Home » Aksara » Kala Agama Jadi Penjara
As it is in Heaven

Kala Agama Jadi Penjara As It Is In Heaven

4.2/5 (30)

Latihan terakhir, sebelum konser, digelar. Gabriella datang terlambat karena, lagi-lagi, dipukuli Conny yang pulang dalam keadaan mabuk. “Sebelum terlanjur parah, aku minta kalian relakan aku tidak jadi soli dalam komposisi baru ini.”

Arne murka. “Kamu musti perlihatkan kemampuanmu di depan Conny. Dia perlu tahu betapa bernilainya kamu.”

Daniel meradang dan lalu berteriak kepada Arne: “Gabriella akan melakukan ini untuk dirinya sendiri, bukan untuk suaminya.”

Seisi ruang latihan diliputi ketegangan. Holmfrid mengambil kursi dan meletakkannya di dekat Gabriella, meminta perempuan itu duduk menenangkan diri. Arne, seperti biasa, mengejek Holmfrid: tjockis-tjockis korv pojke, tjockis-tjockis Holmfrid –gendut-gendut anak sosis, gendut-gendut Holmfrid.

Entah kekuatan dari mana yang datang merasuk, Holmfrid membanting kursi yang ada di dekatnya. Dia terjang Arne hingga jatuh terjengkang. Mereka bergulat di lantai. Beberapa orang berusaha melerai. Seorang lelaki tua menarik Arne lalu mendorongnya ke sudut. Koordinator paduan suara itu tercengang bahkan terkesiap, tak menyangka Holmfrid sanggup mengamuk hebat.

Sambil menangis dan menggelepar, Holmfrid meratap: “35 tahun kamu terus mengejek aku, sejak dari sekolah dasar, setiap hari, tak pernah berhenti. Masa sekolah adalah neraka panjang buatku. Lihatlah apa yang telah kamu perbuat padaku.”

Inger, istri pastor, datang mendekat, menawarkan bahunya. Holmfrid tersengal-sengal di sana.

Gabriella memungut partitur komposisi solo yang tercampakatas kericuhan yang baru saja terjadi. Intro piano mengalun. Kamera berpindah ke Inger, perempuan yang tak menemukan surga di ranjang sucinya. Lalu ke Holmfrid yang bukan hanya tak memiliki surga, namun juga mengalami neraka sepanjang 35 tahun.

Lelaki tambun itu mengangkat kepala, menatap tajam ke Arne yang masih terkesiap namun sekarang berkaca-kaca. Sejenak kemudian Holmfrid mengarahkan pandangan ke Gabriella, perempuan yang mukim dalam neraka di rumahnya sendiri. Bibir Holmfrid masih bergetar seusai mengamuk tadi.

Sekarang dia hentakkan kepala dan lalu tertawa-gelak dalam tangis. Gabriella balik menatap Holmfrid, mulai tersenyum, merekah, mekar, mengembang, sampai akhirnya perempuan itu merasakan sukacita menggegap dalam dadanya.

Kamera beralih ke Tore yang menengadah dengan dagu bergerak mencong, lalu ke Lena, perempuan yang surganya telah dibawa kabur dokter sialan, sebelum akhirnya kembali ke Holmfrid yang kini menatap Gabriella dengan kepala tegak. Dia tengah melangkah keluar dari neraka.

Gabriella mulai bernyanyi:

sekarang hidupku adalah milikku

sebuah masa singkat di bumi

kerinduanku telah membawaku ke sini

pada semua yang luput dan semua yang kuperoleh

Pada bait ini, kamera masih menyapu, secara bergantian, wajah orang-orang yang baru saja menemukan surga. Gambar lalu pindah ke gedung konser yang telah terisi penuh. Gabriella berdiri di depan mikrofon, paduan suara berbaris di belakangnya, Daniel bahkan berada di antara mereka, ikut bernyanyi.

Gabriella mengenakan sack dress merah mengembang di bagian bawah dengan kalung hitam yang berukuran sedikit lebih panjang dari lingkar leher. Kepalanya bergeletar, dadanya kembang-kempis dengan cepat. Ada gelora yang sebentar lagi meledak.

ternyata itu jalan yang kupilih

percayaku jauh melampaui kata-kata

dan telah menunjukkan sedikit

dari surga yang tak pernah kutemukan

aku ingin merasa bahwa aku hidup

Di baris ini kepala gabriella sedikit mendongak.

Hari-hari akan ‘kujalani sebagaimana yang kuinginkan

aku ingin merasa bahwa aku hidup

dengan tahu bahwa aku cukup kuat

Kamera menyapu wajah setiap anggota paduan suara yang sedang bergumam dengan aaah, uuuh, kadang hmmh. Itu wajah orang-orang merdeka, mengalami sukacita sempurna. Gabriella melanjutkan nada:

aku tak pernah kehilangan diriku

aku hanya pernah membiarkannya tidur

mungkin saat itu aku tak punya pilihan

Gabriella mengarahkan pandangan ke Conny, suaminya, yang berdiri di antara para penonton, di sudut kiri depan, untuk menegaskan baris syair yang segera dilantunkannya:

selain keinginan untuk sintas

Kepada segenap penonton yang terdiam, terlongong, tersihir, tersima, Gabriella lantakkan deklarasi kemerdekaannya:

apa yang kuinginkan adalah

berbahagia sebagaimana adaku,

untuk kokoh dan merdeka,

untuk melihat hari bangkit dari malam

pada bait ini Gabriella mengentakkan kepalanya berulang-ulang

aku di sini dan hidup adalah milikku

surga yang semula kukira di sana

kamera dalam posisi medium shot mengarah ke pastor Stig

ternyata kutemukan di tempat lain.

