Home » Kajian » Hikam » Bisakah Kita Menembus Tembok Takdir?

Bisakah Kita Menembus Tembok Takdir? Ngaji Hikam 3

4.29/5 (7)

Kesimpulan Ngaji Hikam 3

Kesimpulan ngaji Hikam seri ketiga malam ini adalah:

1. Manusia diwajibkan untuk berikhtiar dalam batas-batas kemampuan dia. Ikhtiar artinya adalah usaha kita untuk menciptakan “takdir” kita sendiri. Sebut saja ini “takdir kecil”.

2. Tetapi, usaha kita tetap tak bisa melanggar “takdir besar” yang sudah dikehendaki oleh Tuhan untuk kita. Contoh sederhana: Kita bisa berikhtiar dengan belajar sekeras mungkin agar naik kelas, meraih titel, dan seterusnya. Itulah yang disebut takdir kecil.

Tetapi usaha atau takdir kecil itu tak bisa melanggar takdir besar yang ditentukan oleh Tuhan untuk kita. Misalnya, kemampuan IQ kita. Ada orang yang memiliki IQ 110 atau 120, atau bahkan 130. Orang itu bisa belajar, berikhtiar sekeras mungkin. Tetapi usaha dia tetap akhirnya dibatasi oleh takdir besar, yaitu ukuran IQ yang ada pada dia sejak lahir.

Semua orang membawa ukuran atau takdir masing-masing sejak lahir. Takdir ini tidak menafikan ikhtiar manusia. Manusia tetap harus ikhtiar. Tetapi ikhtiar dia dibatasi oleh kondisi-kondisi yang sudah ada sejak dia lahir. Kondisi itu biasanya susah diubah, karena sudah bawaan dari “sono-nya”.

3. Pengetahuan tentang takdir ini jika dipahami dengan tepat bukan membawa kita pada sikap nrimo atau menyerah. Tetapi justru sikap realistis. Kita berusaha, tetapi usaha kita ada batasnya. Tugas kita adalah mengetahui batas-batas kita itu, dan memaksimalkan usaha kita dalam batas-batas yang ada. Sesudah mentok batas, ya sudah, kita berhenti. Tidak “kemrungsung” (gelisah dan ingin lebih) yang membuat diri kita bisa mengalami depresi. Tetapi kita berhenti sesudah kita berusaha maksimal.

4. Seorang yang mencapai ma’rifat atau pengetahuan tentang realitas atau kenyataan yang sejati, bisa membuat kehendak dirinya seiring dengan kehendak Tuhan. Orang yang seperti ini biasanya bisa membaca tanda-tanda zama; seolah-olah dia mampu membaca takdir Tuhan. Dalam bahasa populer: dia “weruh sak durunge winarah”, tahu sebelum tahu.

Sekian Ngaji Hikam #3 malam ini. Sampai ketemu di Ngaji Hikam #4 besok malam.

Mari kita tutup ngaji malam ini dengan hamdalah.

Wassalamu alaikum!

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.