Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Butet Kertaradjasa: “Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya…”
Butet Kartaradjesa (Foto: tempo.co)

Butet Kertaradjasa: “Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya…”

4.68/5 (19)

Di kasus itu, agama jadi faktor disintegrasi, ya?

Ya. Kok jadi repot, pikir saya. Padahal, ini kan perkara bagaimana orang meyakini sesuatu. Barangkali, kalau dalam Kristen versi saya, itu mungkin akan menolong perjalanan ibu saya ke surga—kalaupun surga itu ada.

Terus yang Katolik juga berpikir begitu. Tapi, ini kok malah bingung. Dan akhirnya, daripada ribut semua, urusannya diserahkan pada yang melayat saja. Mana yang terbaik untuk yang ngelayat dan maunya bagaimana, terserah.

Anda percaya akan adanya surga?

Ya… kalau iming-iming itu membuat kehidupan ini jadi lebih baik, bolehlah iming-iming itu diselenggarakan. Asalkan, orang menjadi baik. Tapi kalau sudah diiming-imingkan perilaku orang tetap juga tidak baik, apa gunanya?!

Kira-kira, kapan Anda rindu ingin beragama secara penuh?

Pada saatnya, pasti akan tiba. Sejak lahir, saya juga tidak tahu kok tiba-tiba sudah beragama Kristen. Semua itu terjadi sebagai keniscayaan yang tiba-tiba. Mungkin, saatnya akan tiba—entah kapan, saya juga tidak tahu—ketika saya memenuhi impian semua orang untuk rajin ke gereja.

Barangkali, kelak alam ini akan memberi isyarat sehingga tiba-tiba saya tak akan berbahagia dalam hidup kalau satu menit saja tak berada dalam gereja. Entah jadi tukang sapu, tukangngelapi kursi gereja, atau entah jadi apa.

Yang penting dalam gereja. Mungkin akan tiba saatnya ketika saya percaya hukum-hukum alam akan seperti itu, atau alam akan membimbing saya menjadi orang yang sangat agamis—dalam artian sekadar rajin ke gereja. Tapi saya tidak tahu kapan itu akan terjadi.

Kesannya, Anda apriori terhadap agama; tidak coba mendalami, tapi sudah menjatuhkan pilihan pada cara Anda sendiri…

Karena saya menyangka di dalam gede rasa saya, bahwa pekerjaan dan hidup saya dalam proses membesarkan anak-anak, membantu tetangga-tetangga, menjadi sandaran sejumlah orang, sudah bagian dari agama itu sendiri. Kalau saya dibebani lagi dengan yang lain, nanti saya malah repot, dan itu akan menipu diri saya sendiri.

Saya tak ingin, demi label untuk jadi seorang agamis, saya akan kerepotan, sementara pekerjaan saya yang pokok terbengkalai. Yang begini-begini saja sudah dianggap tidak beragama! Lebih dari itu, saya juga tidak bermimpi akan menjadi pejabat publik yang harus pamer beragama. Bagi saya, itu sudah tak ada gunanya.

Tapi, orang yang taat beragama mengandaikan bahwa dengan menjalankan ritual agama, kita akan jadi lebih baik…

Kalau masih pengandaian, itu kan masalah orang berfantasi saja. Saya juga punya hak untuk mengandai dan berfantasi sendiri. Jadi, boleh-boleh saja, kan ? Ya, saya memakai perspektif saya dalam membangun fantasi dalam agama.

Dengan cara beragama seperti itu, Anda sudah merasa terbimbing?

Wah… surga itu mengejar-ngejar saya, lho, Mas! Surga malah berkata: “Ayo,please, Butet!”

Ada pengaruh-pengaruh mistik atau kejawen dalam pola keberagaman Anda?

Misalnya gimana?

Soal tidak terlalu terikat dengan ritual itu…

Kayaknya iya. Tapi sesungguhnya, kalau mau mencurigai diri saya sendiri, faktornya cuma sederhana saja kok. Yaitu, soal kemalasan. Karena saya ini malas, bangunnya kesiangan, kalau Minggu juga begadang dan tak bisa bangun pagi, akhirnya saya tidak pernah ke gereja. Jadi, kalau saya ngomong macam-macam, pada akhirnya cuma pembenaran untuk kemalasan saya. Cuma itu persoalannya.

