Home » Kajian » Sufisme » Relevansi Tasawuf Al-Ghazali

Relevansi Tasawuf Al-Ghazali

5/5 (2)

Beberapa tahun sebelum al-Hallaj bicara tentang konsep Hulul, al-Junaid sudah bicara tentang konsep yang mirip, yaitu konsep Tauhid-Fana-Uluhiyyah dan Abu Yazid al-Busthami (w. 261 H./875 M.) bicara tentang konsep Ittihad yang nanti di tangan Muhyiddin Ibn Arabi (560 H./1165 M.-638 H./1240 M) berkembang menjadiwihdatul wujud. Model tasawuf ini dikenal dengan tasawuf falsafi.

Sementara pada abad keempat makin banyak karya-karya tasawuf yang bermunculan. Abu Bakar ibn Abi Ishaq Al-Kalabadzi (w. 380 H.) menulis bukual-Taarruf li Madzhab Ahli al-Tasawwuf, Abu Nashr al-Sarraj al-Thusi (w. 378 H.) menulis buku al-Luma, Abu al-Qasim Abdul Karim al-Qusyairi (lahir 376 H./986 M.) menulis buku al-Risalah al-Qusyairiyah.

Namun, berbeda dengan abad ketiga Hijriyah yang mulai memunculkan tasawuf falsafi, maka abad keempat Hijriyah lebih banyak berfokus kepada tasawuf khuluqi-amali, yaitu tasawuf yang aksenstuasinya lebih pada tata cara dan mekanisme penyucian hati, asketisme, hidup sederhana, dan pembinaan moral.

Sepanjang abad ini tak dijumpai tokoh sufi yang mengembangkan tasawuf falsafi al-Junaid, Abi Yazid al-Busthami, dan Abu Manshur al-Hallaj. Pemikiran tasawuf al-Junaid misalnya lebih banyak diungkap corak khuluqi-amaliketimbang corak falsafinya.

Abad kelima Hijriyah banyak diwarnai pemikiran tasawuf Abdul Qadir ibn Musa al-Jilani (470 H.-561 H.) dan Imam Ghazali. Al-Jilani memiliki karya seperti Sirr al-Asrar wa Mazhhar al-Anwar fima Yahtaju ilaihi al-Abrar, Futuh al-Ghaib, al-Fath al-Rabbani, Jala’ al-Khathir, dan lain-lain.

Al-Jilani (di Indonesia lebih sering disebut al-Jailani) banyak merujuk kepada al-Quran dan Hadits dan pengalaman spiritual individualnya. Ini misalnya terlihat dalam dua buah karyanya; Sirr al-Asrar dan  Futuh al-Ghaib. Ia jarang merujuk pada kitab-kitab karya ulama sufi sebelumnya. Kekuatannya terletak pada pengalaman batinnya.

Berbeda dengan al-Jilani, dalam kitab Ihya Ulum al-Din, Imam Ghazali merujuk kepada konsep tauhid Husain ibn Manshur al-Hallaj dan asketisme al-Muhasibi, misalnya. Dalam al-Munqid min al-Dhalal, Imam Ghazali mengakui bahwa para sufi berikut adalah orang-orang yang memiliki pengaruh kuat dalam membetuk corak pemikiran dan pilihan hidup al-Ghazali.

Mereka itu adalah, Abu Thalib al-Makki (w. 386 H./996 M.), Haris al-Muhasibi (w. 243 H./857 M.), Junaid al-Baghdadi (w. 298 H./854 M.), Abu Yazid al-Busthami (w. 261 H./875 M.), dan al-Shibli (w. 334 H./945 M.).

Ia juga telah mengenal pernyataan-pernyataan sufi seperti Abu Sulaiman al-Darami (w.215 H./850 M.), al-Sir al-Saqathi (w. 253 H.), Rabi’ah al-‘Adawiyah (w. 185 H./801 M.) hingga Ibrahim ibn Adham (w. 162 H). Kitab Ihya Ulum al-Din yang dianggap sebagai masterpiece ini basah dengan kutipan-kutipan dari para tokoh sufi sebelum Imam Ghazali tersebut.

Merujuk kepada para tokoh sufi itu, Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulum al-Din banyak mengeksplorasi maqamat dan ahwal seperti telah diletakkan fondasinya oleh para sufi sebelumnya. Ia berbicara tentang taubat, keutamaan riyadah, zuhud, tawakkal, dan ridha. Ibrahim Basyuni menyebut stasiun-stasiun spiritual tersebut bukan dengan maqamat melainkanmujahadat.

