Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”
Hanung Bramantyo (Foto: Hdimagegallery.net)

Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Lalu dialog dengan Tuhan itu muncul lagi kapan?

Itu muncul lagi, ya di situ muncul. Ya Tuhan, aduh sebentar (nangis sejenak). Ini terakhir. Kalau sampai saya hilang di sini, kalau kita semua hilang di sini, ya kita akan hilang begitu saja. Pada saat itu saya sudah pasrah. Gua siap deh, Lu mau ambil juga gua udah siap. Saya bilang begitu. Saya bersama beberapa kru lantas diskusi. Ya sudah. Bagaimana kalau kita balik saja? Sudah tanggung ini.

Jalan terus, hadapi semuanya. Ternyata Alhamdulillah kita berhenti di tempat itu hanya lima jam. Kita bisa jalan melintasi. Pada saat jalan itu kita bersorak luar biasa. Senangnya luar biasa. Kita jalan sampai sana, sampai syuting. Sampai lokasi kita sujud syukur Karen kita bisa syuting segala macam. Esok syuting semangat, nih. Tapi tetap ada pertanyaan, apalagi nih?

Tapi Anda juga sujud syukur?

Ya, tetap. Sudah ada perubahan. Sujud syukur, gitu.

Meskipun mungkin belum puasa

Ya, belum puasa. Akhirnya esoknya syuting, tapi kamera tidak bisa dipakai. Masih ada terus ada hambatan sampai film sudah selesai syuting. Selesai syuting dan semua sudah senang, semua pulang ke Indonesia. Tapi saya masih tinggal di India karena harus ngedit di India. Hasil syuting yang di Semarang itu sudah diedit lebih dulu, tinggal sisanya yang ada di India. Tempat editingnya itu tidak representatif karena cari yang murah. Kita ngedit tidak di Bombai, tapi di Cenai.

Kalau kita keluar, di Cenai itu kiri-kanan ada gelandangan di mana-mana. Setelah selesai diedit, masuk ke lab. Biasanya, kalau sudah masuk di lab, tinggal ditransfer ke 35mm. Selesai, bisa dibawa pulang. Ternyata, setelah dimasukkan ke situ, dibilang bahwa data-data yang ada tidak connect sehingga harus diedit ulang. Jadi kita melakukan editing ulang di situ seperti kita melakukan editing pada jaman dulu. Dipotong pakai gunting, disesuaikan dengan yang ada di video.

Short awalnya di mana, aktingnya di mana. Kalau aktingnya garuk-garuk, endingnya garuk-garuk, ya sudah di situ dipaskan. Itu terus berlanjut sampai selesai dan kita balik ke Indonesia. Pada saat balik ke Indonesia, kita lihat hasilnya gambarnya scratch. Scratch itu seperti film lama itu. Seperti film G30S PKI itu.

Itu film lama kan? Aduh, ini tidak bisa tayang. Di situ, apalagi sih Tuhan, ya Allah apalagi sih? Akhirnya ada yang bilang ini bisa diatasi kalau kita melakukan produksi di Thailand. Berarti harus diperbanyaknya di Thailand. Ya, harus diperbanyak. Film itu di-copy lagi di Thailand. Kita bawa copy-nya ke Thailand. Pada saat sudah selesai semuanya di Thailand, kita bawa ke Indonesiadan tercegat di imigrasi. Tidak boleh masuk ke Indonesia karena itu dianggap barang impor.

Anda mempertanyakan lagi ketuhanan, dan ketika pada puncaknya, Anda merasa?…

Akhirnya saya merasa begini: Ya Tuhan, oke deh. Oke saya bilang begitu. Kalau film ini sukses, itu bukan karena gue, tapi karena Kamu. Mengapa? Karena semua yang ada di otak saya tidak ada di film ini: tidak ada Mesir, tidak ada aktor Mesir, tidak ada Piramid. Film ini sudah jauh dari novelnya. Artinya, penonton akan mengamuk, akan marah dan pasti tidak ada yang nonton. Dan, karir saya habis. Itu yang ada di otak saya. Tapi, kalau film ini sukses, semua karena Kamu.

Di situ, boleh disebut, barangkali kesombongan Anda pada Tuhan runtuh?

Sudah runtuh karena Kamu, ya Allah. Saya menyebut nama Allah itu tidak bisa. Saya menyebut nama Tuhan. Tuhan, udah, ini karena kuasa-Mu, Tuhan, ya sudah. Habis dari Thailand bisa masuk, bisa preview dan bisa premier. Biasanya kalau ada adegan premier saya ikut nonton.

Ini tidak, saya di luar, takut. Tadinya saya tidak mau dateng ke premier. Tapi waktu itu dipaksa oleh produser. Kamu harus tetap ikut, kemudian satu per satu penonton yang keluar matanya sembab. Dia memeluk saya, terus mengucapkan selamat dan segala macam.

Tapi dalam hati saya berkata bahwa mereka undangan, tidak bayar. Jadi mereka akan bilang film itu bagus. Oke, saya tunggu film ini di gedung 21, saya tunggu. Hari pertama 50 ribu penonton di seluruh Indonesia. Padahal, film-film sebelumnya biasanya hanya 10 ribu sampai 15 ribu. Ini hari pertama 50 ribu.

Hari kedua 60 ribu, hari ketiga 80 ribu, hari keempat 100 ribu sampai tiga minggu 100 ribu. Kita seperti dapat bonus jekpot itu loh, cring criing criing. Saya dikasih tahu, hari ini 100 ribu. Dalam hitungan 1 minggu saya dapat 600 ribu penonton, dalam hitungan 2 minggu saya dapat 2 juta penonton, 3 minggu 3 juta penonton.

