Home » Gagasan » Islam Nusantara » M. Dawam Rahardjo: “Trikotomi Geertz Itu Temuan Besar”
M. Dawam Rahardjo (Foto: jalantelawi.com)

M. Dawam Rahardjo: “Trikotomi Geertz Itu Temuan Besar”

5/5 (1)

Bagi Geertz, agama itu punya fungsi ganda dalam masyarakat; penguat integrasi sekaligus pemicu konflik. Dari situ banyak orang mencurigai kalau trikotomi Geertz merupakan desain ilmiah untuk memecah-belah integrasi sosial masyarakat Jawa. Komentar Anda?

Mungkin kita perlu beranjak dari apa yang disebutkan Mas Dawam tadi; Geertz sendiri mengaku mengikuti warisan teoritik Max Weber. Jadi, dia seorang Weberian, tetapi yang pintar. Dia tidak Weberian sebenarnya, sebab kalau toh iya, kita harus menyebut dalam hal apa dan menafsirkanya.

Nah, ketika dia menemukan dua atau tiga jenis artikulasi keagamaan yang berbeda dalam suatu masyarakat, dia ungkapkan itu apa adanya dalam kategori abangan, santri, dan priyayi; meski secara kelas mereka bisa dibelah menjadi dua, yaitu orang yang kaya dan rakyat biasa.

Tapi kelas itu tidak merefleksikan secara eksplesit ungkapan kultural yang sama. Orang-orang kaya dari kalangan aristokrat dan orang-orang miskin yang agak sinkretik, bisa punya ekpresi keagamaan yang sama. Saya tidak tahu apakah Geertz memandang agama sebagai faktor integrasi melulu atau sebagai faktor konflik tak berkesudahan.

Saya kira, dua hal itu sama-sama dia lihat. Kadang-kadang dia melihat agama sebagai faktor integratif, kadang-kadang juga faktor konflik. Dia memang menyaksikan sendiri bagaimana peristiwa Pemilu 1955 di Indonesia membuat orang berbeda meskipun sama-sama Islamnya.

Hamid Basyaib

Mas Hamid, seberapa relevan tesis-tesis Geertz dalam The Religion of Java ataupun Islam Observed untuk melihat gejala masyarakat Islam Indonesia saat ini?

Saya kira, The Religion of Java lebih relavan. Sampai batas tertentu, pembelahan sosial yang dia tunjukkan masih terjadi secara faktual. Saya tidak heran, karena umurnya masih 50 tahun. Geertz meneliti Indonesia di awal 1950-an sampai 1957. Bukunya terbit di tahun 196o-an. Dilihat dari rentang itu, dan kalau diukur dari proses pengendapan keyakinan-keyakinan, kebiasaan-kebiasaan, atau adat istiadat, sebagaimana dia catat sebetulnya, kan belum lama.

Budaya itu kan buah dari akumulasi pengalaman selama ratusan tahun. Tesisnya belum ratusan tahun, dan karena itu tidak mengherankan kalau masih relevan. Tentu saja sudah ada banyak pergeseran, terutama dalam ekspresi politik. Sebab, politik kadang juga merupakan suatu pandangan dunia yang diproyeksikan ke dalam pilihan-pilihan identitas.

Misalnya, yang abangan pasti masih sungkan masuk PKS. Preferensinya mungkin ke PDI atau Partai Demokrat. Dan begitu juga yang lain. Orang-orang Islam santri, tentu enggan masuk PDI. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit ketimbang yang masuk ke partai-partai yang dianggap religius atau yang kurang bersifat abangan.

Menurut Anda, lapiran mana yang kini makin menebal: santri, abangan, atau priyayi?

Jelas yang pertama. Proses santrinisasi itu berjalan terus. Kita tahu bahwa kaum abangan itu jumlahnya makin kecil. Dalam 20 tahun terakhir, orang-orang abangan pun sudah pada naik haji dan umrah. Tahun 1990-an saja, Pak Harto yang abangan naik haji bersama 60-an anggota kelurga dan rombongannya.

Pejabat tinggi kita pada masa Orde Baru, baik yang santri maupun abangan, berlomba-lomba naik haji, bahkan menjadi amirul haj. Jadi, proses santrinisasi itu berjalan terus, dan sampai sekarang hampir tidak ada lagi yang ngomong abangan atau aliran kepercayaan. Di tahun 1978, isu itu masih merupakan isu besar. Sekarang makin nggak ada.

Apa implikasi pergeseran lapisan sosial-budaya itu terhadap tatanan sosial kemasyarakat kita dewasa ini?

Itu yang saya belum tahu. Yang penting kita ingat: sebetulnya proses yang saya ceritakan itu merupakan proses yang alami. Nggak ada paksaan, tidak ada SK-nya. Yang terjadi adalah, generasi anaknya kaum abangan sudah terekspos pada kegiatan-kegiatan kaum santri. Itu alamiah belaka. Yang terpenting dibahas kalau proses santrinisasi itu berjalan terus adalah: pola keislaman seperti apa yang mereka tawarkan atau anut?

Nah, kalau itu yang kita lihat secara kasar, sebetulnya tidak ada berita yang terlalu menggembirakan. Proses formalisasi agama kaum santri terjadi, tapi tidak ada ide-ide segar yang dibawa bersamanya. Jadi, proses santrinisasi yang dimaksud lebih kepada bentuk formalismenya. Misalnya, kaum abangan yang tadinya tidak salat, kini jadi rajin salat. Yang tadinya nggakpuasa, kini sabar berpuasa. Baru sebatas itu.

Apakah tidak terjadi juga arus revitalisasi ide dan praktik kaum abangan untuk mencari keseimbangan di kala menguatnya arus santrinisasi yang makin puritanistik dan simbolistik?

Saya kira itu gejala yang normal. Dimana-mana begitu. Kalau orang merasa terdesak, kecenderung bertahannya akan meningkat atau menggandakan upaya bertahan. Nanti sejarahlah yang akan melihat apakah ikhtiar mereka gagal atau berhasil.

Namun sekarang, kaum abangan tampaknya sudah gagal dalam ikhtiar-ikhtiar mereka. Saya kira, fakta itu sudah cukup jelas. Karena itu, orang Islam tidak perlu banyak-banyak mengeluh soal Kristenisasi atau abanganisasi. Justru yang terjadi saat ini adalah proses santrinisasi yang luar biasa dahsyatnya.

Anda dapat melihat indikatornya di tempat-tempat seperti kantor, hotel, bank, dan instansi-instansi pemerintah. 15 tahun yang lalu, tak terbayangkan tempat-tempat itu akan digunakan untuk salat Jum’at atau terawih berjamaah. Rumah-rumah elit di Menteng yang abangan Jawa dan TNI, sekarang juga suka mengadakan acara-acara keagamaan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.