Home » Agama » Kristen » Ioanes Rakhmat: “Kelahiran Yesus Mengandaikan Harapan”

Ioanes Rakhmat: “Kelahiran Yesus Mengandaikan Harapan”

3/5 (1)

Tapi menurut amatan saya, walau tidak ikut ritual Natalnya, banyak sekali umat Islam yang tidak keberatan mengucapkan selamat Natal!

Ya. Contoh yang saya dengar adalah Ibu Nani. Dia adalah seorang muslimah yang bisa bergaul dengan banyak orang non-muslim. Dia juga termasuk orang yang setiap tahun memberi ucapan selamat pada umat Kristen yang sedang merayakan Natal.

Sekali-sekali, dia pernah juga diundang hadir di acara Natal keluarga tertentu. Saya kira, respon Ibu Nani pada kasus itu bagus. Dia menyatakan kalau dia bisa bergaul dengan banyak orang yang tidak seagama, dan yang lebih penting, dia bisa menikmati dan merayakan pluralitas di dalam kehidupan ini.

Lebih dari itu, dia yakin kalau sikapnya itu tidak akan mengguncang iman dan melenyapkan jati dirinya. Saya kira, orang yang sudah bisa bersikap seperti ini, taraf kematangan religiusnya sudah berada di atas rata-rata orang kebanyakan.

Saya mendukung sikap seperti itu. Saya juga percaya, makin dewasa seseorang di dalam beragama, ia akan makin terbuka untuk bisa menerima siapapun yang berbeda. Bahkan, orang jenis ini dapat membangun kehidupan yang sangat menghargai keragaman agama-agama.

Nah, Natal sebenarnya juga menyediakan kesempatan bagi umat Kristen untuk meluaskan lingkungan pergaulan dan praktik kerjasama dengan setiap orang yang berbeda agama.

Di perjumpaan itulah kita bisa sama-sama mengamalkan misi pembebasan sosial. Ringkasannya, saya kira semua agama bermuara pada cinta kasih. Mengaktualkan semangat kasih sayang itu saya kita ukuran yang paling mutlak dalam beragama.

Anda merasa bahwa etika sosial semacam itu dapat menghimpun dan mempertemukan orang-orang lintasagama?

Saya kira, kalau kita hidup beretika atau bermoral, kemungkinan untuk bisa bertemu dengan umat-umat beragama lain memang lebih besar. Tapi kadang memang ada saja orang yang menganggap hal-hal tertentu sudah masuk pada wilayah kultus, ibadah/ritual.

Kalau sudah masuk wilayah itu, membuat orang bisa saling menerima dan mengambil bagian memang jauh lebih sulit. Seorang Kristen mungkin akan sulit sekali atau malah tidak mungkin bisa ikut melaksanakan salat lima waktu seperti umat Islam.

Itu merupakan keunikan atau kekhasan ibadah umat muslim. Sebaliknya, saudara-saudara muslim juga akan keberatan untuk ambil bagian dalam ibadah Natal. Itu hal yang wajar.

Setahu Anda, apakah orang Kristen pernah keberatan mengucap selamat Idul Fitri kepada umat Islam?

Soal mengucap selamat itu, baik bagi yang Islam maupun yang Kristen, saya kira sudah dianggap mencakup beberapa aspek. Pada aspek hubungan sosial, kita tak akan merasa terhalang untuk mengucapkan sesuatu kepada orang yang merasa gembira dengan sesuatu itu.

Tindakan itu juga tidak otomatis berarti ikut mendukung dogma atau akidah orang yang kita ucapkan selamat. Umat Kristen tidak keberatan melakukan itu.

Sebaliknya, tentu saja saya juga sangat berharap umat Islam tidak keberatan mengucap selamat Natal kepada saudara-saudaranya yang Kristen. Syaratnya tentu tidak harus dengan mengiyakan doktrin Kristen tentang siapa itu Yesus.

Tindakan kecil seperti itu, bagi saya hanya bagian dari upaya menjalin hubungan sosial yang lebih erat dan kuat. Dan saya berandai, kalau dalam masyarakat antaragama sudah terjalin hubungan yang kuat, tentu persatuan dan kesatuan bangsa dalam skala nasional juga akan lebih kuat.

Ngomong-ngomong, bagaimana suasana psikologis umat Kristen kalau mendengar fatwa umat Islam dilarang mengucapkan selamat Natal?

Itu saya kira hanya akan menciptakan suasana keterasingan. Di situ jarak sosial kembali dibangun. Tapi soal ini memang harus dibicarakan secara simpatik bersama-sama para pemikir dan ulama Islam. Sebab saya belum tahu inti terdalam dari pelarangan itu.

Tapi saya rasa, dalam level hubungan sosial, di luar aspek akidah, setiap agama meminta umatnya untuk membangun hubungan yang harmonis, manusiawi, dan berisi anjuran untuk saling topang-menopang dalam kebahagiaan.

Apa makna Natal dalam situasi sosial-keagamaan di Indonesia belakangan ini?

Yesus itu disebut lahir dari ruh. Itu bisa kita lihat rujukannya dari Perjanjian Lama. Allah sebagai ruh bekerja, dan Dia mencipta sesuatu dari yang tiada menjadi ada; persis seperti ketika mencipta alam semesta. Nah, ruh itu bekerja lagi dan hasilnya adalah kandungan Maria berupa bayi Yesus.

Itu beritanya sama dengan adanya Yesus di dunia ini. Allah sedang bekerja untuk melahirkan sebuah umat yang baru; umat yang dilepaskan dari situasi yang menjajah mereka.

Jadi, aspek kelahiran itu mengandaikan harapan perbaikan, pembebasan, pemulihan, dan kemerdekaan dari segala situasi yang memperbudak. Kalau paham seperti itu yang menjadi titik tolak Natal—sebagai perlawatan Allah untuk mendatangkan kebebasan bagi orang-orang yang terjajah, tertinggal, miskin, terbelakang, buta huruf, dan tidak bekerja—saya kira semua agama bisa bersama-sama mendukung realisasi pesan Natal.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.