Home » Gagasan » LGBT, Agama, Teks Alkitab, dan Temuan Sains Modern

LGBT, Agama, Teks Alkitab, dan Temuan Sains Modern

3.48/5 (29)

Seksualitas itu cair! Anda dapat bertanya ke saya tentu saja, apakah ada bukti klinis bahwa OS setiap orang itu dinamis, cair, dan tidak statis, atau tidak baku, begitu mereka dilahirkan. Ya, saya menyatakan hal itu justru karena bukti-bukti klinisnya ada. Institut kesehatan masyarakat nasional yang terkemuka di Amerika Serikat, yang dinamakan The CDC (The Centers for Desease Control and Prevention), telah melakukan survei nasional atas 9.000 responden dari berbagai jenis OS selama tahun 2011 hingga 2013.

Para pakar peneliti menemukan bahwa ternyata pria hetero juga suka bereksperimen melakukan hubungan seksual anal dengan sesama pria yang juga hetero, meskipun keduanya sama sekali bukan homo dan juga bukan biseksual. Mereka menegaskan bahwa baik perempuan maupun lelaki keduanya sama-sama memiliki seksualitas yang cair, tidak baku, dan mereka terdorong juga untuk mengadakan hubungan seksual dengan sesama jenis kendatipun kedua belah pihak sama-sama bukan gay dan juga bukan lesbian dan bukan biseksual.

Mereka menandaskan bahwa OS itu ternyata mendiami kawasan abu-abu, ketimbang kawasan hitam atau putih. Freewill atau kehendak bebas manusia adalah juga salah satu faktor ekstragenetik (yang umumnya dinamakan faktor epigenetik) yang ikut menentukan perilaku seksual seseorang.

Perilaku seksual itu bukan bakat yang tidak bisa diubah lagi hingga orang wafat, juga bukan takdir ilahi yang tidak bisa ditolak. Perilaku seksual itu, jadinya, memang urusan keputusan bebas pribadi masing-masing pasangan apapun yang terlibat, selain faktor genetik juga ikut memberi andil kuat. Kemauan gen bukan segala-galanya untuk segala hal dalam kehidupan organisme manapun dalam jagat raya ini.

Hal yang terpenting adalah ini: Jika LGBT ditolak, dibenci dan dimusuhi oleh para ideolog anti-LGBT, justru karena para heteroseksual juga bisa berubah sementara menjadi LGBT sejalan dengan kehendak bebas mereka, maka, konsekwensinya, para heteroseksual manapun juga harus senantiasa dicurigai, diawasi dan dikuntit, dan juga perlu harus dibenci dan dimusuhi dan diperangi. Harap anda catat: setiap heteroseksual juga LGBT potensial!

Lalu, siapakah yang harus mengawasi dan menguntit kalangan hetero yang juga LGBT potensial ini? Tuhan Allahkah? Lalu, Allah dalam agama yang mana? Juga, Apakah Allah mempunyai OS? Ataukah justru Allah melampaui semua kategori orientasi seksual sehingga dia juga merangkul semua OS yang ada dalam alam ini dengan kasih sayang?

Dunia semacam inikah yang kita inginkan, yang sangat dibuat rumit dan repot oleh masalah OS yang sebetulnya lebih merupakan masalah personal, sejauh tidak menimbulkan ekses tindak kriminal dalam masyarakat dan dalam setiap rumah tangga?

The CDC selanjutnya menyimpulkan demikian:

Hal yang benar adalah bahwa satu-satunya orang yang tahu tentang segala sesuatu mengenai identitas seksual diri sendiri dan pilihan-pilihan seksual sendiri adalah diri orang-orang itu sendiri. Lepas dari sudah berapa banyak studi dan laporan yang sudah dibuat, aktivitas seksual dan orientasi seksual akan selalu merupakan isu-isu personal yang rumit, yang sangat mungkin menghasilkan beranekaragam pengalaman yang berbeda bagi setiap orang, dan berisi beranekaragam perasaan dan kisah yang tidak dapat diungkap hanya dengan angka-angka./60/

Kaitan antara gen dan lingkungan atau ekologi kehidupan dan gaya hidup dalam membentuk OS seseorang juga ditemukan dalam kajian-kajian yang terfokus pada “penanda-penanda epigenetik” (“epigenetic markers”, atau EM). EM menunjuk pada perubahan-perubahan kimiawi pada DNA yang berdampak pada ihwal bagaimana gen mengekspresikan diri, tapi tidak berdampak pada informasi genetik dalam gen sendiri. EM ini dapat diturunkan ke generasi selanjutnya, tapi juga dapat diubah oleh lingkungan kehidupan dan gaya hidup.

