), h. 2.

[16]Ibid., h. 36 dan 47.

[17]Ibid.

[18]Wawancara dengan Farid Esack, Op.Cit.

[19]Lihat buku-bukunya, On Being Moslem, Quran Liberation and Pluralism atau bahkan makalahnya dalam seminar HAM Internasional di Oslo dalamDekonstruksi Syariah II, Op.Cit.

[20]Helen Suzman Foundation, Profile of Farid Esack, dalam[email protected].

[21]Irwandi, Op.Cit.

[22]Farid Esack, Quran Liberation, Op.Cit., h. 5

[23]Ibid., 4-5.

[24]Ibid., 5.

[25]Ibid.

[26]Irwandi, Op.Cit.

[27]John L. Esposito dan John O. Voll, dalam Demokrasi di negara-negara Muslim, terj. Rahman Astuti (Bandung: Mizan, 1995), h. 149 mencatat perkembangan menarik ini di mana kaum perempuan Pakistan bersatu padu menentang kebijakan diskriminatif Zia ul-Haq terhadap perempuan. Pada masa itu, muncul partai-partai dan asosiasi kaum perempuan seperti Perhimpunan Perempuan seluruh Pakistan (APWA), Perhimpunan Perempuan pengacara Nasional dan Forum Aksi Perempuan (WAF) dan lain-lain.

[28]Farid Esack, Spektrum Teologi Progresif, Op.Cit., h. 311.

[29]Selain The Call of Islam, sebelumnya di Afsel telah muncul organisasi Islam seperti Gerakan Pemuda Muslim (MYM) tahun 1957, Asosiasi Pemuda Muslim Claremont (CMYM) tahun 1958 dan lain-lain. Pada tahun 1970-an, muncul pula Asosiasi Mahasiswa Muslim (MSA) yang mendukung lahirnya al-Qibla. Sayangnya, kelompok dan gerakan Islam ini lebih terlihat didominasi kepemimpinan yang ekslusif dan konservatif.

[30]Farid Esack, Contemporary Religious Thought in South Africa and the Emergence of Quranic Hermeneutical Notion, Op.Cit., h. 214-223.

[31]Sebenarnya UDF bukanlah satu-satunya organisasi rakyat yang melakukan perlawanan terhadap rezim apartheid. Setelah Kongres Rakyat Afrika (ANC) yang didirikan pada tahun 1912 dibubarkan pada tahun 1962, gerakan anti apartheid mengalami lesu darah. Apalagi setelah para pimpinannya ditankap dan dihukum seumur hidup pada tanggal 11 Juli 1963 (Nelson Mandela dan Walter Sisula), gerakan anti apartheid mengalami demoralisasi hebat. Pasca-melemahnya ANC, muncul organisasi Black Consciousness yang meneruskan perlawanan terhadap rezim apartheid di Arika Selatan, meskipun pada ujung-ujungnya menghadapi represi dan pembung-kaman yang sama dari pemerintah.

[32]Gerakan-gerakan Islam ini sebenarnya memiliki semangat yang sama untuk melawan rezim apartheid. Hanya saja, mereka relatif ekslusif dan enggan bekerjasama dengan elemen di luar agama Islam. Padahal, kita tahu, komunitas Muslim menjadi minoritas di Afsel sehingga sulit menggalang perlawanan yang masif jika melupakan komunitas lainnya di luar Islam.

[33]Louis Brenner, Introdution, dalam Louis Brenner (ed.), Moslem Identity and Social Change in Sub-Saharian Africa (London: Hurst and Company, 1993), h. 5-6.

[34]Al-Quran dan Terjemahnya, Khadim al-Haramaian Raja Fadh. Diterjemahkan oleh Yayasan Penyeleng-gara Penterjemaentafsir al-Quran yang ditunjuk Menag dengan SK N. 26 tahun 1967. Yayasan ini diketuai Prof. Dr. RHA Soenarjo, SH. Anggota-anggotanya adalah Prof. Hasbi Asshiddiqi, Prof. Bustami Ghani , Muhtar Yahya, Toha Jahya Omar, Prof. Mukti Ali, KH Musaddad, KH Ali Maksum dan lain-lain.

[35]Farid Esack, Aduk-aduk Tempat Sampah, Tabloid Detak, Op.Cit.

[36]Fatima Merr, Foreword, dalam Farid Esack, But Musa Went to Firaun, (Maitland, The Call of Islam, 1989), halaman formalitas.

[37]Farid Esack, Al-Quran, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan yang Tertindas, terj. Watung Budiman,(Bandung: Mizan, 2000), h. 325-327.

[38]Ibid., pada kulit buku bagian belakang.

[39]Farid Esack, On Being A Muslim: Finding a Religious Path in the world Today, (Oxford, Onerworld Publication, 1999), h. ix.

[40] Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (Q.s al-Hujurat (49): 13).

[41] Nurcholish Madjid, Masyarakat Madani dan Investasi Demokrasi: tantangan dan Kemungkinan, Republika, 10 Agustus 1999. Budhy Munawar-Rahman, dalam bukunya Islam Pluralis: wacana Kesetaraan Kaum Beriman(Jakarta: Paramadina, 2001) h, 31, Cak Nur juga mengatakan hal yang sama.

[42]Rangkaian ayat di atas berawal dari sebuah kisah keluarga Yahudi di Madinah yang telah memeluk agama Islam. Di antara anak keluarga tersebut ada yang enggan masuk Islam sehingga memicu orang tuanya untuk melapor kepada Nabi Saw. Menurut Cak Nur, Nabi Saw sempat tergiur untuk menyarankan agar orang tuanya memaksa anaknya masuk Islam. Kemudian turunlah ayat tersebut. Lihat Nurcholish Madjid, Dalam Hal Toleransi, Eropa Jauh Terbelakang, Kajian Islam Utan Kayu, Jawa Pos, Minggu, 19 Agustus 2001.

[43]Farid Esack, Tabloid Detak. Op.Cit.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.