Home » Aksara » Media » Nadia Madjid: “Persepsi tentang Islam akan Berubah oleh Empat Hal”
Nadya Madjid (Photo: voaindonesia.com)

Nadia Madjid: “Persepsi tentang Islam akan Berubah oleh Empat Hal”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Salah satu persepsi Amerika tentang umat Islam adalah soal perbedaan sistem nilai dan budaya yang mereka anut dengan yang dianut orang-orang Islam, terutama yang puritan. Apakah orang-orang Islam Amerika menganut nilai-nilai Islam yang puritan sehingga dianggap bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai kebebasan Amerika?

Tidak. Saya rasa orang Islam di Amerika, sebagaimana yang saya bayangkan sejak lama, sudah sangat menghargai kebebasan dan individualitas. Mereka berpaham bahwa seseorang yang beriman itu akan memikul dosanya sendiri-sendiri, bukan ditimpakan pada orang lain.

Ibadah kita merupakan tanggung jawab kita langsung kepada Tuhan, tidak perlu diawasi negara. Jadi, Islam yang diterapkan di Amerika juga adalah agama yang sangat pribadi, yang sangat individual. Kalau saya mau salat, saya bisa salat di kantor dan itu tidak akan mengganggu orang-orang yang bekerja dengan saya.

Justru karena mereka begitu privat dalam cara beragamanya, orang-orang nonmuslim menganggap mereka cukup misterus. Tapi setelah 11 September, orang Amerika mulai bertanya-tanya: apakah Islam itu begitu? Dalam sejarah Amerika, hanya sekarang saja angka penjualan Alqur’an dan buku-buku tentang Islam begitu tinggi.

Bahkan, lembaga yang menjembatani hubungan antara Islam dan warga Amerika, CAIR, pernah membagi-bagikan Alquran gratis agar masyarakat Amerika lebih mengenal Islam dari Alqur’an langsung.

Apakah persepsi media Amerika tentang Islam ikut mengubah pola hidup orang Islam Amerika agar misalnya lebih kompromistis dengan pola hidup dan kebudayaan Amerika?

Saya rasa, pola hidup warga muslim Amerika setelah 11 September tidak banyak berubah. Mereka tetap menjalankan ibadah dan tradisi mereka, bahkan tradisi yang datang dari negeri asalnya. Satu hal yang mungkin berbeda: kini mereka lebih mengerti harus berkata apa saat disodorkan pertanyaan-pertanyaan tentang apa itu Islam, apakah benar Islam mengajarkan kekerasan, dan hal-hal seperti itu. Mereka kini dituntut untuk siap menjelaskan hal seperti itu.

Saya punya pengalaman kecil dalam soal seperti itu saat naik taksi. Supirnya, seorang berkulit hitam, bertanya: ”Anda dari Thailand, ya?” Saya bilang, saya dari Indonesia. Terus dia bilang, ”Oh Indonesia. Di mana ya negaranya?” Saya timpali, ”Wah, Anda kok tidak tahu Indonesia.

Padahal Indonesia itu negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia.” Dia bilang, ”Ah, masak!” Terus dia nanya, ”Anda muslim?” Saya jawab, ya. ”Kok tidak berjilbab?” tanyanya lagi. ”Saya menganut paham bahwa saya tidak harus berjilbab,” jawab saya.

Terus dia nanya lagi, ”Kenapa perempuan muslim mesti berjilbab?” Saya jawab, ”Ya, karena ada ajaran bahwa seorang perempuan harus menjaga dirinya dari penglihatan orang-orang lain yang bukan muhrimnya.” ”Berarti, itu dijaga dan ditutupi hanya untuk suaminya?” tanya dia lagi. Saya bilang, ya. Lalu dia bilang: ”Oh, indah sekali bagiku.” Dia tertawa, tapi respek dengan jawaban saya.

Bagi saya, walau itu pengetahuan yang kecil tentang Islam, tapi setidaknya stereotipe tentang Islam itu tidak menjadi barang asing dan tabu baginya. Itu sudah cukup bagi saya, karena dengan begitu, dogma agama kita tidak terlalu dianggapnya serius dan menakutkan bagi dia.

