Home » Kajian » Sufisme » Relevansi Tasawuf Al-Ghazali

Relevansi Tasawuf Al-Ghazali

5/5 (2)

Mengutip Ibrahim ibn Adham, Imam Ghazali menegaskan bahwa hati manusia tertutup karena tiga hal; bahagia terhadap apa yang  dimiliki (al-farahu bi al-maujud), menderita terhadap apa yang hilang darinya (al-khuznu bi al-mafqud), dan senang terhadap pujian orang lain (al-surur bi al-madhi).

Menurut Imam Ghazali, orang kaya adalah orang yang memiliki sedikit angan-angan dan menerima semua pemberian (qillah tamannika wa ridhaka bima yakfika). Gemerlap kenikmatan dunia bisa menipu banyak orang. Kekayaan dunia, menurutnya, potensial menghambat perjumpaan seseorang dengan Tuhannya.

Imam Ghazali kemudian mengutip sebuah hadits, “nabi paling akhir yang masuk surga adalah Sulaiman ibn Dawud tersebab kekuasaan yang digenggamnya, dan sahabatku yang paling akhir masuk surga adalah Abdurrahman ibn Auf karena kekayaannya”.

Dengan itu, di ujung usianya Imam Ghazali memilih hidup zuhud-sederhana di kampung halamannya, Thus. Ia terus memperbaiki hatinya agak tak tertipu dengan aksesorik simbolik yang dikenakan badannya. Dengan jeli Imam Ghazali menegaskan bahwa tak sedikit para sufi yang tak mendapat perlindungan dari Allah bisa tertipu dengan baju yang dikenakannya.

Mereka menyangka bahwa dengan mengenakan baju, simbol-simbol dan aksesoris seperti yang dipakai para sufi, maka dengan sendirinya mereka akan menjadi sufi. Secara konsisten Imam Ghazali menjaga diri dari memakan makanan yang syubhat apalagi yang haram. Ia pun makan hanya seperlunya (bi qadr al-hajah).

Imam Ghazali pun menganjurkan agar manusia menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah (tawakkal). Sebagaimana Harits al-Muhasibi, Imam Ghazali mengembangkan metode muhasabah, yaitu senantiasi mencermati hati nurani dan keadaan psikologis diri sendiri agar tak lepas dari Allah lalu berpaling pada dunia.

Ia mengutip al-Sir al-Saqathi, “tak akan bahagia orang yang zuhud selama ia masih sibuk tentang dirinya” [la yathibu ‘aisy al-zahid idza isytaghala ‘an nafsihi). Seluruh hidupnya hanya untuk Allah bukan yang lain.

Imam Ghazali mengutip perkataan Abu Sulaiman al-Darani, “Allah memiliki hamba yang tak takut pada neraka dan tak berharap pada surga, maka bagaimana ia bisa disibukkan oleh urusan dunia” (inna lillah ‘ibadan laysa yusyghiluhum ‘an Allah khauf al-nar wa la raja’ al-jannah fakayfa yusyghiluhum al-dunya ‘an Allah).

Abu Sulaiman al-Darani juga berkata, “Barangsiapa yang hari ini sibuk dengan dirinya, maka besok ia akan sibuk dengan dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang hari ini sibuk dengan Tuhannya, maka besok ia akan sibuk dengan Tuhannya”.

Namun, untuk menutup kemungkinan keliru, Imam Ghazali berkata bahwa orang yang meninggalkan harta benda tak dengan sendirinya disebut zuhud (anna tarika al-dunya zahidan wa laysa kadzalika). Sebab, menurutnya, meninggalkan hal-hal duniawi dan menampakkan kehinaan mudah bagi orang yang suka dipuja dengan kezuhudan. Imam Ghazali membuat tiga indikator kezuhudan seseorang.

Pertama, orang zuhud adalah yang tak senang dengan apa yang ada pada dirinya dan tak menyesal dengan apa yang telah tiada pada dirinya (an la yafraha bi mawjud wa la yahzana ala mafqud). Bahkan, menurutnya, yang bersangkutan menyesal dengan adanya harta benda dan bahagia dengan ketiadaannya. Inilah zuhud dalam soal harta benda (al-zuhd fi al-mal).

Kedua, yang memuji dan yang mencaci memiliki kedudukan sama bagi orang zuhud. Inilah kezuhudan dalam soal kedudukan (al-zuhd fi al-jah).

Ketiga, kesenangan dan kecintaan seseorang hanya kepada Allah. Dengan itu, Imam Ghazali menyimpulkan bahwa indikator kezuhudan adalah tak bedanya antara fakir dan kaya, mulia dan hina, pujian dan cacian karena orang zuhud berada dalam cinta penuh kepada Tuhan.

Tak hanya merujuk kepada mereka, asketisme Imam Ghazali mengakar cukup jauh hingga ke Nabi Isa. Menurut al-Ghazali, hidup zuhud itu tak ada ujungnya. Tapi kezuhudan Nabi Isa adalah pencapaian paling puncak yang pernah dicapai manusia.