Faktor genetik dan faktor epigenetik berinteraksi dalam semua aspek biologis manusia, juga dalam pembentukan OS setiap individu. Studi klinis mutakhir yang dilakukan genetikus Eric Vilain dkk dari Universitas California, Los Angeles (UCLA), telah menemukan interaksi antara gen dan epigen dalam pembentukan OS. Vilain menegaskan bahwa dia tidak terkejut ketika menemukan bahwa selain faktor genetik, faktor epigenetik juga terhubung dengan OS seseorang./61/

Jadi, gen memang bukan segala-galanya yang menentukan OS. Epigen yang dibentuk dan diubah oleh lingkungan dan gaya hidup juga ikut membangun OS setiap individu. Berhubung lingkungan dan cara hidup yang juga ikut menentukan OS seseorang itu lazimnya terus berubah, dinamis, maka OS juga mustinya dinamis, cair, tidak baku selamanya.

Kesalahan fatal: mereparasi LGBT. Jika seksualitas manusia itu dinamis, maka terbuka kemungkinan bahwa perilaku hetero- dan homo-seksual juga bisa bersifat sementara, bukan suatu OS yang menetap selamanya. Jadi, sebagaimana semua OS bisa berubah, dari heteroseksual ke homoseksual, begitu juga sebaliknya: homoseksualitas bisa berubah sendiri, atau diubah dengan sengaja lewat sains dan teknologi, atau lebih lumrah, lewat gaya hidup setiap orang.

Belum lama ini (2009) para peneliti dari The National Association for Research and Therapy of Homosexuality (NARTH) menegaskan bahwa “adalah mungkin baik bagi pria maupun bagi wanita untuk berubah dari homoseksual ke heteroseksual” dan bahwa “terapi untuk reorientasi seksual kelihatan bermanfaat dan tidak berbahaya, sehingga harus terus disediakan bagi orang-orang yang mencarinya.” Tapi NARTH juga menegaskan bahwa “klien yang tidak merasa tertekan oleh orientasi seksual mereka harus tidak diarahkan untuk mengubahnya oleh para profesional kesehatan mental.”/62/

Tetapi saya harus segera menambahkan info lebih jauh yang sangat penting. Sekarang ini, terutama karena alasan perintah Tuhan dan juga karena tak punya pengetahuan yang benar tentang spektrum OS LGBT, banyak pihak dengan paksa meminta kalangan LGBT untuk menjalani terapi “re-orientasi” atau terapi “konversi” atau terapi “penyembuhan” atau terapi “reparasi” untuk mengubah mereka jadi heteroseksual. Seolah bagi mereka, menjadi heteroseksual atau menjadi LGBT hanya soal menaikkan atau menurunkan sebuah tuas panel listrik atau menekan sebuah tombol OFF dan ON bergantian, bergantung kebutuhan.

Kalangan yang sedang memaksakan kehendak mereka kepada kelompok minoritas LGBT memandang orientasi seksual LGBT sebagai suatu penyakit yang harus disembuhkan, bahkan sebagai suatu gangguan jiwa, dan juga sebagai kutukan Tuhan seperti dulu orang memandang penyakit kusta.

Lebih edan lagi, ada banyak orang memandang kaum LGBT sebagai orang-orang yang sedang kerasukan setan. Mereka melihat manusia normal itu hanya manusia heteroseksual, lelaki dan perempuan, Adam and Eve, bukan Adam and Steve. LGBT kata mereka bukan ciptaan Tuhan meskipun mereka, anehnya, juga keturunan Adam dan Hawa.

Kalangan pembenci LGBT tidak tahu bahwa nyaris semua lembaga kesehatan yang diakui dunia dan nyaris seluruh pakar seksologi yang terkemuka sudah menemukan banyak bukti klinis lintasilmu bahwa LGBT sama normal dan sama sehat dengan orang heteroseksual. LGBT bukan orang sakit. Mereka sehat dan juga sama happy dan sama normal dengan kalangan hetero jika mereka hidup wajar sehari-hari dan tidak dibebani tekanan sosiopsikologis dan berbagai stigma negatif dari masyarakat heteroseksual.

