Home » Highlight » “No Marriage Can Last Without Good Sex”

“No Marriage Can Last Without Good Sex” Tip Membangun Keluarga Yang Islami

4.06/5 (17)

Berhubungan seks juga harus consensual, atas persetujuan kedua belah pihak: suami dan isteri. Memaksakan hubungan seks pada isteri yang sedang tak menghendakinya, adalah tindakan yang harus dihindari. Kita, sekarang, bahkan mengenal apa yang disebut “marital rape”, pemerkosaan dalam perkawinan. Ini terjadi saat hubungan seksual tidak consensual.

Ada hadis riwayat Abu Hurairah yang kerap dikutip: Jika suami mengajak isteri “begituan”, tetapi tak mau, maka malaikat akan melaknatnya semalam suntuk. Hadis ini tak bisa dipakai oleh suami sebagai alat untuk mengultimatum isteri. Hubungan suami-isteri yang  harmonis tak bisa didasarkan pada ancaman semacam ini.

Kalaupun hadis itu benar pernah disabdakan Nabi, paling jauh artinya adalah: sex is a big deal for men. Seks adalah hal yang penting sekali buat kesehatan mental laki-laki. Jadi, hendaknya isteri memahami “natuur” laki-laki seperti itu. Tetapi, benarkah hanya laki-laki saja yang butuh seks? Tentu saja tidak. Perempuan juga membutuhkannya. Jadi, sex is a big deal for men and women too.

Karena itu, suami juga tak boleh mengabaikan kebutuhan seksual isteri. Saya berandai-andai seperti ini: Jika Nabi lahir kembali sekarang, mungkin hadis tadi akan direformulasi ulang. Yang dilaknat bukan saja isteri yang tak mau diajak begituan. Tetapi juga suami. Karena Nabi hidup dalam zaman yang masih “male-oriented”, patriarkal, maka formulasi hadis di atas memang terasa sangat berpihak pada laki-laki. Padahal maksudnya bukanlah demikian.

Sekali lagi, maksud hadis tadi sejatinya adalah: sex is very important for marriage life. Laknat malaikat dalam hadis tadi hanyalah cara pengungkapan saja tentang betapa pentingnya seks dalam kehidupan suami-isteri. Begitulah cara Nabi mendidik orang-orang Arab yang kurang mengerti konsep seks pada zamannya. Kita hidup di zaman yang berbeda. Pemahaman kita atas hadis tadi juga harus dievaluasi kembali.

Keempat, hubungan suami-isteri haruslah didasarkan pada prinsip kesetaraan. Hubungan yang egaliter. Suami bisa menjadi “bread winner”, pencari nafkah, dan karena itu menjadi kepala keluarga. Tetapi isteri juga bisa menempati kedudukan itu. Sekarang, fenomena isteri yang ikut menopang suami untuk “win the bread”, mencari nafkah, sudah umum. Mencari nafkah, saat ini, adalah pekerjaan yang digotong secara bersamaan oleh suami-isteri.

Saya ingin menekankan bahwa otonomi seorang isteri secara finansial sangatlah penting. Biasanya, isteri yang sepenuhnya tergantung secara ekonomi pada suami, cenderung berada dalam situasi yang rentan (precarious). Hubungan suami-isteri yang setara bisa dijamin, antara lain, jika isteri juga memiliki sumber keuangan tersendiri.

Karena itu, memiliki pekerjaan bagi seorang perempuan sangatlah penting. Bukan apa-apa. Memiliki pekerjaan, walau dengan gaji yang kecil apapun, akan memberikan kepada seorang perempuan “a sense of autonomy”, rasa pe-de karena mandiri secara finansial. Secara psikologis, perasaan otonom seperti ini sangat penting untuk mencapai hubungan yang setara antara suami-isteri.

Jarak umur yang terlalu jauh juga bisa menghalangi terwujudnya prinsip kesetaraan. Ia bisa membuat salah satu pihak merasa inferior atau rendah diri secara moral. Perkawinan di mana suami-isteri secara umur “lopsided”, njomplang, sebaiknya dihindarkan. Kurang sehat secara psikologis.

Kelima, pernikahan yang harmonis bukanlah pernikahan yang sepi dari konflik. Saya rasa, tak ada pernikahan yang seperti ini. Mungkin hanya di dalam “fairy tale”, dongeng peri sebelum tidur saja. Konflik pasti akan ada. Yang penting adalah kemampuan suami-isteri menyelesaikannya, tanpa melibatkan kekerasan, baik fisik atau verbal.

Tak ada kiat baku bagaimana sebuah konflik bisa diselesaikan dalam keluarga. Quran memberikan contoh trik dalam QS4: 34. Tapi itu hanya contoh saja. Kita sendiri, sebagai makhluk yang bernalar, harus mengembangkan trik-trik kreatif untuk menyelesaikan setiap bentuk turbulensi dalam kehidupan rumah tangga. Intinya adalah (dan di sini saya belajar dari isteri saya): komunikasi.

Anda bisa menambahkan tip lain, sesuai dengan pengalaman Anda sendiri. Tetapi lima tip ini saya pandang sebagai landasan paling penting untuk membangun keluarga yang, dalam istilah Islam, sakinah (harmonis), mawaddah (penuh cinta, a love based marriage), dan rahmah (saling menghargai, mutual respect).

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.