Home » Kajian » Imam Ghazali Said: “Makin Banyak Godaan, Makin Tinggi Puasanya”
Imam Ghazali Said

Imam Ghazali Said: “Makin Banyak Godaan, Makin Tinggi Puasanya”

5/5 (1)

Bagaimana Anda melihat adanya sebagian orang berpuasa dengan tingkat pamer yang tinggi misalnya berbuka puasa di gedung-gedung mewah atau hotel berbintang?

Kalau memang di hotel-hotel berbintang, mestinya perlu perimbangan juga. Perlu dijaga betul, jangan sampai kita terjebak dalam tindakan yang bisa disebut syaqq qulûbil fuqarâ’ atau membuat hati orang-orang miskin terenyuh.

Mereka, seringkali tidak menemukan apa yang mesti mereka makan. Sementara, orang lain begitu enak dan nikmat menu makanannya. Pada titik ini, sesungguhnya sudah tidak ada solidaritas sosial lagi. Mestinya, yang ditampakkan bukan itu. Tapi bagaimana orang kaya bisa memberi perhatian serius kepada orang miskin, justru di bulan puasa ini.

Selain itu, ada ironi lain di bulan puasa yaitu menurunnya produktivitas kerja dan meningkatnya budaya konsumerisme. Bagaiamana tanggapan Anda?

Mestinya, puasa harus meningkatkan produktivitas, bukan meninggikan tingkat konsumerisme. Tingkat kebutuhan kita jangan bertambah meningkat. Kebiasaan begadang di malam Ramadan misalnya, saya kira harus diturunkan.

Selepas jam 10 malam, masjid-masjid hendaknya jangan lagi mengumandangkan bacaan Alqur’an dengan suara yang lantang dan keras. Mereka tidur saja, lalu bangun untuk sahur. Dengan tradisi begitu, diharapkan yang berpuasa tetap dapat menjaga produktivitas kerja.

Masalahnya, tak jarang selama ini mereka begadang. Selain itu, bacaaan Alqur’an yang selama ini dinilai semarak, kalau dialunkan dengan lantang dan keras, menurut saya agak merusak citra Islam. Seakan-akan kita memanggil Tuhan yang begitu jauh.

Jadi, kalau kita menghindar dari kegiatan yang tidak produktif di malam hari, kegiatan kita akan tetap produktif di siang hari. Sekolah-sekolah dan kantor-kantor akan bisa berjalan sebagaimana biasanya dengan begitu.

Apakah dalam berpuasa ada pertimbangan rasional?

Iya! Ada pertimbangan-pertimbangan rasional dan lokal yang menguntungkan kita, bukan menguntungkan orang lain. Itu bisa kita lakukan. Kemudian, kita menyadari bahwa tujuan ideal puasa adalah untuk capaian ketakwaan.

Nah, ketakwaan itu memiliki dua dimensi: menyangkut hubungan dengan Tuhan, dan dengan semasa manusia. Dengan Tuhan, kita tersambung secara spiritual, dan dengan manusia kita berinteraksi baik secara sosial. Kalau itu tercapai, dalam siklus tahunan ini paling tidak, puasa kita bisa disebut sukses. Kalau tidak, puasa kita bisa disebut gagal.

Jadi memang ada parameternya. Selesai puasa, ketika azan magrib sudah bergema, kita masih memiliki solidaritas sosial yang baik atau tidak? Setelah hari raya nanti, dimensi spiritual kita dengan Tuhan terasa meningkat atau tidak? Dan, dimensai sosial membaik juga atau tidak? Itu bisa diukur. Kalau ukuran-ukuran itu tidak tercapai, berarti tujuan ideal puasa tidak tercapai.

Pak Kyai, saban kali bulan Ramadan tiba, kita menyaksikan proyek islamisasi berlangsung di berbagai sektor, khususnya media elektronik dan cetak. Menurut Anda, ini fenomena apa?

Itu budaya berpura-pura namanya. Budaya berpura-pura sangat lengket dengan nilai-nilai kehidupan kita. Itu karena kita sangat bergantung pada keadaaan. Bulan puasa kita mesti berpura-pura memakai kopiah atau jilbab. Iklan juga disesuaikan dengan nuansa yang Islami. Itu semua, kan kepura-puraan belaka.

Kita tidak terlatih untuk memiliki orientasi tertentu. Akibatnya, setelah puasa selesai, “teater” itu semua akan selesai dengan sendirinya. Jadi kita tidak terlatih untuk sedikit demi sedikit (secara gradual) merubah diri kita. Perubahannya selalu ingin total. Itu menurut saya tidak mendidik. Itu puasa pura-pura namanya.

Atau kalangan media takut didemo?

Mestinya jangan takut didemo, tapi justru memberi pengertian kepada yang akan mendemo bahwa ini bukan ritual berpura-pura. Kalau maunya tempat-tempat maksiat itu ditutup, mestinya jangan pada momen puasa saja. Jadi, perlu dibuatkan alterntif jangka panjang agar mereka berubah. Jangan hanya karena bulan puasa. Itu tak ada gunanya. Nanti setelah puasa akan jalan terus.

Kalau kondisinya begitu, sulit mengharap fungsi sosial puasa terwujud?

Mestinya ini dimulai Jaringan Islam Liberal. Karena apa? Karena itu semua kepura-puraan belaka. Kagetan saja. Karena puasa, semua berubah total. Nanti pada bulan Syawal, tingkat kriminalitas akan meningkat lagi. Jadi, dengan begitu, tujuan la’allakum tattaqûn itu sudah gagal.

Apa Anda ingin mengatakan bahwa puasa tidak berpengaruh signifikan terhadap realitas budaya kita?

Sekarang nyatanya begitu. Mulai sekarang harusnya mulai dipahami bahwa puasa adalah sebuah tahapan. Jangan langsung total. Yang penting dari itu adalah adanya kemauaan kuat untuk berubah dari yang tidak baik menuju yang baik.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.