Home » Keluarga » Kenangan Masa Kecil Di Kampung
Anak saya, Ben dan Billy, menikmati masa kanak-kanak di Bowen School, Boston.

Kenangan Masa Kecil Di Kampung

4.75/5 (4)

Ayah saya penyuka kopi berat. Juga perokok ekstrim. Semua hal harus kami bikin sendiri waktu saya kecil dulu, termasuk bubuk kopi. Lagi-lagi, saya harus membantu emak untuk menumbuk biji kopi setelah selesai digoreng. Kami dulu punya  “lumpang” yang terbuat dari batu. Kami memakainya untuk “ndheplok” atau  menumbuk apa saja: bubuk kopi, gethuk untuk sarapan pagi, sampai tepung beras dan jagung.

Saat hari Jumat, dan saya tak sekolah, ada pekerjaan tambahan. Saya harus naik sepeda kurang lebih satu kilo untuk belanja di pasar Bulumanis. Dulu, mobilitas jarak pendek di kampung biasa kami lakukan dengan dua cara: Kalau tidak jalan kaki ya naik sepeda. Jika sepeda rusak, kadang saya harus pulang pergi ke pasar dengan jalan kaki.

Dulu, ada pajak sepeda yang disebut “peneng”. Kadang saya dikejar petugas kecamatan karena sepeda tak ber-peneng. Ini, mungkin,  yang menjelaskan kenapa saya sekarang gemar nggowes. Nggowes klangenan.

Adik perempuan saya, saat itu, masih kecil. Jadi, saya harus mengerjakan segala hal yang berkenaan dengan “daily errands”. Waktu adik kedua lahir, saya juga harus ikut menggendong dan meninabobokkan. Termasuk menyanyikan “lullaby” yang tak lain adalah salawatan dan zikiran yang lain.

Siang hari, usai pulang sekolah dan menimba air, saya punya dua ritual: Jika tidak main sepakbola, ya main layang-layang di sawah. Masa kecil saya, seperti masa kecil siapapun di kampung pada dekade 70an, sangat “social”. Setiap anak bersosialisasi dengan anak lain. Belum ada game seperti sekarang. Semua jenis permainan kami lakukan secara kolektif. Dan kami bikin sendiri.

Dalam perkara mainan, saya kadang merasa iri, tetapi juga jengkel pada anak-anak sekarang. Mereka menikmati segala macam game yang canggih. Tetapi, sayang, terlalu “static”: duduk di rumah, khusyuk di depan komputer. Tak ada gerakan fisik. Jarang sosialisasi. Anak saya Ben pernah bilang, “Ayah, we are now socializing virtually on computer with many kids from all over the world.” Saya tertawa, geli. Zaman memang sudah berubah.

Dulu, hanya dua rumah saja yang punya TV di kampung saya: satu milik Pak Haji; satunya lagi, “petinggi dongkol” alias mantan lurah. Kami tak berani nonton TV di rumah mantan lurah. Yang membuka rumahnya untuk kami hanyalah Pak Haji.

Berbondong-bondonglah kami ke rumah Pak Haji. Tiap malam, rumah Pak Haji diserbu tak kurang oleh lima puluhan warga kampung. Bukan main ramainya. Saya masih ingat: TV Pak Haji merek Grundig, warna kuning. Ditenagai dengan aki yang harus di-charge setiap dua minggu sekali.

Momen yang tak pernah kami lupakan adalah saat ada acara yang kami suka dan tiba-tiba TV “mblerek” (kehabisan daya) karena aki hampir habis. Kecewa kami bukan main. Event nonton TV sekampung itu adalah pengalaman sosial yang luar biasa. Rasa “guyub” (gemeinschaft) terbangun di sana.

Tapi saya tak bisa nonton TV setiap saat. Ayah saya menerapkan jadwal belajar yang sangat ketat dan spartan kepada saya. Setiap hari, setelah salat Maghrib hingga jam 9 malam, saya harus belajar non-stop. Kesempatan nonton TV hanya bisa saya nikmati pada hari Jumat, usai melaksanakan kegiatan “berjanjen” atau membaca barzanji.

Tak jauh dari tempat saya tinggal, ada Pabrik Gula Pakis, peninggalan Belanda. Setiap musim giling tiba, kami selalu pergi ke sawah,  mencari sisa-sisa tebangan tebu. Kadang kami mencuri tebu yang belum ditebang, sambil pura-pura mencari “glagah”  (kembang tebu) yang biasa kami jadikan mainan panahan.

Kadang polisi tebu melihat kami sedang mencuri. Kami dikejar. Kami lalu lari terbirit-birit, seperti burung pipit yang menghambur terbang karena “digusah”/dihalau oleh Pak Tani saat mencuri bulir-bulir padi. Kami lari sambil tertawa, mengejek polisi tebu. Atau, kami mencuri tebu saat lori (kereta) tebu lewat. Kami biasa “ndhodhosi” atau mengambil tebu dari lori itu.

Gigi kami, saat kecil dulu, sangat kuat. Kami mengupas, mengerat dan menyesap batang tebu dengan gigi. Bukan dengan pisau. Seingat saya, tak ada anak yang giginya “gigis” atau rusak. Jarang ada coklat atau manisan waktu itu. Kalaupun ada, kami tak mampu membeli.

Masa kecil saya di kampung bisa diringkaskan dalam tiga huruf — PSF: physical (semua pekerjaan melibatkan tenaga fisik), social (runtang-runtung, bersama-sama) dan fun (gayeng, seru). Saya kira, semua anak-anak desa yang hidup pada tahun-tahun itu mengalami hal serupa.

Semua orang di desa saya umumnya miskin. Hanya segelintir keluarga yang punya sawah yang bisa dibilang cukup berada. Dan kemiskinan kami alami sebagai hal yang alamiah saja, seperti mencuci pakaian atau menimba air. Kondisi kemiskinan inilah yang memaksa kami untuk  mengerjakan segala hal secara manual, sendiri, tanpa bantuan mesin.

Masa lalu, seperti saya katakan, selalu terlihat indah ketika dilihat dari kejauhan. Seperti sawah yang terlihat indah dari ketinggian, menyembunyikan tanah becek dan bau bacin yang hanya bisa kita lihat dari dekat. Dan semua orang, saya kira, memiliki “good old time”-nya masing-masing.[]

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.