Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”
Hanung Bramantyo (Foto: Hdimagegallery.net)

Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Penulisnya marah nanti

Saya sudah bilang seperti itu pada penulisnya. Kenapa jelek sekali, karena tokoh Fachry dalam novel tersebut sangat too good to be true.

Sangat ideal

Ya, sangat si boy sekali. Dulu kan ada Catatan si Boy. Udah ganteng, kaya, dicintai, baik, alim lagi. Ini juga seperti itu. Si Fachry itu. Hanya kelemahannya Fachry itu miskin. Nah, akhirnya saya menemukan satu hal di situ, bahwa cerita tentang Islam itu penuh dengan cinta;

Islam itu mengedepankan sabar dan ikhlas dan tidak melakukan penyerangan, tidak melakukan anarkhi, kekerasan. Itulah yang saya ambil dan saya serap. Akhirnya saya adaptasi menjadi sebuah skenario. Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadlan.

Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya. Jadi saya menisbikan sesuatu yang berada di luar otak. Sementara yang religius itu tidak. Saya tidak percaya itu semua. Akhirnya pada saat saya membuat itu, idealnya saya syuting di Kairo. Pada saat saya datang ke Kairo, melihat pemandangan di sana. Wah, di kepala saya sudah yakin bisa syuting di sini. Harus syuting di sini. Sudah potret segala macam.

Saya menemui produsernya dan saya katakana bahwa anda akan dapatkan film yang sangat bagus. Percaya pada saya, filmnya akan sangat bagus. Nah, ketika saya bilang itu, artinya saya sudah melupakan Tuhan. Saya sudah melupakan segala macam. Pada saat disetujui, saya langsung merasa mendapatkan apa yang saya inginkan. Tapi ternyata saya tidak bisa syuting di Mesir, dilarang, saya tidak mendapatkan ijin.

Karena tidak mendapatkan ijin syuting di Mesir, berarti saya kehilangan lokasi, saya kehilangan momen, dan saya kehilangan aktor. Aktor seperti Aisyah dan Naura seharusnya orang Mesir asli. Tapi saya kehilangan itu semua. Saya sudah kehilangan semuanya. Bagaimana ini, masih dilanjutkan atau tidak?

Dilanjut, saya bilang begitu. Bagaimana caranya harus dilanjut? Saya semakin merasa tertantang. Akhirnya dilanjutkan. Intinya kita harus bisa menciptakan. Tidak bisa syuting di Mesir, tidak apa-apa, kita cari lokasi di Indonesia…

Akhirnya ketemu di Semarang. Wah, saya puas sekali. Tuh, kan saya bisa melakukan sesuatu karena saya menggunakan otak saya. Oke, satu hal seperti itu. Kemudian syuting semua sudah selesai. Tinggal satu hal: kalau tidak ada padang pasir, tidak ada Piramid, tidak ada unta, Mesir, bagaimana? Sementara novelnya sangat rinci menggambarkan tentang Mesir. Ekspektasi saya sangat tinggi karena saya sudah melihat resensi dan tanggapan soal film itu di internet.

Mereka berharap bahwa film itu harus sesuai dengan novelnya. Itu semakin membuat saya takut. Akhirnya kita harus cari cara, pokoknya kita harus syuting di sana. Udah deh, lima orang saja yang berangkat ke Mesir: sutradara, kameramen dua orang, sound dan produser. Lima orang saja, masak tidak bisa mengambil gambar sembunyi-sembunyi di Mesir. Akhirnya saya ngurus visa di sana dan ternyata tidak boleh, tidak dapat visa.

Sekalipun alasannya untuk berkunjung?

Ya. Saya sudah berkoordinasi dengan KBRI di Mesir. Tetap tidak boleh. Ya sudah bagaimana caranya bisa berangkat saja. Kemudian kita pakai maskapai SQ, tapi ketika di Bandara Soekarno-Hatta, SQ menolak dan tidak mau memberangkatkan kami ke Mesir.

Mereka tidak mau berspekulasi menerbangkan orang yang tidak punya visa. Akhirnya sudah lepas semua. Kalau tidak dapat Piramid, onta dan padang pasirnya sajalah. Saya punya foto Piramid nanti di-scan kemudian dikasih burung yang bergerak.

Selesai, gampang. Saya minta onta dan padang pasir saja. Saya cari di Google padang pasir yang terdekat dengan Indonesia dan ketemu di India. Sebenarnya ada yang lebih dekat, tapi tidak ada koneksi ke sana. India, kebetulan produsernya orang India. Kita jalan ke sana. Sembilan belas orang berangkat ke sana. Empat pemian, sisanya adalah kru dan sutradara. Lokasinya ada di daerah Jodpur. Dari Bombai sampai Jodpur itu seharusnya kita naik pesawat. Ternyata kita tidak dapat pesawat.

Tetapi saya tetap ngotot meski tidak dapat pesawat. Sebelum itu, kontrak semua kru sudah habis. Karena syuting mundur, mundur, kontrak kru hanya enam bulan sehingga kru tidak bisa membantu saya. Kemudian saya melobi. Saya lakukan lobi, tolong dong ini, demi apalah, akhirnya mereka mau. Mereka mau kerja untuk saya tanpa ada tambahan pembayaran. Sampai di Bombai, seharusnya kita naik pesawat.

Karena hanya ada satu flight dan hanya ada dua kursi buat saya dan produser, saya tidak mau. Akhirnya kita naik bus AC seperti bus AC jurusan Semarang-Jakarta, bukan bus eksekutif. Perjalanan itu melintasi negara, bukan melintasi kota lagi. Yang kita lintasi adalah Gujarat. Setiap kali saya mendapatkan hambatan, saya selalu bertanya pada diri sendiri, apalagi ini Tuhan yang akan Elu kasih ke gue?!

Di situ mulai muncul nama Tuhan?

Ya, itu terus, mulai dari Mesir. Apalagi ini? Oke, gua jabanin. Lu mau apa gua jabanin, gitu kan. Nah, sampai di situ, oke kita jalan. Saya tanya pada unit lokal di situ, ini berapa jam dari Bombai ke Jodpur? 12 jam. Oh bisa. Saya biasa naik bus 24 jam pergi-pulang Jakarta-Jogja, Jogja-Malang.

Semua siap. Sampai perbatasan Gujarat, ternyata tidak ada paper yang lengkap sehingga kita ditahan di situ. Ini belum syuting lho. Di Gujarat saya berhenti, dan kita ada lima belas orang, tidak ada suaka apapun. Kalau kita hilang, ya hilang saja itu. Tidak ada yang nyari juga. Dan, itu ada Riyanti Cartwaight, Carissa Putri dan Ferdy Nuril. Kita ditodong di situ dengan senjata.

Sebegitu besar tantangannya

Ya. Kita ditodong di situ. Karena bus itu tidak membawa surat-surat lengkap untuk melintasi Gujarat.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.