Home » Gagasan » LGBT, Agama, Teks Alkitab, dan Temuan Sains Modern

LGBT, Agama, Teks Alkitab, dan Temuan Sains Modern

3.48/5 (29)

1 Timotius 1:9-10. 

… yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi… orang cabul dan pemburit [arsenokoitēs], bagi penculik, bagi pendusta,…

Pandangan negatif Rasul Paulus terhadap arsenokoitēs (yang diutarakannya dalam surat 1 Korintus pada tahun 55 M, sebagaimana telah dibahas di atas) tetap dipertahankan dalam surat 1 Timotius sebagai salah satu surat pastoral yang ditulis oleh para penjaga dan penafsir warisan teologis Paulus (dua lainnya adalah 2 Timotius dan Titus) antara tahun 100–150 M, yakni paling jauh delapan puluh lima tahun setelah Paulus dieksekusi. Bagi penulis surat 1 Timotius, perilaku arsenokoitēs bertentangan dengan “ajaran yang sehat” yang disusun berdasarkan “injil Allah” (ayat 10,11)./31/

Yudas 1:7. 

… sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.

Sama seperti Kejadian 19 tidak menyatakan dengan spesifik apa dosa kota Sodom (lihat ulasannya di atas), Yudas 1:7 juga tidak dengan spesifik menyatakan apa yang disebut penulisnya sebagai “kepuasan-kepuasaan yang tak wajar”, yang tidak harus ditafsirkan, seperti tafsiran Kristen konservatif, sebagai hubungan homoseksual.

Frasa Yunani dari frasa “kepuasan-kepuasan yang tak wajar” dalam teks ini adalah sarkos heteras, yang secara harfiah, karena direndengkan dengan “percabulan” atau pornea dalam bahasa Yunani/32/, dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “nafsu daging yang lain” atau “hasrat seksual yang tidak wajar” atau “hasrat seksual yang menyimpang” atau “syahwat yang tidak alamiah”./33/

Penulis Surat Yudas menempatkan perilaku seksual yang menyimpang ini dalam konteks peristiwa pemusnahan kota Sodom dan Gomora seperti dikisahkan dalam Kejadian 19. Dengan demikian, sarkos heteras ini dapat ditafsirkan sebagai keinginan penduduk laki-laki kota Sodom untuk memperkosa dua malaikat yang mengunjungi kota mereka.

Keinginan ini sesungguhnya adalah suatu penyimpangan, karena mereka ingin menggagahi dua malaikat tuhan secara seksual, padahal mereka adalah manusia biasa sementara malaikat adalah makhluk bukan-manusia. Perlu diketahui ada sebuah legenda Yahudi kuno yang mengisahkan bahwa perempuan-perempuan Sodom juga terlibat hubungan seksual dengan para malaikat./34/

Jadi, yang dikecam dan dikutuk oleh penulis Surat Yudas bukanlah homoseksualitas, tetapi keinginan penduduk Sodom untuk bersetubuh dengan makhluk bukan manusia. Dalam hukum Taurat terdapat larangan keras manusia bersetubuh dengan binatang sebagai makhluk bukan manusia (Imamat 18:23).

Kesimpulan kajian teks. Tidak satu pun dari tujuh teks utama tentang homoseksualitas dalam kitab suci gereja yang telah dikupas singkat di atas mengutuk homoseksualitas dan perilaku homoseksual sejauh homoseksualitas ini dipahami sebagai suatu orientasi seksual seseorang dan sejauh perilaku homoseksual ini dipandang sebagai suatu relasi homoseksual antar kalangan gay atau antar kalangan lesbian yang dibangun karena kesepakatan kedua mitra, yang dilandasi cinta dan dijaga oleh komitmen untuk membangun suatu persekutuan hidup yang intim dan langgeng.

Jadi, teks-teks yang telah dikupas di atas tidak tepat atau tidak relevan jika dipakai untuk mengutuk homoseksualitas atas nama sebuah doktrin agama atau atas nama suatu Allah atau, lebih parah lagi, untuk mengkriminalisasi para homoseksual di zaman modern ini.

Masih ada sejumlah teks lain dalam Alkitab yang bisa diacu dalam rangka kajian keagamaan terhadap homoseksualitas, yakni Kejadian 1:28; Kejadian 2:18; Kejadian 2:23-24; Kejadian 9:20-29; Ulangan 23:17; 1 Raja-raja 14:24; 15:12; 22:46; 2 Raja-raja 23:7; Hakim-hakim 19:14-29; Matius 8:5-13; Matius 19:4-5; Matius 19:10-12. Silakan semua teks ini dikaji sendiri.

Homoseksualitas dalam dunia hewan. Satu hal penting patut dicatat, bahwa perilaku homoseksual juga diperlihatkan oleh sejumlah 1.500 spesies binatang. Ini fakta yang tentu sangat mencengangkan bagi yang baru pertama kali tahu. Karena homoseksualitas pada binatang tentu bukan timbul karena pola pergaulan yang tidak bermoral, maka homoseksualitas pada binatang harus dipandang sebagai suatu pemberian alam, yang memperkaya warna kehidupan di planet Bumi ini.