O, ya, dalam pembicaraan itu saya juga sempat membandingkan antara muslimah yang berjilbab dengan para biarawati yang juga mengenakan penutup kepala dan lain-lain. Saya bilang, para biarawati itu juga menutupi tubuhnya karena mereka juga ingin membatasi gerak-gerik dan keinginannya.

Dia jadi lebih mengerti karena itu dekat dengan ajaran agamanya. Jadi, paralelisme pandangan seperti itulah yang mungkin perlu diketengahkan dan digalakkan oleh umat Islam dalam berdialog dengan nonmuslim.

Dan memang, 59% responden survei CAIR mengatakan bahwa seharusnya kalangan muslim lebih banyak mengatakan hal-hal yang sama atau sisi-sisi kesamaan Islam dengan agama lainnya, terutama dalam proses berdialog dan berinteraksi dengan nonmuslim. Perlu ditunjukkan apa sih yang sama antara Islam dengan ajaran-ajaran Kristen, Yahudi, atau agama lainnya, sehingga Islam tidak menjadi barang asing atau paham yang amat berseberangan dengan mereka.

Tapi yang banyak disoroti media Barat dan terutama Amerika saat ini kan doktrin Islam yang lebih ortodoks. Apakah itu yang dianggap sebagai ancaman oleh Amerika?

Dari sisi doktrin sih, tidak. Media masa Amerika baru melihatnya sebagai ancaman ketika sudah terjadi tindakan kriminal. Saya melihat, media massa Amerika tidak sedang menggugat ajaran Islam itu sendiri, atau mencap sekolah-sekolah tertentu bertanggungjawab atas tindak kriminal yang dilakukan beberapa umat Islam.

Mereka memang sepakat kalau para kriminil harus dihukum. Tapi yang jadi pertanyaan mereka: mengapa tidak ada dari kalangan Islam atau sekolahan tertentu yang mengatakan bahwa mereka memang layak dihukum. Itu saja.

Mbak Nadya, bisakan dikatakan kalau kritisisme media Amerika saat ini sangat kurang dalam menanggapi watak imperialis dan kecenderungan unilateral rezim Bush dalam bertindak terhadap banyak negara?

Saya melihat, justru saat inilah media Amerika semakin panas dalam mengkritik rezim Bush. Para pembuat tajuk rencana di banyak surat kabar sudah terlihat sangat pedas dalam mengkritik Bush. Minggu lalu, seorang wartawan Amerika terlibat percekcokan dengan penanggungjawab media Gedung Putih karena kritik keras wartawan itu terhadap Bush dan pemerintahannya.

Jadi, kalau dilihat dari aspek itu, kritisisme medianya Amerika sudah cukup memadai. Karena itu, sekarang sudah banyak orang Amerika yang berpaling dari partainya Bush, Partai Republik. Para pendukung liberalisme di Amerika juga sudah mulai berbondong-bondong menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap status quo yang sekarang berlaku di Amerika.

Jadi, saya melihat media Amerika sudah cukup proporsial dalam mengkritik Bush. Sebab saya tinggal di Washington, dan belakangan ini sering sekali melihat diadakannya demo-demo menentang Bush. Waktu berita tentang agresi Isreal di Lebanon kemarin sedang panas-panasnya, baik pendukung Libanon atau Suriah, pendukung Hamas atau Israel, sama-sama berdemonstrasi secara berdampingan. Jadi di dalam negeri Amerika sendiri sudah berkecamuk banyak keberatan terhadap apa yang terjadi saat ini.

Saya kira, salah satu kelebihan masyarakat Amerika dalam bermedia adalah: mereka sudah memiliki sistem pemerintahan yang mantap, sehingga prosescheck and balance bisa diterapkan dengan baik. Dengan begitu, rakyat Amerika dengan gampang bisa melihat masa depan mereka. Kini mereka seakan mengatakan, ”Kami sudah melakukan kesalahan dalam memilih presiden yang terlihat kurang kompeten. Itu berarti di masa yang akan datang, kami tidak akan memilih seperti dia lagi.”

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.