Bahwa terapi reorientasi atau konversi atau penyembuhan atau reparasi terhadap LGBT sangat berbahaya dan merusak mental dan daya hidup kalangan LGBT dan tidak berdasar pada ilmu pengetahuan yang lengkap tentang orientasi seksual, sudah dinyatakan dengan tegas oleh seluruh lembaga kesehatan dunia dan oleh para pakar medik dan pakar seksologi yang profesional, sebagaimana dapat dibaca pada artikel yang berjudul “The Lies and Dangers of Efforts to Change Sexual Orientation or Gender Identity”./63/ Dalam sumber yang memuat banyak info ilmiah penting tentang LGBT ini, dimuat antara lain pernyataan ini:

Fakta terpenting tentang ‘terapi reparatif’, yang kadang juga disebut sebagai ‘terapi konversi’, adalah bahwa terapi ini didasarkan pada suatu pemahaman tentang homoseksualitas yang telah ditolak oleh semua profesional utama kesehatan umum dan kesehatan mental.

American Academy of Pediatrics, American Counseling Association, American Psychiatric Association, American Psychological Association, National Association of School Psychologists, dan National Association of Social Workers, yang semuanya mencakup lebih dari 477.000 profesional kesehatan umum dan kesehatan mental, bulat berpendapat bahwa homoseksualitas bukan suatu gangguan mental, dan dengan demikian tidak memerlukan suatu ‘penyembuhan’.

Dalam artikel yang sama, kita baca tentang hasil penelitian lapangan yang dilakukan Universitas Negara San Francisco tentang kekuatan mental kalangan LGBT yang tertekan dan ditolak jika dibandingkan kalangan LGBT yang dapat hidup happy dan wajar dan diterima.

Ditemukan fakta bahwa “dibandingkan dengan kaum LGBT yang tidak ditolak oleh orangtua dan pengasuh mereka karena mereka memiliki identitas gay atau transgender, orang LGBT yang ditolak dengan kuat memiliki peluang kemungkinan 8 kali lipat untuk bunuh diri, nyaris 6 kali lipat menglami depresi berat, lebih dari 3 kali lipat menggunakan obat-obat terlarang, dan lebih dari 3 kali lipat kemungkinan terkena HIV dan STDs.”

Di negeri kita Indonesia, Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan baru saja, 12 Februari 2016, menyatakan bahwa kaum LGBT ada untuk diayomi dan dilindungi sebagai sesama WNI yang minoritas, bukan untuk dibenci, diusir atau dibunuh./64/

Juga perlu kita ketahui, saya ingatkan kembali, bahwa para pakar kesehatan dan seksologi bangsa kita sendiri, atas nama Depkes RI, di tahun 1993 sudah menyatakan bahwa homoseksualitas bukan suatu penyakit gangguan jiwa. Tetapi jika ada kalangan di NKRI yang memandang LGBT sebagai suatu abnormalitas, suatu gangguan jiwa, suatu kutukan Tuhan, saya dorong mereka untuk mendirikan banyak klinik terapi LGBT, jika memang kalangan yang anti-LGBT ini didorong oleh cinta kasih kepada LGBT.

Lalu kita wait and see, akan adakah “pasien” yang akan dengan ikhlas, rela dan happy mau datang berobat, gratis sekalipun. Atau semua klinik mereka akhirnya terpaksa ditutup karena tidak ada satu pasien pun yang datang untuk berobat. Alhasil, para penyandang dana dari Timteng atau dari Amerika untuk klinik-klinik itu semuanya akan akhirnya mencak-mencak, keki banget, setelah mereka gagal mengubek-ubek NKRI.

Anda perlu mengantisipasi bahwa pro dan kontra terhadap kalangan LGBT di negara kita sekarang ini akan membuka banyak peluang bisnis baru reparasi LGBT yang akan dikelola oleh lembaga-lembaga keagamaan fundamentalis dari berbagai agama. Sejauh saya tahu, telah ada sebuah komunitas di negeri ini yang diberi nama Peduli Sahabat yang mengklaim mampu mereparasi OS LGBT untuk pulih kembali ke OS heteroseksual.

Baru saja, 24 Februari 2016, Prof. Franz Magnis-Suseno dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, menyatakan bahwa usaha “mau menyembuhkan atau membina ke jalan yang benar mereka yang berkecenderungan alami [sebagai LGBT] adalah tidak masuk akal.” Selanjutnya, Prof. Magnis menegaskan bahwa

kita mesti menyepakati bahwa segala diskriminasi terhadap mereka yang homo harus diakhiri. Orientasi seksual tidak relevan untuk kebanyakan bidang kehidupan. Dari seorang pejabat tinggi dapat diharapkan bahwa dia bisa membedakan antara wawasan tingkat taman kanak-kanak dan wawasan universitas. Justru universitaslah tempat di mana diskursus kompeten dan terbuka terhadap implikasi perbedaan orientasi seksual harus dibicarakan. Para rektor universitas wajib berat menjamin kebebasan akademik. /65/

Saya kutipkan kesimpulan Simon LeVay tentang orientasi seksual. Tulisnya,

Orientasi seksual adalah suatu aspek yang cukup stabil dari kodrat manusia, dan bahwa kalangan heteroseksual, gay dan biseksual telah ada di semua kebudayaan. Hal ini menyarankan bahwa faktor-faktor biologis yang umum terdapat di seluruh umat manusia dapat bertanggungjawab bagi kemunculan individu-individu yang memiliki OS berbeda-beda.

