Home » Gagasan » Pembaruan » Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam
Abdul Moqsith Ghazali (Foto: Satuharapan.com)

Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam

5/5 (2)

Introduksi agama cinta di saat kekerasan datang bertubi-tubi adalah oasis. Kita ingin mengembalikan Islam kepada semangat dan khittah awalnya sebagai agama cinta bukan agama prasangka. Agama yang terus-menerus dikampanyekan dengan jalan teror dan kekerasan akan kehilangan simpati dari pemeluk agama itu, apalagi dari orang lain. Sementara agama yang direklamekan dengan cinta, maka ia akan mengundang selera.

Sejarah agama-agama menunjukkan perihal naik dan turunnya pamor satu agama. Bahkan, ada agama yang telah ribuan tahun hidup kemudian sirna ilang kerta ning bumi. Pasti ada banyak faktor kenapa agama-agama itu tak lagi diminati dan tak dipilih masyarakat. Di samping karena ketidak-mampuan agama untuk beradaptasi dan bernegosiasi dengan lingkungan sosial baru, faktor para juru kampanye yang suka menebar tafsir kebencian dan menghalalkan kekerasan akan turut memerosokkan reputasi agama itu.

Islam telah berumur 1500-an tahun. Ia akan tetap abadi dan diminati sekiranya ditopang dengan tafsir-tafsir keislaman yang pro-perdamaian, bukan pro-kekerasan. Tafsir-tafsir lama yang pro-kekerasan dan tak menghargai nilai-nilai kemanusiaan tak mungkin kita lestarikan.

Namun, tafsir-tafsir terdahulu yang pro-perdamaian pastilah akan tetap berguna buat tegaknya Islam yang ramahtan lil alamin. Terhadap karya ulama terdahulu yang pro-pluralisme dan perdamaian, berlaku kaidah, ”al-Muhafadlah ’ala al-qadim al-shalih wa al-alkhdzu bi al-jadid al-ashlah” [memelihara yang lama yang masih maslahat dan mengambil yang baru yang lebih maslahat].

Posisi Akal

Ajaran Islam tak ditujukan kepada anak-anak, melainkan kepada manusia dewasa yang memiliki kemampuan rasional utuh. Dengan akalnya manusia bisa menentukan yang baik dan yang tidak. Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi pernah berkata, “Wahai saudara, engkau adalah pikiran itu sendiri, dirimu selebihnya bukanlah apa-apa kecuali otot dan tulang”. Menurut Ibnu Bajjah, berfikir adalah fungsi tertinggi manusia. Berfikir akan mengantarkan manusia berjumpa dengan Tuhan sebagai Sang Akal Aktif.

Ibnu Thufail dalam novel filsafatnya, Hayy ibn Yaqzhan, mengisahkan seorang anak yang dibuang ke pulang kosong. Ia diasuh hewan dan dididik alam. Di tengah rimba itu, dengan akalnya yang masih berfungsi, ia bisa berfilsafat dan berteologi, dan akhirnya bisa menyatu dengan Tuhan. Apa yang dikatakan para filosof itu paralel dengan apa yang ditegaskan al-Qur’an. Bahwa Allah telah mengilhamkan kepada manusia suatu kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk [faalhamaha fujuraha wa taqwaha].

Akal yang dimiliki manusia merupakan anugerah Allah paling berharga. Ia tak hanya berguna untuk mencapai pemahaman yang mendalam tentang yang baik dan yang buruk, tapi juga untuk menafsirkan kitab suci. Tanpa akal, kitab suci tak mungkin bisa dipahami. Menurut Ibn Rushd, dalam agama, akal berfungsi untuk menakwilkan kitab suci ketika teks kitab suci tak bisa dikunyah akal sehat. Sebuah hadits menyebutkan, “al-din aql la dina li man la aqla lahu” [agama itu adalah akal, tak ada agama bagi orang yang tak berakal].

Maka benar ketika para ulama menyepakati bahwa kebebasan berfikir (hifdzl al-‘aql) termasuk salah satu pokok ajaran Islam (maqashid al-syariah). Dengan demikian seharusnya Islam lekat dengan kebebasan berfikir. Imam Syafii konon pernah ditanya salah seorang muridnya tentang tafsir agama yang bertentangaan dengan akal, maka Imam Syafii memerintahkan untuk mengikuti petunjuk akal, karena akal punya kemampuan untuk menangkap kebenaran.

