Home » Agama » Ateisme » Ateisme di Dunia Arab
Muhamad Ali dan Ulil Abshar-Abdalla dalam diskusi tentang Ateisme di JIL. (Foto: IslamLib)

Ateisme di Dunia Arab

4.6/5 (5)

Orang beragama salat tapi menyuap dan korupsi. “Jika ada, mengapa tuhan tidak menghentikan penderitaan manusia?” Mereka mengungkapkan ‘keraguan’ (doubt) terhadap agama seperti dalam teks dan perilaku orang beragama itu.

Untuk memahami apa itu ‘keragu-raguan’, Schielke mengutip Ludwig Wittgensteins On Certainty, yang menulis, “the questions that we raise and our doubts depend on the fact that some propositions are exempt from doubt, are as it were like hinges on which those turn.”  Sesuatu yang mereka tidak ragukan adalah trust atau kepercayaan pada kemampuan akal sendiri untuk menilai segala sesuatu.

Non-belief juga tidak selalu membawa protes moral. Bagi Layla, seperti diceritakan Schielke, yang hidup dalam keluarga yang tanpa agama, protes moral bukan isu penting. Baginya agama adalah sesuatu yang berada di luar eksotik.

Sejarah non-belief di Arab mengalami pergeseran penekanan, meskipun tetap ada dimensi moral, jelas Schielke. Darwinisme dan natural science memiliki peran penting dalam perdebatan Arab di pertengahan pertama abad ke-20. Sedangkan Marxisme dan komunisme berperan lebih besar pada pertengahan kedua.

Pada awal abad ke-21 ini, di Mesir khususnya, sains tidak sangat penting dalam perkembangan ateisme baru kaum muda ini karena sains relatif marjinal dan agama begitu kuat di sekeliling mereka. Perhatian pada ketidakadilan dan kontradiksi-kontradiksi kaum agama revivalis yang tidak memberikan janji-janji keadilan dan kebahagiaan tampaknya lebih kuat.

Schielke menawarkan teori sekulerisme yang menempatkan nonbelief  bukan sebagai kebalikan belief semata-mata, tapi nonbelief yang memiliki ontologisnya sendiri “social ontology of the secular”.

Pada Arab Spring dan kemudian Summer pada 2011 muncul kaum liberal dan kiri yang dituduh sebagai zanadiqah, kafarah atau mulhidun oleh kalangan Islamis. Tapi, pada 29 Juli 2011, mereka yang liberal dan kiri ini juga menjawab mereka Muslim: “I am a Muslim”, dijawab, “Me, Too”.

Schielke menyimpulkan, menjadi orang tidak beriman, bukan hanya bentuk tanggung jawab warga Negara (civil discipline) tapi lebih merupakan cara hidup subyektif di dunia yang memungkinkan ketidakberiman.

Seperti ia tulis, “the secular as a positive quality of belief, lived experience, and the underlying certainties in which these are grounded.” 

Kondisi seperti ini pernah terjadi di Arab masa lalu ketika menjamur puisi, filsafat rasional dan pertentangan doktrinal. Ada ruang tanpa nabi, meskipun tidak selalu di luar the divine. Tapi ini terutama dimasa klasik dan pertengahan. Di zaman moderen, the divine ditolak.

Mengapa Menjadi Ateis Di Dunia Arab Kontemporer. Banyak alasan mengapa orang Arab menjadi ateis, seperti juga alasan-alasan mengapa orang-orang non-Arab menjadi ateis. Misalnya karena kontradiksi akal pikiran dan sains dan kitab dan dunia supernatural, dan kontradiksi-kontradiksi antara klaim otoritas agama dan perilaku orang beragama.

Namun ada alasan-alasan lain yang unik di dunia Arab, seperti kekerasan kaum islamis radikal. Dar al-Ifta di Mesir mengakui bahwa kaum ektrimis, teroris, dan takfiri yang berbuat atas nama Islam, membuat citra Islam buruk dan membawa orang menolak Islam dan menjadi ateis.

Alasan lain adalah backlash, menolak agama karena Islam politik seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir, yang masuk ke dalam seluruh relung publik dan privat masyarakat.

Ateis Arab tinggal di tengah Mayoritas Muslim, gerakan-gerakan Islamis, dan pemerintahan yang otoritarian dan opresif.  Di banyak negara, seperti Saudi, Kuwait, Qatar, Yaman, dan Emirat Arab, ateisme yang diungkapkan di publik ‘illegal’ dalam hukum Negara dan masuk pada apostasi (irtidaad) yang dihukum mati karena dianggap merusak ketertiban sosial dan stabilitas negara. Orang yang dianggap menodai agama akan diadili atau tanpa diadili masuk penjara.