Tapi kemalasan itu juga dilarang agama lho, Mas!

Tapi itu sudah inheren dalam diri saya. Jadi, sudah begitu melekat. Saya sebetulnya ingin menepis kemalasan itu. Tapi mungkin, karena alam belum membimbing saya untuk berkemampuan menepis kemalasan itu, jadinya saya masih seperti ini dan dikutuk banyak orang. Saya berterimakasih saja atas semua sarannya.

Nampaknya Anda begitu esensialis dalam beragama, ya?

Iya, kali, ya? Saya itu malah bingung kalau ditanya begituan. Suatu kali, saya pernah ditanya oleh calon-calon romo yang datang ke tempat latihan saya. Dia mewawancarai saya panjang-lebar, lalu bertanya apakah saya ngerti soal Kristologi.

Mereka bilang, itu ilmu tentang Kristus. Mereka ngomong panjang-lebar, tapi saya nggak ngerti. Selama ini, saya hanya memainkan monolog, sementara skripnya berisi apa, nilai-nilai yang dibawa macam apa, saya tidak peduli. Apa yang tersaji, itulah saya.

Kalau Anda mau menggolong-golongkan monolog saya itu dalam kategori apa, itu urusan kalian, bukan perkara saya. Saya Cuma merasa, inilah yang terbaik untuk saya pada hari ini. Dan dengan itu, saya bisa membahagiakan diri saya dan teman-teman yang sedang bekerja bersama saya.

Ketika menyampaikan pesan-pesan atau misi-misi luhur dalam cerita itu, dan mau dilihat dari perspektif agama—berteologi atau tidak—silakan saja. Itu bukan perkara saya.

Adakah secuil pengaruh agama pada diri Anda?

Ada. Kalau pas bingung, saya harus berdoa. Pengaruh lain, untuk mengisi kolom KTP itu, hehehe.

Pernah membuat karya yang berisi muatan agama?

Pernah, sewaktu masih suka melukis. Waktu itu saya ikut-ikutan menggambar Yesus ketika disalib, dipentar. Yesusnya saya gambar kayak karikatur. Yesusnya buting, botak, dan pakai kaca mata. Gitu-gitulah! Dulu, saya suka iseng.

Karya itu tidak membuat marah orang yang taat beragama?

Karya itu justru terjual, Mas. Ia dibeli pendeta dari Jerman. Waktu itu, saya masih di SMP atau SMA.

Ada karya teater yang religius, nggak?

Besok, tangal 27 Desember, saya akan ikut perayaan Natal nasional bersama teman-teman di Teater Koma. Mas Nano yang jadi sutradaranya. Saya akan ikut main. Tapi kisah natal yang saya mainkan itu bukan merekonstuksi cerita-cerita Yesus yang konon lahir di gua atau kisah-kisah semacam itu, tapi kisah yang sudah diberi konteks dalam kebangsaan.

Di penghujung maut nanti, akan seperti apa Mas Butet ini?

Kalau dalam perkara mati, saya mengikuti ajaran Om saya, bapak Hanung Gusti Aksono. Dia bilang begini: “Nak, kalau aku mati, terserah mereka yang hidup. Kalau istri dan anak saya Islam dan mau menyembahyangkan saya secara Islam, silahkan saja!

Kalau kakak-kakak saya yang Kristen mau menyembahyangkan secara Keristen, silahkan! Kalau adik saya yang Katolik mau menyembahyangkan secara Katolik, silahkan juga! Itu urusan orang hidup.

Saya kan orang mati. Bahkan ekstrimnya, andaikan saya ditaruh di jalan raya, lalu burung gagak dibiarkan mencucu’i tubuhku, saya juga ikhlas. Toh saya juganggak ngerti. Itu perkaranya orang hidup, bukan perkaranya orang yang sudah mati.

Apa yang akan Anda tinggalkan untuk yang masih hidup?

Karena saya pemuja harmoni, saya tak ingin keluarga saya menderita ketika saya mati. Pokoknya dia harus aman, tenang lahir dan batin.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.