Home » Keluarga » Neng Dara Affiah: “Poligami Rapuhkan Keluarga”
Neng Dara dalam diskusi JIL (Foto: Evi)

Neng Dara Affiah: “Poligami Rapuhkan Keluarga”

5/5 (1)

Bagaimana fakta sosial masyarakat Islam masa Nabi yang menjadi latar belakang pembolehan poligami?

Setahu saya, turunnya ayat poligami itu berkaitan dengan kekalahan umat Islam dalam perang Uhud di tahun 625 M. Saat itu, banyak sekali prajurit muslim yang gugur di medan tempur dan mereka meninggalkan anak-anak yatim beserta istrinya.

Saat itu, masyarakat Islam masih sangat terbatas, dan turunnya ayat poligami tampaknya didasarkan pada dua hal. Pertama, untuk menjaga keutuhan masyarakat Islam yang secara kuantitas masih sangat sedikit. Kedua, agar mereka yang akan bertindak sebagai pengayom anak-anak yatim dan janda korban perang dapat berlaku lebih adil.

Untuk masa itu, poligami mungkin merupakan bagian dari solusi yang tepat karena struktur masyarakatnya masih berwatak sangat patriarki. Bahkan, di masa itu sistem perbudakan pun masih diperbolehkan, walau pelan-pelan mau dihapuskan.

Tapi itu kan latar sejarah tahun 625. Sekarang kita sudah di tahun 2006; masak masih harus melestarikan praktek-praktek yang sudah tidak cukup sopan untuk konteks kekinian?! Kita tahu, sistem perbudakan dulu dianggap boleh, tapi sekarang sudah dianggap tidak sopan dan melanggar hak asasi manusia. Poligami, saya kira harusnya juga begitu.

Masalanya, ayatnya masih ada, dan lewat proses penafsiran yang dangkal dan gampang-gampangan, itu bisa dijadikan dalih pembenaran praktek poligami?!

Saya terkadang merasa bahwa orang-orang yang membela poligami tidak mengaitkan antara ayat yang mendukungnya di surat an-Nisa ayat 3 dengan ayat-ayat lain yang seakan-akan justru menafikan ayat itu. Di akhir ayat itu sendiri misalnya sudah dikatakan bahwa ”Bila engkau kuatir tidak dapat berlaku adil, maka satu orang istri sajalah!”

Bahkan dalam surat lain juga dikatakan bahwa, ”Kamu betul-betul tidak akan dapat berbuat adil terhadap istri-istrimu walaupun kamu berusaha keras untuk itu.” Jadi, laki-laki sudah dikodratkan Tuhan untuk tidak mungkin bisa berbuat adil terhadap banyak istri.

Lebih dari itu, dalam konteks perkawinan zaman Nabi, pembolehan poligami sangat terkait dengan fakta banyaknya perempuan-perempuan janda, anak yatim dan budak-budak yang menjadi bebas sosial. Sekarang kankonteksnya sudah jauh berbeda.

Kini kita tidak lagi berada dalam konteks peperangan. Dalam faktanya saat ini, sebagian besar laki-laki yang berpoligami, istri barunya jauh lebih cantik, lebih muda, lebih menarik. Dan sangat jarang peminat poligami yang memilih orang-orang yang paling patut ditopang secara sosial-ekonomi.

Ada yang menganggap bahwa para menentang poligami tidak memahami kebutuhan spesifik laki-laki yang konon dianggap berbeda dengan kaum perempuan. Tanggapan Anda?

Saya tidak paham apa yang dimaksudkan dengan tidak pahamnya kaum perempuan terhadap kebutuhan laki-laki. Apakah yang dimaksud itu tidak memahami kebutuhan syahwat pria yang konon dipercaya lebih tinggi dari pada perempuan?! Saya kira, anggapan bahwa laki-laki itu jauh lebih tinggi syahwatnya daripada perempuan adalah bagian dari konstruksi sosial yang bersifat ideologis yang tidak terlepas dari konteks sosio-kultural kita.

Data survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, Maret 2006, menemukan bahwa hampir 60% masyarakat Indonesia tidak menyetujui poligami. Ini kabar gembira buat Anda dan perempuan umumnya, ya?

Ya. Sebetulnya sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama ibu-ibu, tidak akan membenarkan poligami. Tidak hanya perempuan, banyak juga kaum pria yang cukup tegas dalam penolakannya terhadap poligami.

Jadi kalau orang sangat berhasrat untuk melakukan poligami, sebaiknya jangan bawa-bawa soal agama. Katakan saja bahwa ini adalah soal syahwat, bukan soal agama. Tokoh-tokoh kita kadang-kadang sering berkamuflase dalam soal yang satu ini.

Padahal itu sangat menyakitkan bagi kaum perempuan, terutama istri dan ibu-ibu. Tak jarang terjadi kenyataan bahwa bangunan rumah tangga yang sudah dibina bertahun-tahun dalam ikatakan suami-istri, diterpa prahara setelah sang suami merasa kaya dan populer, saat ia kembali terpikat dengan perempuan lain. Itu sangat menyakitkan bagi kebanyakan istri.

Dan saya kira, ajaran agama manapun tidak pantas membenarkan seorang istri disakiti sedemikian rupa, apalagi Islam sebagaimana yang saya yakini. Islam tidak pernah membenarkan laki-laki menyakiti istrinya. Bahkan ada sebuah ayat Alqur’an yang menegaskan agar laki-laki selalu memperlakukan istrinya dengan santun.

Wa`âsyirûhunna bil ma`rûf (perlakukanlah istri-istrimu dengan cara yang santun, Red), kata Alqur’an. Jadi Alqur’an sendiri mengamanatkan kaum pria agar memperlakukan istrinya dengan santun, baik, ramah, sembari menghargai kemanusiaannya.

Anda percaya ayat-ayat yang dianggap membenarkan praktek poligami itu tidak terlanjur membudayakan praktek poligami?

Saya kira sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini menolak poligami. Kalaupun di sebagian tempat ia sudah menjadi budaya, saya kira budaya pun dapat berubah. Budaya itu tidak bersifat statis, tapi dinamis dan sangat mungkin berubah.

Kita tahu, dulu sultan-sultan Jogjakarta itu punya ttradisi beristri lebih dari satu sekaligus banyak selir. Tapi sekarang, Sultan Jogja yang menjadi gubernur saat ini tetap setia mempraktikkan monogami. Dia juga tidak punya selir, dan masyarakat menanggapinya secara positif. Semua baik-baik saja. Jadi, kebudayaan bisa berubah, dan kaum elit bisa berperan besar dalam membentuknya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.