Home » Kajian » Sejarah » Goenawan Mohamad: “Teks Proklamasi Dibuat Tergesa-Gesa”

Goenawan Mohamad: “Teks Proklamasi Dibuat Tergesa-Gesa”

3.75/5 (4)

Apakah perda-perda bernuansa syariat yang kini banyak bermunculan sudah menyimpang dari kehendak para pendiri bangsa Indonesia?

Seandainya Bung Karno dan Bung Hatta masih hidup, apakah perda-perda yang ada saat ini akan mereka setujui? Saya kira, pasti mereka tidak setuju. Saya juga termasuk salah seorang yang tidak setuju dengan Piagam Jakarta. Sebab, yang dipersoalkan pada masa itu adalah bagaimana kita merdeka bersama-sama.

Lalu beberapa orang yang punya aspirasi Islam mengatakan, kita memerlukan peraturan khusus untuk orang Islam. Tapi karena peraturan untuk umat yang lain memang tidak ada di waktu itu, aspirasi mereka jadi mudah untuk dikalahkan.

Bagaimana dengan yang sekarang? Setahu saya, sejak kita punya iklim pemikiran bebas lagi dan sejak adanya perumusan kembali konstitusi, jelas sekali tidak adanya masalah Piagam Jakarta di situ. Kita sudah sepakat memilih wakil-wakil rakyat dan itu dipilih dengan bebas dan tanpa mencantumkan Piagam Jakarta di dalam konstitusi yang kita punya. Nah, kalau ada orang yang ingin kembali melakukan itu, menurut saya itu sudah melanggar konstitusi.

Mas Goen punya penilaian tentang sistem ekonomi yang dipraktekkan Indonesia sejauh ini?

Ketika kita merdeka, para pendiri republik ini memang punya kecenderungan sosialisme yang kuat. Jangan lupa, banyak dari mereka-mereka itu yang menafsirkan kolonialisme sebagai akibat dari kapitalisme. Itu tafsiran umum di dunia yang tentu saja sangat dipengaruhi oleh Marxisme. Di situ dikatakan, imperalisme adalah tingkatan tertinggi dari radikalisme. Mereka menganggap kolonialisme tidak adil, dan memang tidak adil. Karena itu, alternatifnya adalah sosialisme.

Lalu ketika Indonesia merdeka, sebetulnya kombinasi antara sosialisme dengan pasar bebas mulai dipraktekkan secara bersamaan. Sehingga waktu modal asing masuk, tetap saja pemerintah punya peran besar dalam beberapa sektor kecil. Kemudian di tahun 1958, semua perkembangan itu diganti menjadi sosialisme saja. Ekonomi terpimpin mulai diterapkan. Sektor perkebunan mulai dipegang oleh camat, bahkan harga-harga ditentukan oleh pemerintah.

Tapi akibatnya: perekonomian macet. Karena kita tahu, seorang pejabat negara, apalagi tentara, belum tentu betul-betul memikirkan produksi, tapi lebih dulu memikirkan kantongnya sendiri. Sekarang, setelah Orde Baru runtuh, sistem ekonomi kita diubah lagi tekanannya pada ekonomi pasar.

Tapi penguasaan birokrasi pemerintah juga tetap luas, sehingga korupsi juga meluas. Pertamina yang menguasai sumber-sumber keuangan yang sangat besar, sampai sekarang masih ada problem.

Sementara di negeri lain, bahkan di negeri kita sendiri, sosialisme sudah mulai ditinggalkan demi menyelenggarakan pasar bebas. Karena itu, sekarang perlu menafsirkan kembali cita-cita sosialisme; apakah masih relevan? Apakah unsur keadilan dalam sosialisme harus mulai hengkang? Apakah bisa mewujudkan keadilan tanpa campur tangan korupsi? Nah, itulah dilema-delima yang dialami oleh pemerintah di sini, dan di dunia sekalipun.

Mas Goen bisa bicara sedikit soal keterjepitan ekonomi Indonesia saat ini?

Saya kira, ada beberapa faktor yang kini menyulitkan perekonomian Indonesia. Pertama, ketika Indonesia mulai bangkit dari krisis ekonomi, di Cina juga ada kebangkitan yang luar biasa ketika mereka menjadi kapitalis. Dan itu menyedot banyak sekali keperluan akan sumber-sumber energi.

Harga minyak akhirnya mahal sekali karena permintaan Cina juga luar biasa besarnya. India juga mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan itu juga menyedot banyak energi. Dengan kata lain, kita berada pada posisi yang tidak beruntung, apalagi produk-produk mulai berebutan di pasaran dunia.

Investasi Indonesia sekarang ini dengan dunia luar sedikit sekali dibandingkan dengan Republik Rakyat Cina (RRC). Di zaman Soeharto dulu, RRC tidak mau menerima investasi asing karena itu kita banyak ketiban berkah. Sekarang, kita harus bersaing dengan RRC. Itu juga dua faktor ekonomi yang kadang tidak kita perhitungkan. Tapi itu tidak bisa disalahkan pada siapa pun. Biarpun presidennya Bung Karno, ia akan mengalami problem yang sama.

Dengan kata lain, kondisi dunia saat ini memang berbeda dengan tahun-tahun lalu. Apalagi di Indonesia mulai ada terorisme sehingga turis asing tidak mau lagi datang. Ada juga perang di Palistina sehingga pesawat merasa tidak aman, dan orang juga tidak bisa berlalu lintas kesana-kemari untuk menumbuhkan ekonomi.

Setelah 61 tahun merdeka, semangat menonjolkan identitas primordial kelompok, tampaknya juga makin semarak di Indonesaia. Dengan sendirinya, toleransi berkurang. Apa komentar Anda?

Saya kira soal toleransi itu memang terasa menyedihkan. Contoh yang bagus adalah soal jemaat Ahmadiyah yang tidak boleh beribadah dan beragama menurut apa yang mereka yakini. Mengapa dulu kok boleh?! Saya kira, ini ada hubungannya dengan soal politik identitas itu.

Karena kita berhadapan dengan banyak orang, pada umumnya itu akan memperkeras ide-ide sendiri. Lalu, kita tidak lagi menghargai orang lain. Orang Indonesia tidak semestinya terus- menerus seperti itu, karena struktur sosial dan geografis kita mau tidak mau memang berbeda-beda. Kalau kita mau memaksakan satu ide atau satu ajaran saja, pasti akan gagal total. Percayalah!

61 tahun Indonesia merdeka. Tantangan terberat apa yang masih kita hadapi?

Pada hemat saya, faktor kepercayaan (trust) orang Indonesia terhadap segala sesuatu sangat berkurang karena korupsi yang merajalela sejak 40 tahun silam. Itu mengakibatkan apatisme yang meluas,dan orang tidak percaya lagi pada segala hal karena ujung-ujungnya duit. Saya kira, itu yang perlu dilawan betul kalau kita ingin mengembalikan kepercayaan orang satu sama lain.

Pemberantasan korupsi memang harus dilakukan dan sekarang tampaknya sedang terjadi. Suka atau tidak suka dengan pemerintahan sekarang, angka orang yang masuk penjara akibat korupsi tampaknya terbanyak dalam sejarah Indonesia. Dengan demikian, tampaknya ada harapan, karena itu memang tugas yang harus ditunaikan. Jadi, kita memang harus berupaya sekuat tenaga untuk menghidupkan harapan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.