Home » Agama » Minoritas » Metta Dasmasaputra: “Agama-Agama Tak Mungkin Disamakan”
Metta Dharmasaputra (Foto: tempo.co)

Metta Dasmasaputra: “Agama-Agama Tak Mungkin Disamakan”

3/5 (1)

Apakah karena Buddhisme lebih dipandang sebagai ajaran perbaikan diri, bukan untuk berkuasa?

Ya, memang lebih bernuansa seperti itu. Tapi kalau boleh mengkritisi, sebagai umat Budha, kita tidak bisa berlindung dari ciri seperti itu. Menurut saya, agama Buddha di Indonesia sangat jauh tertinggal dibanding agama lain.

Bahkan, tertinggal pula dibandingkan Konghuchu yang baru diakui pemerintah. Meskipun selama ini tidak diakui, mereka lebih maju dalam pengkajian-pengkajian filosofi, dan kiprah dalam dunia keagamaan internasional. Yang saya amati, penganut Buddha Indonesia lebih sibuk dengan urusan sendiri, dan ditambah perpecahan-perpecahan di dalam. Itu yang sangat disayangkan.

Beberapa bulan lalu, hak-hak sipil Konghuchu diakui pemerintah. Apa dampaknya bagi penganut Buddha di Indonesia?

Dampaknya mungkin merugikan, karena selama ini, agama Buddha diuntungkan dengan tidak diakuinya Konghucu sebagai agama resmi. Dulu, memang ada saja yang tetap bertahan sebagai Konghucu. Tapi sebagian memilih Buddha karena konsekuensinya memang tidak kecil. Saya sendiri pernah menulis tentang Konghuchu dan bagaimana sulitnya menjadi seorang penganut Konghuchu.

Tapi saya tetap mendorong pemerintah untuk tetap mengakui Konghucu. Itu hak asasi yang harus mereka peroleh. Karena itu, saya rela-rela saja mereka diakui. Prinsipnya, agama tidak boleh dipaksakan. Kita harus berangkat dari keyakinan terdalam diri kita sendiri.

Namun sebelum agama Konghucu disahkan, di dalam agama Budha—meski diuntungkan—juga terjadi kebingungan. Salah satu contoh adalah bila orang bertanya apa rumah ibadah agama Buddha. Orang bingung antara vihara, kuil, atau kelenteng. Seharusnya jelas, tempat ibadah umat Buddha adalah vihara, sementara kelenteng itu sudah bercampur-baur dengan Konghuchu.

Sekarang, ketika Konghuchu sudah diakui sebagai agama resmi, akan jadi PR sendiri; mana kelenteng yang vihara dan mana kelenteng yang Konghuchu. Itu memang harus dibedakan. Menurut saya, itulah problematika yang tersisa ketika sekarang kondisinya mulai berubah.

Mungkin pangkal soalnya bukan karena kini Konghucu disahkan, tapi mengapa negara harus mengatur-atur agama sedemikian dalamnya?

Betul. Menurut saya, harusnya negara tidak mencampuri urusan agama, karena begitu negara mencampuri urusan agama, semua akan jadi repot. Di Indonesia, dulu hanya diakui lima agama. Padahal, PBB sendiri mengakui lebih banyak lagi agama. Karena itu, aneh bila batasan agama dibuat oleh manusia, bukan oleh Tuhan. Kok kita sendiri yang menentukan mana yang agama dan mana yang bukan?!

Mas Metta, adakah fundamentalisme dalam agama Buddha?

Saya pikir, kalau melihat esensi kelahiran Buddhisme, seharusnya tidak ada fundamentalisme dalam artian sikap radikal, memaksakan, dan ekspansif. Seharusnya Buddhisme lebih pada penghayatan yang tenang untuk mencapai sebuah kesadaran.

Tapi meski demikian, saya melihat dalam umat Buddha Indonesia tetap ada semangat-semangat yang tidak bisa menolerir perbedaan yang satu dengan yang lain. Akibatnya, Borobudur misalnya dijadikan ajang rebutan dua kelompok Buddha dan harus dipakai bergiliran. Ini kan agak disayangkan.

Menurut saya, seharusnya tidak ada sikap seperti itu jika kita bisa bergerak dengan keimanan, sesuai dengan aliran masing-masing. Fundamentalisme dalam Buddha lebih dalam artian mementingkan kebenarannya sendiri secara mutlak terhadap yang lain.

Bagaimana perasaan umat Buddha ketika Taliban menghancurkan patung Buddha di Bamiyan beberapat tahun lalu?

Soal itu tentu sangat disayangkan. Bukan karena itu milik orang Buddha, tapi lebih karena ia sebuah peninggalan yang bersejarah. Itu sebuah jejak peradaban manusia yang dihancurkan hanya dalam hitungan detik. Saya begitu sedih menonton film itu.

Kalau saya tak salah, profesor arkeologi yang sekarang mencari patung Buddha tidur yang jauh lebih besar di sana bukanlah seorang Buddhis, tapi muslim Afganistan. Tentu sakit melihat kejadian seperti itu. Tapi yang juga patut disayangkan, sikap atau kepedulian umat Buddha Indonesia juga hampir tidak ada ketika Borobudur runtuh.

Ketika Pak Daoed Jusuf memperjuangkannya untuk direhabilitasi lewat Unesco, dia berjuang sendiri, tidak didukung pemerintah, dan menurutnya, tidak ada satu pun umat Buddha yang mendukung. Termasuk ketika stupa Borobudur diledakkan. Ketika itu, dia membuat protes terbuka. Tapi tidak ada juga umat Buddha yang peduli masalah itu. Umat Buddha sekarang dituntut untuk lebih bisa memperjuangkan pluralisme agar secara riil diterapkan di masyarakat.

Anda merasa ada ancaman terhadap pluralisme di Indonesia saat ini?

Saya merasakan itu. Bagaimana pun, Indonesia adalah negara yang dibangun atas kesepakatan bersama. Ketika ada batasan-batasan yang dibuat berdasarkan agama tertentu, ini tentu akan jadi problem. Misalkan batasan tentang aurat. Pemahaman Buddha tentu sangat berbeda dalam soal itu. Kalau itu diterapkan menurut standar tertentu saja, tentu eksistensi kami sebagai umat Buddha akan terbatasi.

Apa perjuangan pluralisme itu juga yang akan jadi agenda Forum Samantabadra ke depan?

Kalau menginginkan hak, itu harus kita perjuangkan. Nah, selama ini, tidak ada suara dari umat Buddha untuk mendukung perjuangan itu. Karena itu, saya ingin acara seperti Festival Waisak ini menjadi ajang. Meski kecil, minimal itu bisa mengingatkan orang bahwa ada ancaman terhadap pluralisme. Festival Waisak ini juga untuk menunjukkan bahwa pluralisme masih ada di tengah-tengah kita.

Apakah umat Buddha khawatir akan pluralisme agama atau justru mendorongnya?

Saya termasuk orang yang tidak sepakat dengan definisi pluralisme sebagai dengan semua agama, seperti yang diutarakan MUI. Menurut saya, agama-agama sangat tak mungkin untuk disama-samakan. Yang paling penting bukan semuanya harus satu warna, tapi biarkan berbeda warna tapi tetap serasi. Karena itu, kami membuat Festival Waisak untuk mengingatkan bahwa kita memang beragam dan tidak berangkat dari sesuatu yang homogen.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.