Alkisah, ketika Nabi Isa merebahkan kepala di atas batu, tiba-tiba setan lewat. Setan itu berkata, “bagaimana kamu bisa meninggalkan dunia sementara engkau merasa puas dan nikmat dengan sebongkah batu di dunia”.

Nabi Isa mengambil batu dari bawah kepalanya lalu melemparkannya ke arah setan seraya berkata, “ambillah batu ini dan dunia!”. Al-Ghazali juga menceritakan bahwa Nabi Isa tak memiliki apa-apa kecuali sisir dan cangkir.

Suatu ketika Nabi Isa melihat seseorang yang menyisir jenggot dengan jari-jarinya, lalu Nabi Isa membuang sisir tersebut. Di kala lain, Nabi Isa juga melihat seseorang yang meminum air dengan cangkir di tangan, maka Nabi Isa membuang cangkir tersebut.

Imam Ghazali, sekali lagi, mengutip Nabi Isa yang berkata bahwa kenikmatan dunia itu adalah jembatan, maka menyeberanglah. Seseorang bertanya kepada Nabi Isa, “bagaimana kalau engkau menyuruhku untuk membangun rumah sehingga di dalam rumah itu saya bisa beribadah kepada-Nya?”. Nabi Isa menjawab, “pergilah dan bangunlah rumah di atas air?”.

Orang bertanya, “bagaimana bangunan bisa tegak di atas air?”. Nabi Isa menjawab, “bagaimana ibadah bisa tegak di atas cinta dunia” (kayfa tastaqimu ‘ibadatun ma’a hubb al-dunya).  Belajar dari Nabi Isa, Imam Ghazali meninggalkan kemasyhuran sebagai sarjana yang menonjol dan meninggalkan kenikmatan dunia. Ia menarik diri dari ingar-bingar kehidupan publik dan memilih untuk menekuni disiplin spiritual dan menjalani hidup zuhud.

Dengan itu, tak keliru sekiranya para pengkaji tasawuf Islam menyimpulkan bahwa tasawuf Imam Ghazali bercorak khuluqi-amali. Ada juga yang berkata bahwa ada bagian-bagian dalam tasawuf Imam Ghazali seperti tercermin dalam Ihya’ Ulum al-Din yang mencerminkan corak tasawuf falsafi, di samping tentu saja terdapat bahasan yang bercorak khuluqi-amali.

Walaupun harus diakui bahwa corak khuluqi-amali dalam tasawuf Imam Ghazali lebih kental ketimbang corak falsafinya. Beberapa pokok bahasan berikut dianggap sebagai doktrin pokok dan utama dari tasawuf Imam Ghazali.

Pokok Tasawwuf. Jika dilakukan penelaahan secara sistematis dan terstruktur terhadap kitab Ihya Ulum al-Din, maka akan ditemukan beberapa doktrin tasawuf pokok Imam al-Ghazali, yaitu tauhid, makhafah, mahabbah, dan ma’rifat. Dari ajaran-ajaran pokok ini lahir konsep taubat, shabr, zuhud, tawakkal, dan ridha.

Tak bisa seseorang mengaku bertauhid sekiranya seseorang masih menduakan Allah dengan yang lain; misalnya tak bertawakkal kepada Allah, tak rela terhadap keputusan Allah, tak sabar atas ujian yang diberikan Allah, tak bersykur atas nikmat yang diberikan Allah, tak menjauhkan diri dari apa yang dilarang oleh Allah. Tak bisa seseorang mengaku takut kepada Allah, jika yang bersangkutan masih takut kepada selain Allah.

Pertama,Tauhid. Secara  etimologis, tauhid adalah bentuk kata benda dari kata kerja “wahhada-yuwahhidu” yang berarti membuat sesuatu menjadi satu atau menyatakan kesatuan (ke-esa-an). Dalam Ilmu Kalam disebutkan bahwa tauhid berarti ikrar tentang tidak ada tuhan selain Allah. Dalam tasawuf, tauhid tak hanya merupakan ungkapan verbal tentang tidak adanya tuhan selain Allah, melainkan juga ungkapan hati tentang hakekat Tuhan Yang Satu.

Al-Junaid al-Baghdadi menceritakan bahwa seorang ulama pernah ditanya tentang makna tauhid. Lalu ulama itu menjawab, tauhid adalah yakin. Penanya tersebut meminta agar sang ulama menjelaskan apa yang dimaksud dengan yakin itu. Ia menjelaskan, “pengetahuanmu bahwa gerak dan diam alam raya adalah pekerjaan Allah.

Tak ada sekutu bagi-Nya. Apabila engkau melakukan (meyakini) itu, maka engkau telah meng-Esa-kan-Nya. Dalam kitab al-Rasa’il, al-Junaid menegaskan, “ketahuilah bahwa permulaan ibadah kepada Allah adalah mengenal-Nya (ma’rifatullah). Sementara pokok ma’rifatullah adalah bertauhid kepada-Nya”.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.