Home » Kajian » Khaled Abou El Fadl: “Hak Asasi Manusia di atas Hak Asasi Tuhan”
Khaled Abou El-Fadl (Foto: ucla.edu)

Khaled Abou El Fadl: “Hak Asasi Manusia di atas Hak Asasi Tuhan”

4/5 (1)

Tapi ulama-ulama Indonesia merujuk Pakistan dan Arab Saudi dalam menyikapi kasus Ahmadiyah. Bagi mereka, menoleransi “aliran sesat” adalah bagian dari nilai-nilai Barat yang permisif atas segala sesuatu!

Sanggahannya adalah dengan membaca sejarah Islam secara utuh. Buku Maqâlâtul Islâmiyyîn karangan al-Asy`ari telah memberi tahu kita tentang banyak kelompok dalam Islam. Dalam serajah Islam, kelompok Druz tetap dibolehkan hidup di dunia Islam.

Kalau Ahmadiyyah masih salat, puasa, dan mengucap syahadat, orang-orang Druz tidak lagi melakukan itu semua. Mereka tetap diperkenankan hidup di jantung kekhilafahan.

Kelompok Nushairiyyun jauh lebih buruk lagi. Mereka percaya bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan dan juga konsep Trinitas. Mereka berpandangan bahwa malaikat Jibril sebetulnya ingin menyampaikan wahyu kepada Ali, namum keliru dan jatuh ke tangan nabi Muhammad. Ketika tahu keliru, ia enggan mengoreksi kesalahannya.

Nah, kita bisa mengatakan mereka telah berada pada puncak kekafiran. Meski demikian, mereka tetap tidak ditindas dan tidak diperangi. Sebagian dari mereka masih hidup sampai sekarang namun tetap menjadi kelompok kecil yang tersudut.

Bagi saya, sikap arif yang perlu ditempuh ulama Islam masa kini adalah respon pemikiran. Para ahli fikih dan teologi masa lampau seperti al-Juwaini, al-Ghazali, Ibnu Taymiyah, dan lain-lain, semua menulis buku untuk menyanggah kelompok-kelompok yang dianggap sesat.

Tapi itu tidak cukup bagi mereka. Dengan dalih membendung akidah umat, mereka berambisi untuk melenyapkannya!

Tahukah Anda apa akibatnya bila Indonesia mengikuti langkah Saudi atau Pakistan? Tahukah Anda bahwa Ahmadiyah tetap berkembang, bahkan di Pakistan lebih pesat lagi setelah dilarang? Itu semua pantulan balik dari politik penindasan.

Ingatlah, pada dasarnya watak manusia selalu bersimpati pada pihak yang tertindas. Karena itu, perkembangan pesat Ahmadiyah itu bukan karena doktrin-doktrinnya memuaskan, tapi karena besarnya simpati masyarakat pada nasib mereka.

Di Arab Saudi, sampai kini aliran-aliran yang dianggap menyimpang tetap hidup sekalipun tidak muncul ke permukaan. Saya pernah menangis ketika bertemu dengan beberapa kelompok yang menganut paham-paham yang tidak masuk akal. Semua itu tetap bisa berkembang di dua tempat suci, Mekkah dan Madinah. Mereka semua bergerak di bawah tanah.

Bagi saya, solusinya justru sebaliknya: adakan dialog terbuka dan dengan kepala dingin. Saya memang perlu menekankan bahwa toleransi memang tidak menuntut Anda untuk menjadi relativis tulen dengan menyebut semuanya benar. Toleransi berarti saya berpendapat seperti ini dan saya yakin itu benar. Kalau Anda berpendapat sebaliknya, saya tidak mesti percaya dan saya tidak akan menyerang Anda.

Anda berpendapat kita sangat mungkin mencari fondasi dasar pluralisme dan toleransi dari dasar-dasar ajaran Islam. Bisa dijelaskan?

Ya. Sebetulnya, kita tidak lagi membutuhkan sekularisme jika mampu menunjukkan dan mengukuhkan gagasan-gagasan tentang toleransi dan humanisme dari khazanah Islam.

Problemnya, selama ini kita menyaksikan umat Islam betul-betul telah tercerabut dari akar budaya intelektual mereka. Saya tidak banyak membaca khazanah-khazanah kemanusiaan Yahudi, Kristen, Hindu, dan Budha.

Saya bersusah payah menguasai bahasa Ibrani untuk dapat membaca Talmud dalam bahasa Ibrani. Saya juga berusaha membaca Bibel dengan bahasa Latin dan belajar bahasa Aram untuk mampu membacanya dalam bahasa aslinya.

Kesimpulan saya, di setiap kitab suci itu selalu ada sesuatu yang manusiawi dan amanusiawi. Ini adalah cara Tuhan untuk menguji kematangan kita.

