Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Tuhan, Sains, Agama
Sains dan Agama (Foto: Econolosophy.com)

Tuhan, Sains, Agama

4.53/5 (19)

Saya baru membuka mata betapa sikap menafsirkan teks keagamaan secara literal di abad modern ini seperti yang saya alami dulu adalah tidak memuaskan. Saya baru mulai mau kembali bersikap kritis dan rasional tehadap nilai dan teks-teks keagamaan, terutama yang bersifat dogmatis, irasional, dan sudah tidak sesuai di abad modern.

Saya baru sadar akan pentingnya kita bersikap kritis terhadap semua aspek kehidupan. Dan agama sebagai suatu fakta sosial antropologis tidak terlepaskan dari semua itu. Agama harus ditaruh di meja bedah ilmiah karena sudah terlalu banyak dogma-dogma dan hal-hal supranatural.

Setelah kembali menjadi seorang rasionalis-kritis, saya seperti terlahir kembali. Saya seperti merasa menemukan jati diri saya sebagai seorang rasionalis. Saya merasa bebas dari doktrin-doktrin agama yang rigit. Saya merasa bisa menggunakan akal saya dengan optimal. Saya bisa berfikir dan menganalisis apa pun yang saya mau tanpa harus takut atau khawatir. Namun sayangnya kebebasan itu tidak terasa lama.

Saya kembali mengalami suatu dilema antara rasionalitas dan spiritualitas. Saya kembali menjadi gusar dan gundah. Di satu sisi, sisi spiritualitas saya ingin agar saya mencari apa yang disebut sebagai Tuhan dengan cara saya sendiri, namun di sisi lain, rasionalitas saya menginginkan saya melupakan Tuhan agar saya tidak bisa melihat, mendengar dan merasakan kehadiran-Nya.

Saya pada akhirnya menemukan win-win solution untuk semua itu. Saya sudah menemukan bagaimana mendamaikan sisi spiritualitas dan rasionalitas. Meskipun saya pada akhirnya seperti memenangkan sisi rasionalitas dengan melupakan agama, namun saya tetap meyakini akan Tuhan (namun bukan Tuhan secara personal dan literal). Saya menggantikan “makanan” untuk apa yang disebut sebagai sisi spiritual dari agama menjadi kemanusiaan.

Saya menemukan apa yang disebut sebagai Tuhan pada nilai-nilai kemanusiaan. Ketika saya membantu seorang pengemis di jalanan atau membantu seorang nenek tua menyeberang jalan, saya seperti menemukan apa yang disebut sebagai nilai esensial dari konsep ketuhanan itu sendiri.

Nilai esensial dari divinitas saya temukan pada humanitas. Saya berhasil menemukan apa yang disebut Tuhan pada konsep Hak Asasi Manusia. Saya serasa bertemu dengan apa yang disebut sebagai Tuhan ketika saya membantu dan membela saudara-saudara saya sesama manusia dan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Meskipun begitu, bukan berarti saya semena-mena menaruh apa yang disebut sebagai Tuhan pada seluruh aspek kehidupan. Menaruh Tuhan pada ilmu pengetahuan bagi saya sama saja mengotori Tuhan dan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Memasukkan Tuhan pada hukum-hukum sains sama saja membajak nilai transendental Tuhan. Saya sangat mengapresiasi teori Hawking tentang awal mula terciptanya alam semesta tanpa harus melibatkan Tuhan, ataupun teori psikologi Freud.

Saya berani katakan bahwa sains tidak membutuhkan Tuhan ataupun kekuatan adikodrati lainnya untuk menjelaskan teori-teorinya, dan sebaliknya, Tuhan tidak membutuhkan hukum-hukum sains untuk menopang keberadaan-Nya. Sains bisa menjelaskan seluruh fenomena alam tanpa harus ada campur tangan Tuhan.

Sains semakin membuat kita maju dan mampu menyibak rahasia alam tanpa harus melibatkan sesuatu yang adikodrati. Sains selalu membuka diri untuk teori-teori baru yang lebih ilmiah, maju, dan rasional untuk menggantikan teori lama yang sudah usang sesuai perkembangan zaman. Namun sebaliknya, agama akan selalu baku. Ia tak menyediakan tempat untuk dikritisi, dirasionalisasi, dan diobservasi secara ilmiah dan saintifik.

Sains selalu membuka pintu untuk keragu-raguan akan teori sains itu sendiri. Tetapi agama sangat bertolak belakang, ia selalu menutup pintu terhadap keragu-raguan akan dogma-dogma yang sudah disepakati, karena dogma tersebut diklaim berasal dari sesuatu yang maha segala-galanya sehingga tak boleh dibantah sedikit pun.

Sains selalu berdasarkan pembuktian empiris, observasi dan analisis logis, sedangkan klaim kebenaran agama selalu berdasarkan iman kepada sesuatu yang bersifat adikodrati yang tidak berdasar pada bukti empiris secara menyeluruh, bahkan sekalipun kebenaran tersebut sudah dijungkir-balikkan oleh pembuktian dan teori saintifik modern. Itulah yang membuat saya tertarik pada sains.

Tetapi sekritis-kritisnya pemikiran saya akan dogma-dogma agama, bukan berarti saya anti-agama. Saya tetap mengambil nilai-nilai universal dan kemanusiaan dari agama apapun untuk saya aplikasikan dalam kehidupan. Saya tetap menghormati keyakinan saudara dan sahabat-sahabat saya akan agama.

Saya mengakui bahwa banyak sisi positifnya dari suatu agama yang mengajarkan kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan (sekalipun sangat banyak pengikutnya yang tidak menjalankanya).

Nilai universal kemanusiaan harus kita terapkan dari mana pun sumbernya. Bagi saya semua agama itu benar menurut caranya sendiri-sendiri. Ia akan selalu benar dan menjadi yang terbenar jika dilihat dari sudut pandang agama tersebut.

Tetapi yang tidak bisa saya tolelir adalah jika agama menjadi sebuah tirani yang mencampakkan nilai kemanusian. Manusia tetap bisa beradab meskipun tanpa agama, namun betapa banyaknya orang yang mengaku beragama bersikap abai pada nilai-nilai kemanusiaan. Semoga saya tidak kembali terjebak di jurang fundamentalisme dan fanatisme keagamaan seperti yang saya alami dulu.

Haikal Kurniawan adalah seorang siswa kelas II Sekolah Menengah Atas (SMA).

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.