Namun kita perlu juga berpikir berbeda tentang OS dalam diri pria dan wanita, dan bahwa faktor-faktor kultural juga berpengaruh besar pada bagaimana homoseksualitas diekspresikan dalam masyarakat-masyarakat yang berlainan dan di sepanjang sejarah manusia. Dengan kata lain, penjelasan-penjelasan berbasis ide-ide biologis tentang OS manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan juga, tidak seperti yang kita harapkan./66/

Saya juga mau ingatkan bahwa dalam bab terakhir bukunya, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation, LeVay mengusulkan segi-segi lain dari seksualitas manusia, khususnya OS homoseksual, yang perlu diteliti dalam kajian-kajian mendatang.

Ini adalah sebuah sikap ilmiah tulen, sikap yang tidak melihat temuan-temuan ilmiah sendiri apapun sudah final, yang tidak menyisakan segi-segi lain yang harus diteliti lebih lanjut. Tidak ada sains yang sudah final. Sains selalu membutuhkan penyelidikan lebih lanjut, yang bisa menfalsifikasi temuan-temuan sebelumnya atau malah memperkuat.

Sejauh ini, LeVay menemukan semua temuan kajian OS homoseksual sebelumnya valid, terverifikasi. Meskipun demikian, sebagai sains, kajian-kajian tentang homoseksualitas tidak akan berhenti, kapanpun juga. Salah satu bidang yang kini paling menantang dalam kajian terhadap seksualitas manusia adalah menemukan “gen-gen homoseksual”, seperti yang diharapkan LeVay.

Penemuan bagian Xq28 dalam kromosom X pasti akan disusul dengan temuan-temuan lain yang lebih revolusioner, antara lain lewat teknik GWA yang sudah disinggung di atas. Sebuah kajian mutakhir tentang orientasi seksual juga menunjukkan bahwa tingkat keandalan memprediksi orientasi seksual dengan berbasis gen sangat signifikan, mencapai angka 70 persen./67/

Tidak usah terkejut jika tidak lama lagi para pakar genetika dan seksologi juga akan sepakat bulat bahwa orientasi seksual setiap orang memiliki basis genetik yang sangat kuat, dengan mereka mengajukan bukti-bukti yang kokoh.

Sikap dan posisi para saintis jelas sangat berbeda dari sikap para agamawan dan hakikat agama. Agama dan para agamawan memandang semua pengetahuan kuno manusia di era pra-modern dan pra-ilmiah tentang seksualitas, yang masuk ke dalam kitab-kitab suci zaman dulu, sudah final dan benar mutlak.

Ketika mereka diminta untuk memberi bukti-bukti atas klaim mutlak-mutlakan mereka ini, mereka selalu mengelak dengan menjawab, “Wah, itu semua wahyu Allah yang pasti tidak bisa salah.” Betulkah? Ya, betul, sejauh hanya sebagai asumsi-asumsi belaka tanpa pembuktian empiris klinis apapun. Dengan sikap seperti ini tentu saja mereka tidak akan pernah bisa membicarakan orientasi seksual manusia di ranah ilmiah, kapan pun juga.

Begitu juga, jika seseorang yang sudah menjalani studi panjang dalam dunia sains, lalu telah lulus menjadi seorang doktor, tetapi, setelah itu, semua pikirannya masih dikendalikan mutlak oleh agamanya, maka dia akhirnya akan berubah juga menjadi seorang pseudo-saintis, alias saintis gadungan. Dan sebagai pseudo-saintis, dia akan mempelintir sains apapun untuk dicocok-cocokkan dengan kemauan agamanya.

Untuk orang yang semacam ini, temuan-temuan sains modern tentang homoseksualitas pun akan dengan segala cara berusaha dia telikung di sana-sini, dan akhirnya dia akan abaikan sama sekali, atau dia kabarkan ke mana-mana bahwa pandangan-pandangan saintifik tentang orientasi seksual semuanya salah.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.