Ketika sepasang pinguin homoseksual sedang bercinta-cintaan, tidak ada ketentuan agama pinguin dan ketentuan hukum negara pinguin yang mereka langgar. Perhatikan rangkuman artikel sangat informatif yang berjudul “Homosexual Behaviour in Animals” dalam Wikipedia yang ditulis pada alinea pembuka artikel ini:

Perilaku homoseksual pada hewan-hewan adalah perilaku seksual di antara spesies-spesies non-manusia yang ditafsir sebagai homoseksual atau biseksual. Ini mencakup aktivitas-aktivitas seksual, percumbuan, percintaan, berpasang-pasangan, dan peran sebagai sepasang induk, di antara pasangan-pasangan hewan sesama jenis seks.

Riset-riset menunjukkan bahwa berbagai perilaku homoseksual ini ditemukan di semua dunia hewan. Sampai 1999, sudah terdokumentasi 500 spesies yang menjalankan pola kehidupan homoseksual, mulai dari primata hingga ke cacing-cacing dalam perut. Menurut tim pengorganisasi pameran Against Nature? di tahun 2006, perilaku homoseksual telah teramati ada pada 1.500 spesies. /35/

Sebelumnya, di tahun 1999, biolog Dr. Bruce Bagemihl telah menulis sebuah buku yang berjudul Biological Exuberance: Animal Homosexuality and Natural Diversity./36/ Pada masa itu, sudah ditemukan ada 450 spesies hewan non-manusia yang memperlihatkan perilaku homoseksual; bahkan digolongkan sebagai LGBT. Angka 450 ini termasuk ke dalam 1 juta spesies yang sudah dikenal di Bumi.

Tetapi jika penelitian dikaji lebih jauh, Dr. Bagemihl memperkirakan akan ditemukan antara 15 hingga 30 persen spesies hewan non-manusia yang berperilaku homoseksual dalam aneka bentuk, bahkan juga sebagai organisme biseksual dan transgender.

Para ideolog anti-LGBT ini hendaknya tahu bahwa Dr. Bagemihl adalah seorang gay yang sudah diakuinya dengan terus terang sejak dini. Dia tidak sakit jiwa. Pikirannya sehat. Cerdas. Jenius. Berprestasi cemerlang. Bukunya ini, yang ditulisnya setelah 9 tahun melakukan riset lapangan, memberi banyak pengetahuan baru tentang zoologi dan perilaku seksual hewan-hewan. Jika sebagai heteroseksual anda mencemooh karya Dr. Bagemihl hanya karena dia seorang gay, tanyalah diri anda sendiri, prestasi keilmuwan apa yang anda sudah sumbangkan ke dunia sains. Nol besar, bisa jadi.

Dengan naif banyak ideolog anti-LGBT menyatakan bahwa hasil kajian Dr. Bagemihl tentang homoseksualitas dalam dunia hewan non-manusia pasti tidak objektif, pasti bias, sebab dia menulis buku itu hanya untuk membenarkan dirinya sebagai seorang gay.

Ini tanggapan saya kepada mereka yang berprasangka keji itu: suatu temuan saintifik dalam bidang apapun baru absah disebut sebagai temuan saintifik jika temuan ini dicapai lewat metode pengkajian sains yang absah, yang dapat diulang kembali oleh para saintis lain kapanpun dan di manapun dengan hasil yang sama. OS seorang saintis, LGBT sekalipun, sama sekali tidak ada hubungannya dengan temuan-temuan ilmiah mereka yang memenuhi kriteria temuan ilmiah.

Juga saya mau bertanya: Apakah seorang perempuan yang menjadi ginekolog, yang memiliki ilmu pengetahuan dan kemampaun teknis untuk menangani hal-hal yang terkait dengan semua organ reproduktif perempuan, termasuk payudara, akan tidak objektif dan bias dalam dia bekerja sebagai seorang ginekolog hanya karena dia perempuan?

Jika LGBT adalah realitas umum dalam dunia hewan non-manusia, mengapa orientasi homoseksual pada manusia (yang notabene adalah hewan mamalia cerdas) harus dipandang sebagai suatu penyimpangan akhlak yang harus dikutuk atas nama suatu ajaran agama?

Jadi, perlu ditegaskan bahwa orientasi homoseksual pada manusia juga sama alamiahnya dengan orientasi heteroseksual atau orientasi biseksual. Heteroseksualitas tidak bisa dijadikan norma untuk menilai dan melecehkan apalagi mengkriminalisasi baik homoseksualitas maupun biseksualitas. Tetapi, adakah landasan-landasan ilmiah bagi pernyataan saya ini? Tentu saja ada.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.