Home » Tokoh » Montgomery Watt
Montgomery Watt
Montgomery Watt

Montgomery Watt

4.38/5 (8)

IslamLib – Saya baru dengar kalau Prof. Montgomery Watt meninggal, sebagaimana antropolog Amerika, Clifford Geertz, dari seorang teman. Saya sedih mendengar kabar ini. Sudah lama saya ingin menulis sebuah buku tentang pendekatan yang dipakai oleh Montgomery Watt dalam mengkaji Islam. Entah kapan keinginan itu terlaksana, saya tidak tahu.

Saya menggemari buku-buku Watt sejak lama. Studinya terhadap sirah atau biografi Nabi sangat menarik. Sebagai seorang Muslim, saya melihat Watt menulis sejarah kehidupan Nabi dengan semangat bersahabat.

Seluruh buku tentang Islam yang ditulis Watt terbit dari semangat yang sama, yakni ingin mengulurkan tangan persahabatan ke dunia Islam. Watt melihat Islam dengan semangat ekumenis, kalau istilah ini boleh dipakai.

Salah satu kalimat yang selalu saya ingat dari Watt adalah ketika ia mengatakan di What is Islam?: jika Islam berarti ketundukan kepada suatu kebenaran ultim, kepada Tuhan sebagai sumber kebenaran itu, maka anda boleh menyebut saya sebagai Muslim (tentu dalam esensi). Saya tak ingat persis kalimatnya, tetapi kira-kira begitu.

Kajian Islam di Barat memang terus berkembang. Semula berkembang sebagai bagian dari polemik melawan Islam, kemudian berkembang menjadi salah satu “alat” untuk mendukung dominasi atas dunia Islam pada masa kolonialisme, dan sekarang berkembang lebih jauh sebagai bagian dari usaha masyarakat Barat untuk membangun saling pengertian antar kebudayaan umat manusia.

Watak kajian Islam di Barat kian lama kian simpatik terhadap dunia Islam, sementara konsepsi populer di dunia Islam tentang “orientalisme” (yaitu kesarjanaan Barat tentang dunia Timur, terutama Islam) stagnan, tetap tak berkembang.

Saya sungguh sedih melihat kontras antara dua hal ini: Sementara Barat maju dengan pesat lewat kajian tentang Islam dengan semangat yang kian simpatik, di dunia Islam sendiri nyaris tak ada perkembangan apapun berkaitan dengan usaha umat Islam untuk secara akademik mengkaji kebudayaan dan agama Kristen dengan semangat serupa.

Pada level yang sedikit populer, kontras ini kian menyedihkan. Sementara di pihak Barat lahir “penulis populer” seperti Karen Armstrong yang menulis beberapa buku yang simpatik tentang Islam dan sejarah Nabi Muhammad, di pihak Islam sendiri kita tak menemuka upaya serupa.

Sementara banyak umat Islam yang riang-gembira karena melihat ada seorang mantan biarawati (yakni Armstrong) menulis dengan simpatik tentang Islam, mereka sendiri lupa bahwa dari kalangan Islam tak ada upaya yang setimpal terhadap Kristen.

Saya sedih karena karya tentang Kristen dari pihak Islam yang populer di level akar rumput adalah buku-buku “polemik murahan” tulisan Ahmad Deedat dan buku-buku sejenis lainnya.

Tentu, sikap-sikap yang sinis terhadap Islam di Barat masih ada dan tetap bertahan. Sebagaimana sikap itu juga masih mengakar kuat di kalangan Islam. Tetapi, upaya-upaya untuk mengulurkan tangan dari pihak Barat terhadap dunia Islam kurang mendapat perhatian yang cukup, antara lain seperti karya-karya Montgomery Watt ini.

Dengan mengatakan ini, bukan berarti Watt tidak mengemukakan observasi yang kritis terhadap Islam. Watt terlibat dalam penerjemahan sirah Nabi yang termuat dalam karya raksasa Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk.

Dalam pengantar atas terjemahannya itu, Watt mengemukakan pandangan yang kritis terhadap sumber-sumber awal sejarah Nabi (baca “The History of al-Tabari: Muhammad at Mecca”, vol. VI). Tetapi kritisisme Watt ini tetap dalam semangat besar untuk mengkaji Islam secara simpatik.

Harapan saya, semoga uluran tangan Watt ini disambut dengan rintisan yang setimpal dari pihak Islam. Selamat jalan, Prof. Watt.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.