Home » Kajian » Khaled Abou El Fadl: “Hak Asasi Manusia di atas Hak Asasi Tuhan”
Khaled Abou El-Fadl (Foto: ucla.edu)

Khaled Abou El Fadl: “Hak Asasi Manusia di atas Hak Asasi Tuhan”

4/5 (1)

Bagaimana menggali dan menjadikan idealisme sebagai fondasi peradaban?

Idealisme tidak datang secara kebetulan. Setiap orang yang tekun memperlajari Islam akan tahu bahwa tujuan utama syariat Islam adalah demi kemaslahatan manusia (li mashâlihil `ibâd). Artinya, menghargai kemanusiaan atau humanisme. Nilai-nilai humanis Islam inilah yang perlu digali kembali.

Dalam sebuah buku yang ditulis pada abad ke-3 Hijriah dikatakan, yang mesti dipilih ketika terjadi pertentangan hukum adalah yang paling manusiawi (arfaq bin nâs). Pemikir Amerika yang bukan muslim, George Maqdisi telah menulis buku tentang humanisme dalam Islam, The Rise of Humanism in Islam.

Saya puas dengan pendapat Maqsisi tentang humanisme dalam Islam. Dia mengatakan, peradaban Islam itu pada asalnya bertolak dari gagasan tentang pentingnya menghargai kemanusiaan atau humanisme; gagasan yang meyakini sisi kemuliaan manusia sebagai fitrah.

Tapi humanisme itu sekarang lenyap dalam praktik rezim-rezim di dunia Islam!

Sepanjang peradaban Islam, selalu ada rezim yang bermain-main dengan kekuasaan, sementara para ulama hanya ingin mendekat pada sumber kekayaan dan tidak melakukan fungsi kontrolnya.

Para ulama hanya berpikir, bila penguasa seakan-akan membela hak Tuhan, dia sudah cukup diberi pahala. Mereka lupa pentingnya mendesak rezim untuk menyejahterakan manusia.

Padahal sumber-sumber manuskrip fikih abad kedua, tiga, dan empat Hijriah, jelas-jelas sangat menekankan soal lebih pentingnya memaksimalkan kemaslahatan manusia. Selain itu, kesantunan juga sudah tidak menjadi nilai penting dalam Islam. Sekarang yang dominan adalah kekerasan.

Mereka lupa aspek pembebasan Islam, yang merupakan kekuatan Islam, berhadapan dengan kesemena-menaan peradaban sebelumnya, seperti peradaban Parsi dan Romawi. Semua pereadaban sebelumnya berpangkal dari penaklukan dan penjajahan atas fisik dan kejiwaan masyarakat.

Dr. Khaled, pemimpin penyerbuan kelompok Ahmadiyah, kemarin menyangkal sedang melanggar HAM. Baginya, hak asasi Tuhan di atas hak asasi manusia. Tanggapan Anda?

Saya akan mengajak untuk membandingkan antara pola pikir kita dengan para ulama pendahulu kita. Para ulama Islam klasik sudah menegaskan bahwa pelanggaran hak asasi manusia tidak akan diampuni kecuali oleh orang yang bersangkutan, sementara hak asasi Tuhan diurus oleh diri-Nya sendiri.

Manusia manapun tidak pernah diperkenankan membuat klaim-klaim yang dianggap mewakili hak Tuhan. Dalam konsep tauhid, Allah lebih dari mampu untuk melindungi hak-hak pribadi-Nya. Karena itu, kita harus lebih berhati-hati untuk tidak melanggar hak-hak asasi mansusia.

Dalam Islam, Tuhan sendiri pun tidak akan mengampuni pelanggaran terhadap hak asasi orang lain, kecuali yang bersangkutan telah memberi maaf. Seorang khalifah atau penguasa pun tidak berhak mencabut hak asasi tiap individu, kecuali individu-individu tersebut melanggar hak asasi orang lain secara paksa.

Pendapat Ibnu Arabi, ahli fikih Hanafi yang menulis kitab Ahkâmul Qur’ân di atas merupakan sesuatu yang menakjubakan karena sudah muncul di abad ke-4 Hijriah.

Karena itu saya berani mengatakan bahwa; mereka yang mengatakan bahwa kita harus mendahului hak asasi Tuhan atas hak asasi manusia, sesungguhnya tidak mengerti khazanah ushul fikih para pendahulu kita.

Sejak lama mereka sudah mengatakan, hak manusia di atas dunia mesti didahulukan daripada hak-hak tuhan (haqqul insân muqaddam `ala haqqil Ilâh). Kenapa? Sebab Allah pasti mampu membela hak-hak-Nya di akhirat, sementara manusia harus membela haknya sendiri-sendiri.

Beranjak dari pemahaman seperti itu, saya berani membela siapa saja yang tertindas, baik Muslim, Kristen, Ahmidi, Baha’i, atau pun Hindu. Sebab segala bentuk penindasan dan penaklukan atas orang lain adalah bentuk kezaliman, dan setiap muslim hendaknya tidak berdiam diri ketika melihat kezaliman.

Saya pernah membela hak-hak asasi kaum Ahmadiyah untuk tetap hidup secara konstitusional. Ketika pembelaan saya berhasil, salah satu dari mereka bertanya, “Apakah Anda percaya saya masih tetap muslim?” Saya jawab, “Itu bukan urusan saya, karena sudah menyangkut urusan Tuhan. Saya tidak pernah tahu apa yang ada di kedalaman hati Anda, dan tak pernah terobsesi untuk memeriksanya.”

Saya bertanya balik, “Apakah wajib bagi saya untuk percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi?” Dia terkejut dengan pertanyaan itu. Saya lalu tandaskan, “Perkaranya mudah saja. Saya orang Islam yang tidak percaya pada kenabian Ghulam Ahmad. Kalau Anda percaya bahwa soal kenabian tidak boleh berhenti, dan meyakini Ghulam Ahmad adalah nabi juga, itu adalah urusan Anda.”

Lalu saya tekankan bahwa saya berbeda pendapat dengan mereka dalam soal itu sembari berharap Tuhan menerima pendapat mereka dan tak lupa menerima pendapat saya.

Apa perlu menganggap suatu aliran sesat atau menyimpang dari Islam?

Bagi saya, tuduhan-tuduhan sesat dan stigmatisasi seperti itu tidak penting lagi di masa sekarang. Orang Baha’i pernah mengaku Islam, tapi mereka meninggalkan lima rukun Islam. Karena itu mereka sangat sulit dikategorikan sebagai muslim.

Ketika mereka membuat agama lain, bagi saya itu urusan mereka. Mereka menyembah Tuhan lewat aliran Baha’i mereka. Soal Tuhan menerima atau tidak cara beragama mereka, itu bukan urusan saya.

Karena itu, bagi saya penting sekali mengutip kembali ungkapan Ali bin Abi Thalib untuk menyikapi soal ini. Ali pernah mengatakan, “Ada dua jenis manusia: entah saudara seagamamu atau saudara seetika (al-nâs shinfânî immâ ikhwânukum fid dîn aw ikhwânukum fil khuluq).”

Dengan kutipan itu saya patut bertanya, di mana letak sikap tercerahkan seperti Ali itu dalam kenyataan kita sekarang? Saya kira, selama ini kita selalu mengabaikan ayat-ayat tentang toleransi dan banyak yang tidak mau membicarakan atau menyebarkannya. Padahal di situlah terkandung kekuatan Islam secara moral.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.