Pada saat itu Anda masih berdialog dengan Tuhan?

Pada saat itu, ya sudah, ini semua adalah karya-Mu bukan karyaku.Setelah itu saya baru merasa harus melihat kiblat. Saya harus melihat Mekah. Waktu itu saya datang dan langsung bilang kepada ibu bahwa saya mau umroh.

Itu film berarti semacam titik balik buat Anda?

Sebelum masuk Mekah, baru sampai Jeddah, dada saya sudah bergetar tanpa sadar. Saya sudah mengucapkan labbaik allahumma labbaik itu di perjalanan dari Jeddah. Kebetulan saya tidak ikut paket-paket umroh yang disediakan. Saya bareng adik saya yang kebetulan sudah ada di sana.

Saya sudah pakai pakaian ihram di Jeddah langsung ke Mekah. Biasanya, kalau turun dari Jeddah kan langsung ke Madinah, dari Madinah baru ke Makkah. Ini tidak, dari Jeddah saya langsung ke Mekah. Jadi miqot saya harus di atas pesawat, kemudian turun sudah berpakaian ihram.

Dari Jeddah menuju ke Ka’bah itu saya sudah bergetar. Ketika masuk ke gerbang Masjidil Haram melihat Ka’bah, oh ya Allah, merinding sekali. Saat melihat Ka’bah, lutut saya tidak bisa digerakkan. Saya langsung jatuh, bruk. Di situ itu saya baru bilang, Allahu Akbar. Itu di situ saya bilang.

Bagaimana Anda berdialog dengan Tuhan padahal sebelumnya Anda melawan terus-menerus?

Ya itulah kenyataannya. Tapi setelah itu tidak kemudian langsung jadi alim, gitu. Tidak.

Saya berada di puncak karir. Pada waktu belum ada yang bisa menandingi Ayat-Ayat Cinta dalam perolehan jumlah penonton. Mendadak nama saya dikenal. Semua orang mengenal saya, media asing dan kemudian media lokal. Di situ, saat karir naik, saya justru merasa berada pada karir paling rendah dalam religiusitas.

Akhirnya saya sering merasa rendah dalam hidup. Saya merasa apa yang saya lakukan selama ini menjadi sekuler, menyakiti ibu saya, menyakiti mantan istri saya pada waktu itu, menyakiti anak saya karena perceraian. Itu semua, hari demi hari, mendapatkan balasannya.

Dan teman-teman, para kru yang selama ini menganggap saya sebagai orang yang sangat powerfull, yang punya keinginan itu sangat absolute dan kuat, ternyata jauth menangis seperti bayi. Seperti anak kecil yang merengek. Jadi saya berada pada titik yang saya tidak tahu dan tidak bisa lepas dari itu semua. Sampai akhirnya, tanpa sadar, saya mengangkat telepon. Dan nomor yang saya pencet adalah nomor mantan istri saya. Saya minta maaf padanya. Saya minta maaf pada anak saya, saya minta maaf pada ibu saya. Pengaaman itu berlanjut terus…

Semacam pencarian?

Pencucian, ibaratnya begitu. Saya seperti diperes. Ya Allah, luar biasa itu.

Tapi kalau kita lihat film-film Anda yang “Islami” itu, sebenarnya Islam yang Anda tampilkan bukan Islam konvensional, tapi Islam yang juga menggugat. Dalam Ayat-Ayat Cinta ada dialog soal kekerasan di dalam bus, tokohnya menolak kekerasan.

Sebenarnya, menurut saya, agama adalah medium sebagaimana kalau saya mau makan yang saya makan itu bukan piringnya, tapi vitamin yang ada di dalam makanannya.

Substansi?

Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium. Substansinya saya bisa berdialog dengan Tuhan dan menghayati makna dari kata-kata Tuhan itu. Sebenarnya Tuhan itu ingin apa? Tuhan ingin berbuat apa? Pada waktu pembuatan film Ayat-Ayat Cinta saya selalu minta, gue mau ini, gue ingin itu. Tapi, apakah ini yang terbaik buat saya? Ternyata tidak. Jadi Tuhan memberikan sesuatu yang tidak saya minta, tapi itu yang terbaik buat saya. Dan buat saya, itu bukan sesuatu yang konvensional.

Tema apa dalam film yang selanjutanya akan Anda garap?

Film berikutnya tentang Islam. Film itu berisi tentang bagaimana di dalam sebuah masyarakat saya melihat ada orang non muslim. Seperti saya punya teman orang Hindu, tapi dia sangat peduli. Dia melakukan puasa. Setiap Ramadhan dia melakukan puasa karena semua karyawannya puasa. Kenapa dia puasa, karena dia yakin bahwa puasa itu sehat. Makanya dia ikut.

Kemudian ada orang terdekat saya yang pindah agama dan dia merasa menjadi sangat terbuka ketika memeluk agamanya yang baru. Pada saat pindah agama, dia menjadi sangat halus budi pekertinya, tidak keras kepala. Pengalaman itu mempengaruhi pergulatan diri saya dan bagaimana saya, sebagai muslim, menyikapi semua itu. Intinya buat saya, Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang merahmati siapa pun. Tidak ada di situ kata-kata merahmati hanya untuk orang Islam, tidak ada. Tapi merahmati siapa pun dan apa pun.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.