Brian Withaker, mantan editor Timur Tengah untuk the Guardian dan pendiri al-bab.com, dalam bukunya Arabs without God: Atheism and Freedom of Belief in the Middle East (2014), mendapati individu-individu ateis muncul ke permukaan melalui media sosial.

Tidak ada yang ia wawancarai menyebut terorisme dan jihadisme sebagai sebab mereka menjadi ateis. Mereka menjadi ateis lebih karena mereka menolak pilar-pilar Islam, seperti yang diajarkan guru-guru mereka di sekolah atau ulama-ulama pemerintah.

Prosesnya bertahap, bahkan bertahun-tahun melalui proses. Tidak ada yang menjadi ateis secara tiba-tiba; tidak ada momen “Road to Damascus” menjadi ateis. Alasan yang paling sering disebut adalah tidak fairnya ‘keadilan tuhan’.

Mereka yang menjadi ateis umumnya awalnya sangat religius atau tinggal di lingkungan keluarga dan sekitar yang religius. Lalu mereka mempertanyakan teisme.

“Dimana keadilan tuhan?”

“Masa’ neraka sepanjang masa padahal hidup cuma 70 tahun?”

“Saya beragama Islam karena lahir di Timur Tengah, kalau saya lahir di India maka saya akan menyembah sapi. Jadi bukan pilihan. Arab Atheist” menulis twits “mengapa non-Muslim yang baik, dihukum Tuhan?”

“Mengapa suami boleh memukul istri”

“Mengapa masih ada perbudakan dalam Al-Qur’an?”

Lalu mereka menolak teisme, Al-Qur’an, Nabi, dan agama-agama secara umum. Lalu sebagian mereka menyatakan keluar dan menjadi ateis. Mereka yang menjadi ateis, umumnya dari kalangan terdidik, sastrawan, saintis, aktifis LSM, baik laki-laki maupun perempuan.

Perempuan paling sering merasakan diskriminasi dan kekerasan, dan mereka yang paling mungkin keluar dari agama yang patriarkal itu. Namun karena kuatnya tekanan sosial dan politik, maka sulit untuk terbuka.

Salah satu perbedaan ateis di Arab dan di barat pada umumnya adalah bahwa argumen-argumen sains tentang evolusi dan asal usul alam semesta, faktor yang sangat penting di ateisme barat, memainkan peran kecil saja dalam membuat orang Arab menjadi ateis, di masa-masa awal abad ke-20.

Salah satu sebabnya, tidak seperti dalam Kristen di barat, kesesuaian agama dan sains tidak begitu dipermasalahkan umat Islam. On the Origins of Species (1859) karya Charles Darwin mendapat respons yang bermacam-macam di Arab. Namun memang, sejak tahun 1970an, konservatisme agama dan Islam politik menolak teori Darwin sehingga sekolah dan universitas takut untuk membaca dan mendiskusikannya.

Ilmu pengetahuan pun menjadi bagian dari agama, dan karena agama dan politik sulit dipisahkan, maka kritik terhadap agama dianggap kritik terhadap politik dan rejim politik yang berkuasa.

Saat ini orang-orang Arab yang menolak agama terlalu kecil jumlahnya untuk membuat ancaman nyata bagi rejim-rejim di Arab. Namun, ateis yang tidak visible sebelumnya menjadi makin visible dan menyebar di dunia Arab melalui dunia maya internet and media sosial.

Respons Teistik Muslim terhadap Ateisme Arab. Jika Al-Quran dianggap sejarah alam pikiran sebagian Arab pada dan paska Muhammad, maka ateisme dalam arti paham tidak adanya Tuhan bukanlah audiens (mukhatab) pesan Al-Quran. Misi utamanya adalah tauhid melawan syirk dan ahlul kitab yang dianggap menyimpang dari tauhid.

Surat 45:24 sering dikutip untuk merujuk ateisme,”Dan mereka berkata,’Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’;  dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan itu, mereka tidak lain hanyanya menduga-duga saja.”

Menurut penafsiran yang umum, ayat ini tidak menyatakan ada ateis ketika itu, tapi menunjukkan bahwa orang-orang Arab ketika itu percaya bahwa bangun dan runtuhnya sebuah bangsa tidak ditentukan moralitas yang diturunkan Tuhan, tapi ditentukan nasib atau masa belaka.

