Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Acep Zamzam Noor: “Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom”
Acep Zamzam Noor (idwriters.com)

Acep Zamzam Noor: “Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom”

5/5 (2)

Kenapa itu bisa terjadi saat ini?

Hal-hal seperti itu bisa terjadi ketika kondisi negara memang sedang kacau. Kondisi ekonomi yang kacau dan tatanan sosial-politik tidak stabil, mungkin penyebab utamanya. Dengan begitu muncul orang-orang yang frustrasi. Saya tidak melihat bom bunuh diri misalnya murni berlandaskan ideologi. Ada unsur ekonnomi dan lain-lainnya.

Saya pernah didatangi seseorang yang mengaku dari jaringan tertentu. Dia sedang mencari kader-kader untuk diubah dalam dua minggu menjadi seorang militan yang siap syahid, berjihad. Nah, yang direkrut memang bukan orang-orang yang paham agama, atau mereka yang bukan mengalami proses yang natural dalam beragama. Tapi mereka juga orang-orang yang terdesak secara ekonomi, frustrasi, lalu ditarik dan digenjot dengan metode tertentu sehingga siap untuk melakukan apa pun.

Tapi proses membujuk orang untuk mati demi sesuatu yang absurd itu kan tidak gampang?

Ya, tidak gampang, memang. Mungkin mereka punya metodenya. Kalau merekrut dari orang-orang pesantren, mungkin juga agak susah. Makanya saya punya istilah “suntik anjing” itu tadi. Artinya, orang yang tidak tahu apa-apa, tapi disuntik, diprovokasi, sehingga menjadi orang yang lain sama sekali.

Itu mungkin-mungkin saja, karena situasi sosial-politik yang tidak menentu dan banyak orang kehilangan arah dan tak tahu harus berbuat apa. Dengan masuk kelompok tertentu itu, mereka seolah-olah mendapat tempat untuk mengekspresikan diri.

Tapi kan faktor pengaruh luar juga kuat, seperti contoh-contoh bom bunuh diri di luar?

O, ya. Kalau saya lihat, sebetulnya sejak tahun 1980-an proses radikalisasi sudah mulai. Sejak itu, banyak orang-orang yang dikirim ke Afganistan untuk perang, termasuk dari Tasikmalaya. Imam Samudra itu muncul belakangan itu adalah kader dari orang-orang yang sudah sejak tahun 1980-an berproses.

Metodenya dalam memengaruhi orang bisa hebat sekali. Jadi ini bukan ujug-ujug, bukan tiba-tiba muncul setelah reformasi. Ada proses yang sangat panjang. Pada awal 1980 atau 1970-an, kita mengenal nama Imron. Kemudian ada beberapa nama lain.

Sebagai orang yang tumbuh dalam tradisi keagamaan di pesantren, apakah Anda merasa fanatik dalam beragama?

Fanatik bisa berbeda-beda makna. Dia bisa dimaknai suka menyerang orang, atau suka mengajak berdebat tentang soals-soal yang diyakini. Kalau fanatik pada agama untuk kita rasakan sendiri, tidak menyalahkan orang, itu tidak apa-apa. Tapi akan menjadi ekstrim ketika kita juga menyalahkan, menyerang, mempengaruhi, dan memprovokasi dan mengganggu orang lain.

Bahwa kita meyakini agama kita, lalu menjalankannya dengn baik, itu tidak masalah. Tapi ketika mengatakan “hanya ini yang paling benar; itu salah”, itu akan bermasalah. Apalagi kalau suka membikin vonis dan fatwa dengan gampangan.

Apa yang pernah Anda lakukan untuk meminimalisasi radikalisasi beragama di Tasikmalaya?

Di Tasik, saya tinggal di pesantren, tapi kegiatan saya tidak melulu di pesantren, karena pesantren sudah banyak yang menggarap. Saya justru keluar, bertemu dengan teman-teman luar pesantren, tapi banyak juga yang santri, di Sanggar Sastra Tasik.

Di situ kita belajar berpuisi. Karena dengan berpuisi, kita menjadi peka terhadap lingkungan, peka terhadap ketidakadilan, dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang merugikan orang banyak.

Jadi, kami membuat puisi untuk melawan bom, he-he. Pada awalnya kita belajar membuat puisi, membuat orang senang puisi, lalu berapresiasi. Kita membaca puisi di tempat-tempat yang tidak disebut gedung kesenian atau tempat-tempat tertentu.

Kita membacanya langsung di desa, kampung, halaman rumah, atau di mana saja. Itu sebenarnya salah satu kegiatan yang kami lakukan; apresiasi puisi. Tapi sebenarnya harapan saya jauh dari sekadar apresiasi puisi. Yang penting, kita mengasah kepekaan batin kita yang mungkin selama ini kurang kita perhatikan. Itu salah satu harapan saya.

Apakah di Tasikmalaya juga terjadi isu formalisasi syariat?

Di Tasikmalaya, mungkin baru sekarang ada isunya syariat Islam akan diterapkan secara formal oleh Pemda. Tapi ternyata itu tidak jadi. Yang terjadi sekadar visi Tasikmalaya sebagai kota religius-islami, dan itu juga sudah lewat perdebatan yang sangat panjang. Tapi apa yang disebut religius-islami itu tidak jelas. Kan yang merumuskan DPRD. Kita sering diskusi dengan mereka soal itu, dan mereka juga tidak bisa menjelaskan dengan baik.

Nah, saya bukannya tidak setuju syariat Islam diterapkan di Tasikmalaya. Tapi saya curiga kalau maksudnya memang bukan untuk memajukan Islam, atau bukan untuk menerapkan syariat Islam sebagaimana retorikanya. Itu hanya jualan politik yang dilakukan orang-orang politik. Saya melihat itu tidak serius, dan cenderung memperlakukan agama sebagai barang dagangan.

Makanya harus saya lawan. Bersama teman-teman, saya berusaha membongkar apa yang sebenarnya ada di balik kepala mereka. Apa yang mereka maksud dengan penerapan. Ternyata, isu itu hanya ramai menjelang pemilu.

Begitu pemilu selesai, tidak ada apa-apa lagi. Yang terjadi, beberapa pejabat asik berpoligami. Itu saja. Ternyata, perjuangan penerapan syariat Islam di Tasikmalaya itu intinya memperjuangkan poligami. Yang lain-lain tidak.

Apakah banyak berkesenian dapat diharap untuk membendung ekstremisasi beragama?

Kalau saya selalu lewat kesenian, karena ia salah satunya juga mendidik kita untuk berpikir terbuka; berpikir bahwa kita bukan yang paling benar, tapi selalu ada kebenaran-kebenaran lain. Dengan begitu, kita tidak memandang agama sebagai sesuatu yang kaku atau menakutkan, tapi bisa lebih santai.

Saya dan teman-teman di Tasikmalaya mewacanakan Islam santai; berislam lebih gembira. Karena beragama itu juga harus gembira. Ketika tegang dalam beragama, kita akan bertemu perbedaan-perbedaan, dan ini akan menjadi musuh-musuh yang membuat kita lelah. Sementara yang kita butuhkan adalah kegembiraan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.