Home » Agama » Inspirasi Toleransi dari Mamasa
Kantor BPMS-GTM Mamasa (Foto: Dokumen Interseksi)

Inspirasi Toleransi dari Mamasa

4/5 (5)
pasar

Suasana di salah satu sudut pasar Mamasa (Foto: Dokumen Interseksi)

Di wilayah kota Mamasa, setidaknya terdapat empat gereja besar. Pertama, Gereja Beatrik, gereja terbesar kedua yang berada di pusat kota, dekat simpang lima Mamasa. Kedua, Gereja Masako atau jemaat Mamasa Kota, gereja dengan jemaat terbanyak di Mamasa, letaknya bersebelahan dengan lapangan bola dekat pasar Mamasa. Ketiga, gereja Buntubuda yang sangat megah terlihat dari simpang lima Mamasa. Gereja ini tampak seperti berada di kaki Gunung Mambuliling. Sementara gereja terbesar di Mamasa adalah “Gereja Tawalian” yang berada di Kecamatan Tawalian, sekitar 20km dari ibukota Mamasa. Gereja ini usianya sudah lebih dari satu abad. Inilah gereja tertua di Mamasa yang sudah berdiri sejak zaman kolonial Belanda.

Tidak ditemukan data sahih yang secara formal dikeluarkan BPS Kabupaten Mamasa mengenai data pemeluk agama di Kabupaten Mamasa. Namun menurut beberapa sumber, terutama data dari Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Toraja Mamasa (BPMS-GTM) Kabupaten Mamasa menyebutkan bahwa sekitar 75 persen warga Mamasa merupakan pemeluk Kristen Protestan, 20 persen pemeluk Islam, 5 persen lainnya merupakan penganut Katholik dan pemeluk agama lokal atau lebih dikenal sebagai “Moporondo” serta pemeluk agama dan kepercayaan lainnya.

“Di sini mayoritas penganut Protestan sekitar 75 persen dan sebagian besarnya tergabung dalam jemaat Gereja Toraja Mamasa (GTM) yang memiliki 579 jemaat-gereja dengan sekitar 135.000 ummat di wilayah Kabupaten Mamasa,“ ucap Pdt. Marsono yang saat ini memimpin gereja Buntubuda.

Meskipun ada kelompok agama yang dominan, yaitu Protestan namun kehidupan keagamaan di Mamasa sangat kondusif dengan tingkat toleransi sangat tinggi. Sejumlah pendatang dari luar Mamasa, terutama yang berasal dari Jawa yang sebagian besar merupakan penganut Islam sangat terkesan dengan suasana Mamasa yang damai dan toleran.

“Warga Mamasa sangat toleran, bahkan kita para pendatang merasa sangat dihargai di sini. Kami membangun masjid mereka juga saudara-saudara ummat Kristiani turut menyumbang,” ujar Mad Jaiz, salah seorang tokoh muslim asal Lamongan.

Toleransi Tingkat Tinggi. Pendeta Yusuf Arta, Sekretaris BPMS-GTM menyebutkan bahwa kehidupan agama di Mamasa pada dasarnya sangat baik, meskipun harus diakui bahwa masih ada potensi yang menyimpan ketegangan ketika ihwal agama disangkutpautkan dengan politik seperti politisasi agama pada saat pemekaran wilayah dan Pemilukada.

Menurut Yusuf Arta, toleransi ummat Kristiani sebagai mayoritas di Kabupaten Mamasa sangat tinggi. Dalam hubungannya dengan toleransi beragama di Mamasa, Yusuf Arta bercerita jika ada kenduri atau kematian di kalangan orang Islam, warga Kristiani juga datang dan turut membantu hingga pemakamannya, demikian juga sebaliknya.

Meskipun mayoritas orang Mamasa merupakan penganut Kristiani, tapi belum pernah ada ceritanya pelarangan pendirian masjid atau rumah ibadah lainnya di Mamasa. Padahal, kalau mengacu pada Surat Keputusan Bersama atau “SKB” Tiga Menteri, misalnya, rumah ibadah hanya bisa berdiri kalau ada minimal 45 KK dan mendapat persetujuan dari warga sekelilingnya. “Kita sebagai penganut agama mayoritas di sini tidak pernah mempermasalahkan itu,” ujar Yusuf Arta.

Haji Muhammad Jaiz, imam masjid Nurul Yakin yang sedang dipersiapkan menjadi Masjid Agung Mamasa membenarkan penjelasan Pdt. Yusuf Arta. Menurut Mad Jaiz –sapaan Muhammad Jaiz– warga Mamasa bukan saja memiliki tolerasi yang tinggi namun lebih dari itu memiliki empati satu sama lain.

“Selama 16 tahun saya di Mamasa tidak pernah ada konflik bernuansa agama. Menurut saya, Mamasa itu contoh yang baik dalam hal bertoleransi. Di sini saya belajar memahami dan saling menghargai sikap serta pendirian orang lain,” ujarnya. Hal senada juga diungkapkan Haji Aqiba, salah seorang tokoh, tetua muslim Mamasa keturunan Bugis-Toraja.

Menurut Aqiba, sejak lama keberadaan warga Kristiani dan warga Muslim di Mamasa sudah seperti saudara. Menurut Aqiba, toleransi beragama di Mamasa dapat menjadi contoh yang baik untuk daerah lain di Indonesia. “Siapa pun yang mau belajar bagaimana toleransi yang baik, datanglah ke sini, ke Mamasa,” kata Aqiba.

Camat Mamasa, Labora Tandipuang menyebutkan bahwa kuatnya toleransi antar umat beragama di Mamasa setidaknya karena tiga hal. Pertama, peran pemerintah yang memfasilitasi kerjasama antar-umat melalui forum komunikasi umat beragama (FKUB).

Kedua, karena banyaknya perkawinan silang antara para pemeluk agama yang berbeda. Ketiga, adanya peran adat yang turut mempersatukan warga sebagai satu keluarga. Senada dengan itu, Nanni Suarni, Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Mamasa menceritakan hal serupa. Menurut Nanni, kehidupan keberagamaan di Kabupaten Mamasa menunjukkan toleransi yang amat tinggi.

BKMT sering mengadakan kegiatan lintas-iman, seperti: saling undang, saling bantu menjadi panitia keagamaan, panitia bersama hari jadi kabupaten, dan beragam kegiatan sosial seperti gotong-royong dalam penanganan bencana serta kegiatan sosial lainnya.

Menurut Nanni, hubungan antarpemeluk agama di Kabupaten Mamasa terjalin dengan sangat erat. Banyak diantara warga Mamasa yang meskipun memiliki keyakinan agama berbeda tapi mereka sebenarnya masih merupakan satu keluarga besar yang memiliki pertalian darah. “Toleransi beragama di sini telah menjadi semacam keniscayaan karena kami di sini merupakan satu keluarga besar,” ujar Nanni. (Sofian Munawar Asgart)

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.