Home » Kajian » Hikam » Segalanya Bermula dari Hati Kita

Segalanya Bermula dari Hati Kita Hikam 9

4.85/5 (13)

Kesimpulan Ngaji Hikam ke-9

1. Jiwa manusia itu seperti layang-layang. Kadang dia naik ke atas, diterbangkan oleh angin. Saat hembusan angin melemah, ia bisa turun. Saat angin berhembus kencang, jiwa manusia bisa berubah seperti hewan yang sedang terluka dan kesetanan. Begitulah, kondisi jiwa manusia selalu berubah-ubah, mengalami naik turun.

Inilah keadaan yang harus diwaspadai oleh seorang murid yang sedang menjalani “laku mistik” atau ikut dalam latihan olah jiwa. Kondisi mental yang naik tutun adalah wajar. Tetapi kita harus bisa tetap menjaga diri agar tak lengah sehingga terbawa ke dalam dorongan batin sesaat.

Saat jiwa kita mengalami situasi yang oleh para sufi disebut “basth” atau mengembang, sehingga kita merasakan kegembiraan, kita harus bisa menjaga rasa gembira itu sehingga tak “mberot” atau lari di luar kontrol.

Begitu juga saat kita mengalami apa yang dalam ilmu tasawwuf disebut “qabd” atau kondisi jiwa yang mengkerut, sehingga kita merasakan kemalasan, tak ingin melakukan pekerjaan apapun, kita harus bisa mengontrol diri juga.

Baik dalam keadaan jiwa kita mengembang atau mengkerut, kita harus tetap waspada, sehingga tak lengah dan tetap bisa mengontrol diri.

2. Seorang beriman harus tetap memiliki prinsip berikut ini: Menjaga hati dan batin agar tetap sehat jauh lebih penting tinimbang kesehatan fisik, meskipun kesehatan fisik juga tetap harus dijaga.

Sebab kondisi batin lah yang menentukan tindakan manusia.

Sekian Ngaji Hikam ke-9. Sampai ketemu besok malam di Ngaji Hikam ke-10.

Mari kita tutup ngaji ini dengan bacaan hamdalah.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.