Fitrah dan akal manusia lah yang berkewajiban membedakan mana yang baik dan mana yang buruk; apa yang harus diambil dan mana yang harus dicampakkan. Kalau kita mau mengikuti watak setan, kita bisa mengambil sisi yang buruk dari kitab suci seperti mengagung-agungkan pembunuhan dengan mengadopsi kisah Daud di Bibel.

Bagi saya, itu kisah amat sadis. Tapi apakah orang Barat lalu membangun peradabannya dengan mengadopsi hal-hal seperti itu ? Mereka bisa saja melakukan itu, tapi mereka tidak melakukannya. Mereka justru memilih bagian yang manusiawi dari khazanah peradaban mereka, dan di atas sendi-sendi kemanusiaan itulah mereka mendirikan peradaban mereka.

Setiap peradaban, pada mulanya berdiri di atas sendi-sendi moral agama. Kita tahu sejarah hukum natural yang menjadi landasan hak asasi manusia. Ia muncul seratus persen dari para pemikir agama. Mereka memokuskan pembahasan mereka pada aspek-aspek yang positif dari khazanah masa lampau mereka, lalu memodifikasi.

Dalam beberapa segi, pikiran-pikiran mereka menyerupai pemikiran kaum Muslim klasik. Thomas Aquinas pernah ditanya tentang prinsip moral yang paling utama di dunia? Dia menjawab dengan konsep menyeru kebajikan, membendung kemunkaran.

Kita bisa menyebut itu jelas-jelas pengaruh khazanah Islam. Tapi itu dikarenakan Aquinas menjadikan Ibn Rusyd sebagai referensi. Ketika dia harus memilih antara antara Ibnu Sina atau Ibnu Rusyd, dia lebih memilih Ibnu Rusyd.

Dari konsep amar makruf nahi munkar itu, Aquinas lalu merumuskan gagasannya tentang hak-hak natural dalam Summa Theologica. Setelah itu datang antrean pemikir beragama yang melengkapi pemikiran-pemikirannya yang humanis.

Pemikiran Islam di masa klasik juga sudah mengaitkan antara gagasan tentang hak asasi manusia dengan konsep fitrah. Dalam bukunya al-Wajîz, Imam al-Juwaini mengatakan bahwa penghargaan atas kemanusiaan merupakan fitrah yang dititipkan Allah pada manusia.

Dan atas landasan itulah Abu Hanifah cepat-cepat membebaskan budaknya yang bernama Halimah. Di sini tampak jelas bagaimana al-Juwaini mengaitkan antara gagasan tentang penghormatan terhadap hak asasi manusia dengan konsep fitrah. Ini artinya, Anda harus tetap menghargai hak asasi manusia.

Jadi sisi humanis Islam itulah yang mestinya lebih ditonjolkan sekarang ini?

Akar idealisme kemanusiaan Islam saya kira perlu kita singkap lagi untuk membangun peradaban Islam. Kita tidak boleh terjebak pada pilihan tunduk buta (at-tab`iyah al-`amyâ) pada Barat atau pun penolakan buta (al-rafdhiyyah al-`amyâ), sehingga tidak lagi mampu melihat manfaat sesuatu bagi kemanusiaan, semata-mata karena ia berasal dari Barat.

Bagi saya, para pelaku bom bunuh diri yang katanya menentang Barat itu sedang berfantasi akan diterima secara ramah di hadirat Tuhan karena sudah putus asa menghadapi dunia yang sulit ditaklukkan.

Ini adalah bentuk nyata rasa frustrasi kaum kriminil (ya’sun ijrâmî). Mereka tidak mau bersusah payah untuk belajar, membaca, dan membuat inovasi-inovasi. Semua itu mereka anggap susah. Apa yang gampang? Meledakkan diri, pergi menuju Tuhan sembari menghibur diri akan diberi ganjaran surga.

Karena itu, bagi saya tindak kekerasan adalah bentuk lain dari kemalasan. Ia digunakan oleh orang-orang yang tidak mau bergumul dengan karunia akalnya. Mereka enggan menempa diri dengan belajar, menganalisis persoalan secara cermat, berargumen, apalagi berdialog.

Sebagai orang Islam, kita terlampau bernyak berkeluh kesah. Kita merengek karena terzalimi dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Pertanyaan saya: apa yang sudah Anda lakukan sehingga layak diberi kehormatan oleh Tuhan? Apakah kita sudah mencintai ilmu pengetahuan sehingga Allah tetap merendahkan martabat kita?

Demam keluh kesah disertai rasa malas yang sangat merupakan virus yang saat ini menggerogoti seluruh tubuh umat Islam. Kita hanya ingin memperbudak orang lain, sementara Allah tidak pernah akan menolong orang yang suka memperbudak orang lain. Kita hanya merusak tatanan dunia, sementara Tuhan tidak menyukai itu. Kita membuat hukum tapi bukan hukum yang membela kezaliman dan mereka yang ditindas.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.