Home » Agama » Ateisme » Julia Suryakusuma: “Saya tidak Percaya Agama, tapi Percaya Tuhan”
Julia Indiati Suryakusuma (Foto: youtube.com)

Julia Suryakusuma: “Saya tidak Percaya Agama, tapi Percaya Tuhan”

4.32/5 (19)

Bagaimana Anda menanggapi fenomena bangkitnya agama sebagai identitas yang kadang-kadang bertabrakan dengan identitas “yang lain” itu?

Menurut saya, ini bagian dari gejala sosiologis, tepatnya gejala sosial-politik. Jadi ini bukan gejala religius.

Jadi tidak terkait dengan agama sama sekali?

Tergantung kita mengartikan agama sebagai apa, karena agama bisa diartikan sangat luas, baik sebagai medium peningkatan spiritualitas maupun sebagai identitas kelompok atau institusi.

Saya pribadi mengatakan, saya tidak terlalu percaya pada agama. Yang saya percayai adalah Tuhan. Mungkin akan banyak orang yang marah dengan pernyataan seperti ini.

Tapi saya juga sudah jauh dari periode ateis. Jauh sekali. Dan perlu kita ingat, orang ateis itu sebetulnya secara diam-diam juga percaya Tuhan, cuma malu-malu saja. Atau dia sedang menguji keyakinannya sendiri.

Adakalanya, tipe orang yang mengklaim ateis itu seperti itu, meski tidak semua. Tapi saya kira, jenis ateisme yang pernah ada dalam diri saya adalah tipe itu. Makanya, agama itu bagi saya sebetulnya alat saja; alat kultur, alat politik, dan lain-lain. Wah… kita bisa melihat gejala ini sangat jelas sekali di Indonesia dewasa ini.

Anda melihat itu negatif, positif, atau menyesalkannya, karena potensial berdampak buruk?

Sebagai pribadi, tentu saya menyesalkan itu, karena saya hanya percaya pada kemanusiaan dan ketuhanan. Kemanusiaan itu ‘kan bagian dari hal yang sama antara kita. Kita semua berasal dari sumber yang sama.

Yang namanya manusia, apapun warna kulitnya, dari manapun asalnya, sebetulnya sama-sama berasal dari Tuhan. Makanya, yang saya percayai hanya kemanusiaan dan ketuhanan itu.

Anda tadi mengatakan tidak terlalu percaya agama, tetapi percaya Tuhan. Dalam pandangan umum, agama dan Tuhan itu satu-serangkai. Bagaimana Anda menjelaskannya?

Agama menurut saya adalah wahana menuju Tuhan. Jadi dia sarana saja. Memang, sampai sekarang cara saya melakukan kegiatan spiritual masih belum bisa diterima lingkungan keluarga. Rasanya memang masih ada yang ngeganjelgitu.

Tanpa terlalu mempercayai agama, bagaimana Anda sampai kepada Tuhan, dan kepada Tuhan yang mana Anda sampai?

Saya kira, mungkin Tuhannya sama dengan Tuhan Anda, ha-ha. Saya yakin, Tuhan kita sama, cuma penghayatan kita yang berbeda-beda. Saya pribadi, barangkali pencariannya bersifat eksistensial.

Setelah menjadi ateis, saya berkenalan dengan Christian Science, terus juga salat, kembali kepada ajaran keluarga saya yang tidak terlalu fanatik seperti kakek dan nenek. Dari situ saya lalu belajar sosiologi di Inggris, kemudian belajar marxisme, dan menjadi marxis. Saya memang tidak terlalu memikirkan soal ketuhanan waktu itu.Pada tahun 1982, diam-diam sebenarnya saya terus mencari Tuhan. Di tahun itu saya berkenalan dengan Brahma Kumaris, sebuah kelompok spiritual dari India. Ini adalah organisasi spiritual yang berbasis di India, dan aktif melakukan kampanye perdamaian dan kemanusiaan di dunia.

Dan itu satu-satunya organisasi spiritual yang dipimpin perempuan. Saya lupa memberi tahu kalau saya lahir di India, dan saya percaya pada karma dan reinkarnasi. Jadi mungkin bukan suatu kebetulan kalau saya kembali ke tradisi itu.

Mbak Julia, Anda sudah berjumpa dengan banyak tradisi agama dunia. Lalu apa yang Anda simpulkan dari pelbagai perkelanaan itu?

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa agama itu muncul ketika spiritualitas menurun. Jadi, tepat ketika keimanan dan kedekatan manusia kepada Tuhan sudah melenceng ke mana-mana. Jadi agama itu diciptakan –saya tidak tahu, tepatnya diturunkan atau diciptakan– untuk memberi suatu wahana menuju spiritualitas itu tadi.

Tapi sayangnya, agama juga kemudian menjadi berhala. Jadi agamanya yang disembah, dan Tuhannya sudah ke mana tahu. Saya sangat prihatin melihat gejala keberagamaan seperti ini, bukan hanya di luar negeri, tapi juga di sini.

Coba pikirkan, bagaimana kita menafsirkan orang-orang yang mengatasnamakan tuhan untuk merusak dan melakukan hal-hal yang sarat dengan kekerasan itu?!

Ini mungkin soal fanatisme beragama. Apa inti fanatisme itu menurut Anda?

Sebetulnya fanatisme itu ada di mana-mana, tidak hanya dalam bentuk agama, tapi juga ras, ideologi, dan lain-lain. Inti fanatisme itu tidak percaya diri. Mereka yang terjebak fanatisme buta tidak yakin diri soal siapa dia sebenarnya.

Orang yang begitu, biasanya mesti gembar-gembor, menjelekkan dan menyalahkan orang lain, dan lain sebagainya. Kalau seseorang punya self- esteem, harga diri yang kuat, dia tidak akan perlu menjelekkkan orang lain dan tidak perlu merusak.

Setelah berkelana sedemikian rupa dalam ranah spiritualitas, apa definisi yang tepat untuk diri Anda?

Kalau saya ditanya apakah beragama Islam, saya memang Islam KTP. Saya kira, banyak orang Indonesia yang seperti saya. Mungkin definisi yang tepat untuk diri saya adalah seorang spiritualis, dan saya senang menyebut diri seperti itu. Saya sangat percaya Tuhan. Jadi ingat, Tuhannya tidak lagi pakai lima waktu, tapi setiap saat.

Apa ritual yang Anda lakukan?

Saya melakukan meditasi. Itu terus saya lakukan, dan yang pasti setiap pagi. Saya bangun jam lima pagi untuk melakukan meditasi dan doa sekitar setengah atau satu jam. “Perjumpaan” dengan Tuhan itu bagi saya anytime. 

Kalau saya lagi bingung, saya kembali ke Tuhan. Biasanya, kalau sudah begitu saya merasa diberi jalan. Saya merasakan Dia betul-betul dekat dan rasanya bisa diajak berdialog. Saya bicara ini bukan lagi sebagai sosiolog, tapi pribadi dengan pengalamannya. Itulah yang saya rasakan.

Kalau boleh bertanya agak pribadi, Anda merasakan damai dengan begitu?

Sangat damai. Saya melihat Tuhan di mana-mana. Sebetulnya kedamaian itulah inti Islam. Dan kalau saya cek pengalaman saya ke teman saya, Neng Dara, dia selalu saja bisa menemukan ayat atau sitiran dari penggalan kisah para sufi yang mendukung pengalaman serupa.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.