Paduan suara menggumam panjang. Gabriella bersiap mengentakkan baris terakhir, puncak dari tekad barunya, dengan penuh gelora, meledak:

aku ingin merasakan bahwa telah kuhidupi hidupku.

Tepat di bagian ini, saya tersedak. Ah, andai beragama hanya sesederhana ini: merasakan dengan pasti bahwa telah kuhidupi hidupku, bukan malah menghidupi doktrin dan syariat.

Paduan suara itu ditawari kesempatan mengikuti kompetisi di Vienna, Austria dalam lomba bertajuk ‘let the people sing’. Mereka berdebat tentang apa gunanya ikut kompetisi.

Daniel kemudian setuju dan mengebaskan tangan ke atas sambil berteriak: “akan kita perdengarkan sebuah musik yang belum pernah mereka dengar, vibrasi yang membuka semua hati.”

Stig menemukan beberapa foto istrinya berpose dengan sang konduktor dalam ekspresi penuh rona. Dihantam cemburu, dia datangi Daniel dan menyerahkan surat yang berisi pemberhentian konduktor itu dari jabatan cantor di gereja.

Seluruh anggota paduan suara membangkang. Mereka datang ke rumah Daniel dan berlatih di sana. Inger bahkan memutuskan minggat dan tinggal di rumah sang konduktor. Tak hanya itu, Gabriella hengkang bersama 2 anaknya, ditampung di rumah salah seorang anggota setelah Conny pun mabuk berat oleh cemburu dan menghajar Gabriella hingga penuh luka.

Gereja sepi kehilangan jemaat. Tak lebih dari 10 orang yang hadir dalam ibadah minggu. Stig membatalkan kebaktian. Dia bingung, putus asa, dan sekarang berkawan botol minuman keras. Dia telpon Daniel, memintanya datang ke rumah.

Stig mengangkat senjata di hadapan Daniel dan menembakkan peluru ke atas.

“Kamu pasti bingung, bagaimana mungkin seorang pastor hendak membunuh dirinya sendiri.” Dia meratap dengan suara parau,“mengapa kamu datang ke desa ini? Apa yang bikin kamu datang?”Dia masukkan 2 anak peluru ke dalam senapan dan mengokangnya. “Satu untukmu dan satu untukku,” ucapnya dengan seringai kekalahan.

Serangan panik datang melanda. Mata Stig terbelalak, sebentar kemudian tubuhnya merosot dari kursi. Daniel menangkapnya sembari berkata, “sudahlah.”

Daniel dan Lena bersepeda menuju danau. Di sana Lena tanggalkan semua pakaian, bugil di hadapan Daniel. Sesaat sebelum nyemplung, dia menoleh ke belakang, berhadap-hadapan dengan Daniel, lalu berkata:

“dulu, aku jatuh cinta kepada seorang dokter. Kami memutuskan tinggal bersama untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya aku tahu dia sudah beristri dan punya anak. Sepekan kemudian dia menghilang, tak tentu rimba. Itu menyakitkan. Aku minta kamu tak lakukan itu padaku.”

Daniel terkejut. Cinta adalah barang terlarang buat jantungnya. Persetubuhan hanya akan menuntun dia menerima serangan kedua. Dia berbalik, meraih sepeda, dan melarikannya dengan bergegas.

Di hari berikut, dalam kemarahan yang tak lagi bisa dikendalikan, Conny mendatangi Daniel yang sedang berendam di danau, memukulinya hingga babak belur. Daniel tahu, lelaki inilah yang dulu, semasa kecil, kerap menghajar dia saban pulang sekolah.

Seluruh anggota paduan suara melaporkan penganiayaan tersebut ke kantor polisi. Conny harus mendekam di penjara.

Hari keberangkatan ke Vienna tiba. Pastor Stig datang mengantar tas berisi beberapa helai pakaian Inger.

“Bisakah suatu saat kita….?”

“Aku tak tahu,” jawab inger.

Rombongan tiba di Vienna, ibukota kerajaan musik. Daniel disambut meriah orang-orang yang memujanya sewaktu masih bergiat sebagai konduktor orkestra. Lena terganggu. Dia merasa sekaranglah saat yang pas untuk ekspresikan kerinduannya secara terbuka. Dia datangi Daniel di kamar hotel.“Semua ini sia-sia,” ucapnya lirih.

Daniel menjemba bahu Lena sembari secara didaktif mengutarakan gelora asmara. Mereka berpelukan, berciuman. Daniel berkeputusan mengalami cinta. Mereka arungi malam dalam gelora. Sesudahnya, sempat gejala serangan jantung datang melanda. Lena memegang tangan Daniel, mesra dan erat.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.