Meskipun ayat ini tidak bisa dikutip untuk mendukung pendapat bahwa ada ateis pada waktu itu, konsep tauhid dalam Al-Qur’an dianggap secara jelas menolak ateisme. Secara implisit, menurut pandangan ini, Al-Qur’an menolak ateisme karena  negasi dalam la ilaa ha, tidak ada tuhan, tidak berhenti di situ tapi ada afirmasi ‘illa llah’, kecuali Allah.

Namun demikian, karya-karya Muslim di Arab tentang ateisme baik di Barat maupun di Arab, lebih terfokus pada labelisasi al-ilhad dalam arti yang beragam itu, seperti kitab Wahm al-ilhad oleh Amru Syarif, Tathir al-I’tiqad min Adran al-Ilhad tulisan Muhammad bin Ismail al-Amir al-Shan’any, dan Kahanah al-Ilhad al-Jadid tulisan Hisyam Ali Surur.

Beberapa kitab lain yang lebih kontemporer mencoba mengkaji fenomena ateisme baru, seperti Thaqāfatunā al-ʻArabīyah bayna al-īmān wa-al-ilhād: munāzarah bayna Fīliks Fāris wa-Ismāʻīl Adʹham karya Ismat Nassar (2000); al-Mulḥidūn al-judud wathāʼiq khaṭīrah, maʻlūmāt muthīrah ʻan ahamm qaḍāyā izdirāʼ al-adyān karya Jamal ʻAbd al-Raḥīm (2001), al-Islām wa-al-tayyārāt al-ilhādīyah al-muʻāsirah karya Muhammad Ahmad ‘Uzayri (2001). Kitab-kitab ini reaksi terhadap munculnya ateisme baru itu.

Di kalangan penolaknya, ateisme sering dikaitkan dengan sekulerisme (ilmaniyyah), Marxisme, komunisme, kebebasan, dan chaos sosial politik. Bagi Yusuf Al-Qardawi, misalnya, ajakan kepada sekulerisme adalah ateisme.

Bagi kaum Salafi garis keras, sekulerisme disamakan dengan ateisme. Bagi pemerintah Saudi, ateisme adalah terorisme. Dar al-Ifta Mesir, misalnya, membagi ateis ke dalam tiga kelompok: mereka yang tidak menolak Islam tetapi menolak Islamisasi politik dan mempromosikan negara sekuler; mereka yang menolak agama secara total; dan mereka yang pindah agama selain Islam.

Kementerian Mesir bersama Al-Azhar membuat program untuk melawan “ekstrimisme dan ateisme”. Mereka ingin membekali anak muda dengan “jawaban-jawaban saintifik terhadap klaim-klaim ateistik”. Ateisme dianggap menjadi masalah keamanan nasional, karena jika mereka melawan agama, mereka sedang melawan segala sesuatu.

Di sisi lain, di Mesir, televisi menyiarkan talk show ulama dan ateis, dimana pewancara bertanya mengapa mereka menolak agama dan ulama menyebut alasan problem personal dan anak muda yang membuat mereka ateis.

Kesimpulan. Itu artinya individu dan kelompok ateis di Arab atau keturunan Arab yang saat ini tinggal di Eropa dan Amerika melakukan respons-respons mereka terhadap lingkungan sosial dan politik yang sarat Tuhan dan agama-agama.

Kata yang paling populer ilhad, yang awalnya digunakan oleh orang beragama secara pejoratif terhadap setiap bentuk penyimpangan dari agama, diambil dan digunakan kaum ateis sendiri untuk label mereka, bahkan sampai sekarang.

Pada masa klasik dan pertengahan, ilhad ini meliputi berbagai bentuk ‘penyimpangan’ meskipun pada umumnya kritik terhadap kenabian ketimbang eksistensi ketuhanan.

Alasan dan faktor yang membuat ateis cukup kompleks dan tergantung masing-masing pribadi, mulai dari kekecewaan pada agama seperti yang diajarkan dan diperilakukan keluarga, masyarakat, ulama, maupun rejim politik, sampai pada keinginan terus menerus untuk mencari kebenaran-kebenaran rasional dan saintifik tentang segala sesuatu, tidak menyisakan peran Tuhan dan agama-agama yang ada, sedikit saja atau bahkan sama sekali.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.