Home » Kajian » Sufisme » Kautsar Azhari Noer: “Agama Adalah Kualitas Personal”
Kautsar Azhari-Noer

Kautsar Azhari Noer: “Agama Adalah Kualitas Personal”

5/5 (1)

Atau, agama itu sebetulnya peringkat takwa yang memang berbeda-beda?

Ya. Takwa tentu saja bukan sistem, tapi kualitas pribadi/personal. Karena itu, Smith pernah mengatakan, kata religi atau agama lebih tepat diartikan sebagai kesalihan. Sekalipun seorang Kristen, dia juga pernah mengkritik orang Kristen. Dia bilang, orang Kristen itu lebih taat kepada Kekristenan ketimbang Tuhan dan ajaran cinta.

Kritik itu juga bisa kena untuk orang Islam, terutama yang lebih cinta pada identitas kelompoknya ketimbang esensi ajaran damai pada agama itu sendiri. Banyak orang yang memang lebih loyal pada kelompok atau alirannya ketimbang pada Tuhan, kedamaian, cinta kasih, dan persaudaraan.

Karena itu, bagi saya, yang menjadi pedoman dalam peningkatan spiritualitas itu bukan agama, tapi Alquran dan Sunnah. Sebab, agama justru berpedoman pada keduanya. Saya cenderung mengartikan agama sebagai kualitas personal, bukan institusi atau sistem doktrin dan ajaran yang didedahkan pada kita. Sebab, institusi itu bukan pedoman, tapi justru juga harus berpedoman pada Alquran.

Omong-omong soal berpedoman pada Alqur’an, apa nilai paling pokok yang paling perlu dipegang?

Biasanya, orang Islam mengatakan intinya adalah tauhid. Tapi tauhid juga tak bisa dipisah dari soal keseimbangan dan keselarasan hidup. Kalau orang mau menegakkan tauhid, ia juga harus menegakkan harmoni dalam masyarakat. Harmoni itu tidak hanya dengan Tuhan, tapi juga dengan manusia. Keseimbangan itulah yang harus dijaga dan tidak dilepaskan dari nilai tauhid.

Banyak yang mengatakan kalau Islam telah memadukan kedua unsur itu; karena itu ia telah sempurna. Islam dianggap paling sempurna karena memadukan unsur-unsur yang sudah ada dalam agama-agama sebelumnya.

Unsur esoterik atau batiniah dan eksoterik atau lahiriah itu sudah disatukan. Namun demikian, tetep harus perlu ada penekanan keseimbangan antara aspek lahiriah dengan batiniah; antara aspek sosial dan individual.

Dalam Islam itu ada akidah, syariah, dan akhlak. Kadang penekanan umat Islam berbeda-beda. Ada yang lebih ke akidah, ada yang lebih ke syariah, dan ada yang lebih ke akhlak. Komentar Anda?

Saya setuju pola keseimbangan. Fiqih itu terlalu banyak bicara aspek lahiriah dari agama (syariah). Dalam fikih, perkara salat adalah soal terpenuhinya rukun dan sarat. Ketika itu sudah dipenuhi, secara syar’i salat seseorang sudah sah.

Tapi beragama kan tak cukup hanya dengan itu. Aspek batiniah juga perlu. Bagaimana kalau dalam sebuah salat hati seseorang tidak nyambung dengan Tuhan? Jangan-jangan, yang salat hanya gerak-gerik badaniah kita, sementara hati tidak.

Konon, kita ini harus salat seumur hidup. Artinya, ada dua macam salat yang perlu kita tegakkan: yang formal 5x sehari itu, dan di luar yang formal itu. Semua itu mengandaikan selalu kontaknya hati kita dengan Tuhan.

Apa yang diharapkan ketika orang selalu connect atau tersambung hatinya dengan Tuhan?

Wujudnya harus punya dampak sosial. Sebab, Tuhan mengajarkan kasih sayang pada sesama. Ada hadis yang menyatakan: “Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya Yang di langit sana akan menyayangimu!” Jadi, Tuhan tidak akan menyayangi kita kalau tak kunjung sayang pada sesama. Itu kuncinya. Jadi tidak mungkin Tuhan akan kasih sayang kepada kita kalau kita tidak kasih sayang pada mahluk-Nya.

Jadi, agama mestinya bersifat antroposentris atau berpusat pada kebajikan pada sesama manusia, ya?

Saya tidak setuju dengan istilah itu. Saya kira, bukan hanya Islam, tapi Buddha, Yahudi, dan Kristen, tetap juga bersifat teosentris atau berpusat pada Tuhan. Masalahnya tinggal apakah ajaran suatu agama itu humanis atau tidak humanis.

Saya setuju dengan istilah humanisme-teosentris. Jadi, kalau kita bersedekah, itu ditunaikan bukan karena ingin populer di muka orang, tapi demi mencari rida Tuhan. Orientasi semua agama tak mungkin diubah antroposentris (berpusat pada manusia), karena yang pusat itu selalu satu, yaitu Tuhan (teosentsis).

Kalau tidak begitu, kita akan mengubah rukun iman, karena rukun iman yang pertama adalah percaya pada Tuhan. Saya kira, yang pertama ditekankan dalam agama Yahudi juga percaya pada Tuhan; baru diikuti aspek yang lain-lain.

Tapi antroposentrisme itu biasanya diajukan karena banyak agama formal yang dinilai telah teramat teosentris dan abai pada sisi-sisi kemanusiaan…

Saya kira, masalahnya bukan itu, tapi soal humanis atau tidak humanisnya suatu ajaran agama saja. Jadi intinya tetap teosentris, tapi teosentris yang humanis. Di Kamboja, orang tak bertuhan sangat sering menyembelih orang lain.

Jadi soal menjunjung humanisme dan tidak itu kadang sama saja antara mereka yang bertuhan dengan yang tidak bertuhan. Orang yang tak bertuhan, otomatis dapat dikatakan antroposentris. Tapi di banyak tempat, penyembelihan terhadap sesama manusia itu justru dilakukan tanpa mengatasnakaman Tuhan. Jadi sama saja.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.