Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”
Hanung Bramantyo (Foto: Hdimagegallery.net)

Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Anda takut ketika dibilang halal darahnya seperti itu?

Ya iyalah. Takutlah. Apalagi saya siswa SMA dan dia adalah kepala sekolah dan ulama. Dia dikenal sebagai ulama pada waktu itu. Dia sering mengisi pengajian sebagai seorang ustaz yang disegani. Ibu saya dan masyarakat pengajian di kampong saya juga tahu bahwa kepala sekolah itu seorang ulama terpandang. Ketika dia bilang darah saya halal untuk ditumpahkan, berarti saya dosa dong. Nah, akhirnya saya bertanya, apakah Islam sekejam ini? Saya kemudian nyantri di pesantren Kiai Siraj, NU.

Kok milih pesantren NU? Kan latar belakang pendidikan Anda Muhammadiyah?

Kebetulan Kiai Siraj itu kakek saya. Kakek tapi tidak sedarah. Orang Jawa itu kan kalau dekat sedikit dianggap sebagai simbah, pakde, meskipun tidak sedarah. Nah, saya nyantri ke sana. Saya senang karena ada kesenian di sana. Keseniannya itu bersalawatan , bertabuh-tabuhan dana ada nyanyian di sana.

Jadi agama itu menjadi menarik, menjadi punya warna di situ. Karena itu saya betah di situ. Tapi memang pada awalnya saya merasa sedang mencoba membunuh hasrat saya. Jadi membunuh keinginan saya bahwa saya santri. Saya ingin memperdalam Islam dan tidak mau memperdalam kesenian. Saya ingin mengetahui Islam lebih jauh.

Dan justru ternyata di sana Anda menemukan kesenian.

Ya. Saya menemukan kesenian di situ. Dari situ saya mencoba mendalami kesenian lebih jauh, gitu.

Apakah Anda punya rencana bikin film soal Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan judul , misalnya, Sang Pengayom?

Soal Sang Pengayom Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, memang ada rencana. Sebenarnya Sang Pencerah itu ada sequel-nya.

Jadi ada lanjutannya?

Ya, ada lanjutannya. Karena sebenarnya Muhammadiyah tidak hanya Kiai Ahmad Dahlan, tidak hanya berhenti pada saat Muhammadiyah berdiri. Tapi ada hal yang lebih esensial yang harus beliau lakukan setelah Muhammadiyah itu berdiri. Justru pada saat Muhammadiyah berdiri, itu titik awal sebenarnya. Titik awal Kiai Ahmad Dahlan memulai perjuangannya. Dari situ saya kasih judul Sang Penanda.

Jangan-jangan sudah mulai digarap?

Kita sedang riset sekarang. Apakah bisa tayang tahun 2011 atau tahun 2012, tergantung dari riset saya sekarang ini. Nah, di dalam Sang Penanda itu, Kiai Ahmad Dahlan akan berhubungan dengan banyak orang, dengan banyak tokoh. Karena tahun 1912 atau 1900-an adalah awal masa pergerakan, lahirnya pergerakan. Karena banyak sekali priayi dan intelektual muda yang lahir dari priayi-priayi karena disekolahkan oleh Belanda. Belanda kan membuka politik etis, kemudian pribumi bisa sekolah.

Akhirnya bisa pintar, bisa kritis. Maka, muncullah tokoh-tokoh pergerakan seperti Haji Samanhudi, HOS. Cokroaminoto, Semaun dan lain-lain. Nah, Kiai Ahmad Dahlan itu ada di tengah pergerakan yang sedang hangat ketika itu. Di Solo ada Sarikat Dagang Islam. Ada Tirto Adisuryo di Bogor.

Karena Muhammadiyah sejalan dengan semua gerakan itu maka seperti ada perahudan ada angin segar untuk berlabuh kea rah modernisasi. Pada saat berlabuh ke arah modernisasi itulah terjadi gesekan dengan kaum tradisional.

Itu titik ketegangannya

Ya, gesekan dengan kaum tradisional. Itulah yang akhirnya muncul pada kongres umat Islam di Cirebon tahun 1923. Di situlah pertemuannya Kiai Ahmad Dahlan dengan Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Apakah perjalanan hidup Anda mempengaruhi pandangan-pandangan Anda ketika membuat film dan berkarya di masa berikutnya?

Ya, kebetulan dulu saya tidak tuntas nyantrinya karena bentuk pesantren Mbah Siraj itu tidak seperti pesantren Gontor atau Tebuireng.

Berapa lama Anda nyantri di situ?

Kira-kira tiga bulan sampai lima bulan. Tapi setelah itu, setiap Jumat, Sabtu dan Minggu saya tidur di sana, mengaji segala macam. Akhirnya saya keluar dan melanjutkan aktivitas kesenian saya di Jakarta dengan masuk di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sebelum itu saya sudah berkecimpung dengan dunia teater, sanggar dan lain-lain. Di IKJ saya banyak sekali bertemu dengan orang dari berbagai agama. Dari Kristen, Islam, Budha, Hindu, semua ada di IKJ. Mereka memiliki pandangan yang bebas.

Saya masuk dalam sebuah pusaran kreativitas yang bebas di situ. Tapi kemudian saya rindu pada satu hal, bahwa nilai-nilai keislaman itu sebenarnya sangat menarik, sangat adem dan mengayomi. Tapi saya tidak mencoba untuk menelusuri itu lebih dalam. Saya tinggalkan dan saya hanyut dalam berkesenian.

Saya membuat film Brownis dan Catatan Akhir Sekolah. Begitu saja saya menikmati hidup. Akhirnya sampai pada titik kesempatan Ayat-Ayat Cinta. Sepanjang dari film Brownis sampai film Ayat-Ayat Cinta itu saya tidak bersinggungan dengan agama Islam sama sekali.

Itulah masa-masa sekuler, kalau bisa disebut?

Ya, itulah masa-masa sekuler itu di situ. Pada saat saya melihat novel Ayat-ayat Cinta itu saya kemudian teringat ibu saya. Pada saat saya hijrah pertama ke Jakarta, pesan ibu saya, kamu kalau sudah bisa membuat film, tolong buat film untuk agama kamu. Itu ibu saya yang Cina, yang muallaf. Itu amanat dari ibu saya, bukan dari bapak saya. Bapak saya dari lahir sudah Islam. Tapi ibu saya muallaf. Jadi kata-kata itu justru muncul dari ibu saya.

Saya pikir kata-kata ibu saya itu hanya sambil lalu saja. Ya, namanya juga ibu, menasihati itu biasa. Tapi saat saya melihat novel Ayat-Ayat Cinta itu, lantas terdengar suara ibu saya itu. Akhirnya, ya sudah lah. Oke, ini amanat dari ibu, begitu pikiran saya ketika itu. Novel itu saya baca. Terus terang, jujur saja, novel itu jelek sekali. Kenapa jelek sekali, karena …

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.