Bagi al-Ghazali sekiranya seorang salik tak sanggup menjalanimaqamattersebut karena gangguan di luar, maka al-Ghazali menganjurkan yang bersangkutan untuk menjalani uzlah (mengisolasi diri secara sosial). Dalam Ihya Ulum al-Din, ia menjelaskan keuntungan dan manfaat hidup ‘uzlah. Dalam soal ahwal, al-Ghazali bicara tentang mahabbah, ma’rifah, bahkan penyatuan diri dengan Allah melalui pembahasan tauhid.

Bagi al-Ghazali, taubat adalah hal pertama yang harus dilalui oleh seorang salik(mabda’ thariq al-salikin, ra’su mal al-fa’izin, awwal iqdam al-muridin). Dengan perkataan lain, tak ada salik yang tak melalui maqam taubat ini. Inilah yang disebut sebagai fase takhalli, yaitu mengosongkan diri dari dosa-dosa baik kepada Allah maupun kepada sesama yang potensial mengotori hati seorang salik.

Demikian susahnya masa-masa awal menjalani kehidupan sufi, maka seorang salik bisa menjalani maqam taubat dalam waktu lama. Selesai menjalani fase takhalli ini, maka salik segera memasuki fase tahalli,  yaitu menghiasi diri dengan akhlak yang baik, bukan hanya berakhlak baik kepada manusia melainkan juga kepada Allah. Di sinisalikharus menjalani maqam-maqam berikutnya seperti maqam zuhud, sabar, syukr, tawakkal, dan ridha untuk sampai pada fase tajalli, yaitu ma’rifatullah.

Tentang sabar, Imam Ghazali berkata bahwa sabar adalah satu soko guru bagi para salik. Sabar tak hanya di dalam menjalankan ibadah kepada Allah, melainkan dalam menghadapi hinaan umat manusia. Ia berpendapat, sabar atas hinaan manusia adalah kesabaran yang paling tinggi (al-shabr ‘ala adza al-nas min a’la maratib al-shabr).

Demikian luas dan tak terbatasnya penerapan sabar, Imam Ghazali mengutip pernyataan Nabi Isa. Ketika ditanya tentang sanksi hukum berupa gigi dibalas gigi, hidung dengan hidung, maka Nabi Isa berkata, “janganlah keburukan dibalas dengan keburukan; ketika pipi kananmu ditampar, maka berikanlah kiki pipimu”. Sufi, demikian Imam Ghazali, harus sabar dalam menghadapi berbagai rintangan dan ujian.

Sementara zuhud, Imam Ghazali berkata bahwa zuhud adalah meninggalkan perkara-perkara mubah yang dikehendaki hawa nafsu (tarku al-mubahat allati hiya hadhdh al-nafs). Bagi Imam Ghazali, orang yang hanya mencukupkan diri dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan tak disebut sebagai orang zuhud (zahid).

Orang zuhud adalah mereka yang di hatinya tak terlintas keindahan dan kenikmatan harta dunia (‘alaiq al-dunya). Untuk mengontrol diri agar tak mencintai kenikmatan dunia, Imam Ghazali pun memilih hidup miskin.

Ketika keluar dari Baghdad sebagai rektor, Imam Ghazali meninggalkan harta kekayaannya kecuali yang dibutuhkan untuk kebutuhan pokok buat diri dan keluarganya. Al-Ghazali pun mengutip celaan al-Muhasibi terhadap orang yang suka hidup mewah dan memuji orang yang hidup sederhana.

Imam Ghazali kemungkinan mengikuti pola hidup Ibrahim ibn Adham yang meninggalkan gemerlap harta dunia dan memilih hidup sederhana sebagai orang miskin. Dikisahkan dalam kitab Ihya Ulum al-Din, “seorang laki-laki datang menjumpai Ibrahim ibn Adham dengan membawa sepuluh ribu dirham. Ia menolak pemberian itu. Laki-laki tersebut keberatan dan bertanya kenapa pemberian itu ditolak.

Ibrahim berkata kepadanya, “apakah kamu menghendaki agar aku menghapus namaku dari deretan orang-orang fakir dengan pemberian sepuluh ribu dirham tersebut (aturidu an amhuwa ismi min diwan al-fuqara bi ‘asyrah alafi dirham)?” “Aku tak akan melakukan itu selamanya”, tandas Ibrahim ibn Adham.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.