Problemnya, kita menghadapi fenomena dan kecenderungan untuk mendisfungsikan peran dan kemampuan akal. Fenomena ini bisa dilihat dari dua hal. Pertama, bermunculannya berbagai fatwa keagamaan yang membingungkan umat menunjukkan betapa tak berfungsinya akal. Mulai dari haramnya perempuan menyetir mobil, legalisasi perbudakan perempuan, hingga tak dibolehkannya rebonding.

Dalam kasus-kasus seperti ini, akal tak dilibatkan dalam pengambilan keputusan hukum. Menurut mereka, manusia yang hanya mengandalkan akal sembari mengabaikan petunjuk tekstual-skriptural wahyu tak akan menjadi manusia yang baik. Sonder petunjuk abjad dan titik koma wahyu, tindakan manusia menjadi tak terkontrol, hidup permisif, sehingga yang akan muncul adalah sejumlah kekacauan dan kesemrautan di tengah masyarakat.

Kedua, pada saat yang bersamaan, diciptakanlah sejumlah lembaga keagamaan yang berfungsi untuk menghukum orang-orang yang dianggap menggunakan akal secara overdosis. Institusi ini diberi kewenangan memvonis bahwa seseorang telah menyimpang atau keluar dari Islam. Sejumlah intelelektual Muslim mendapatkan vonis sesat-menyesatkan dan kafir dari lembaga-lembaga tersebut. Ujungnya adalah penghalalan darah yang bersangkutan.

Naif, jika di negeri-negeri lain orang berlomba-lomba untuk menggunakan akal pikiran, maka di negeri-negeri Muslim, orang-orang masih berlomba untuk mengkafirkan mereka yang menggunakan pikiran. Ramainya pengafiran disaat orang lain menggunakan pikirannya tampaknya mendorong Nashr Hamid Abu Zaid untuk menulis buku al-Tafkir fi Zaman al-Takfir.

Banyak orang yang kini tak berani menggunakan akal pikiran ketika berhadapan dengan pemikiran keagamaan. Padahal, wahyu al-Qur’an terus menantang manusia untuk mendayagukanakan akalnya dengan berbagai jenis ungkapan seperti afala ta’qilun (apakah kalian tidak berfikir), afala tatadabbarun (apakah kalian tidak merenung), afala yandhurun (apakah mereka tidak melihat dengan seksama), dan lain-lain.

Dalam ushul fikih, akal diberi kesempatan untuk mensortir dan menyeleksi hukum dalam Islam, yang dikenal dengan takhsish bi al-a’ql, taqyid bi al-aql, tabyin bi al-‘aql. Akal diberi otoritas untuk menjelaskan ajaran yang samar, membatasi keberlakuan hukum yang terlampau umum, mengeksplisitkan sesuatu yang tersembunyi (implisit) dalam wahyu.

Dengan demikian, wahyu dan akal mestinya saling mempersyaratkan. Yang satu tak menegasi yang lain bahkan saling mengafirmasi. Akal akan turut memperkaya wawasan etik wahyu. Sementara wahyu potensial mengafirmasi temuan kebenaran dari akal. Akal merupakan subyek yang aktif dalam mendinamisasikan gugusan ide-ide ketuhanan dalam wahyu. Sementara wahyu adalah tambang yang bisa digali terus-menerus oleh akal manusia. Dengan perangkat akal yang dimilikinya, manusia kemudian tak hanya berfungsi sebagai hamba Allah (‘abdullah) melainkan juga sebagai khalifah Allah di bumi.

Kalau kita percaya pada kisah purba agama, begitu pentingnya kedudukan manusia sebagai makhluk yang berakal budi di sisi Allah, sampai-sampai Allah tak mempedulikan sejumlah kritik para malaikat yang menolak penciptaan manusia. Allah mengacuhkan keberatan malaikat atas diciptakannya Adam. Allah tetap menciptakan manusia bahkan memikulkan amanat kepadanya.

Kepercayaan Allah dan pemberian amanat kepada manusia ini bukan tanpa alasan. Sekiranya wahyu Allah tak sampai kepada sekelompok manusia, maka Allah telah menyiapkan piranti lunak berupa nurani dan akal budi yang berfungsi sebagai suluh penerang dan penunjuk jalan. Allah tak akan membebankan kewajiban syariat dan memberikan hak kepada manusia jika manusia hanya berupa daging, tulang, dan darah. Dengan nurani dan akal budi yang melekat pada dirinya, maka manusia pantas memilikul amanat dari Tuhannya.

 

Ini adalah naskah pidato Pembaruan Islam di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8 Juli 2011

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.