Home » Keluarga » Perempuan » Husein Muhammad: “Perempuan Boleh Mengimami Laki-Laki”
KH Husein Muhammad

Husein Muhammad: “Perempuan Boleh Mengimami Laki-Laki”

3.7/5 (10)

Bagaimana dengan kekhawatiran akan rangsangan seksual yang muncul dari suara perempuan dan posisinya di depan sebagai imam, seperti sering digembor-gemborkan sebagian orang?

Saya kira kesalahannya pada konstruksi sosial dan seksual masyarakat kita yang masih kuat dipengaruhi bias patriarkhi, dan tidak pernah lelah memperbincangan soal godaan seksual.

Dalam konstruksi sosial dan seksual yang patriarkhis seperti ini, laki-laki selalu dianggap rentan akan godaan seksual, dan perempuan dianggap selalu menggoda laki-laki.

Saya kira, anggapan seperti ini terlalu berlebih-lebihan, apalagi ketika kita bicara soal ibadah salat. Dan mungkin, dalam konstruksi sosial lain di mana sudah tidak ada lagi asumsi goda-menggoda, perkara ini mungkin tidak dianggap penting lagi.

Kalau tidak ada lagi fantasi atau mitos tentang goda-menggoda, tentu tidak akan ada lagi halangan bagi perempuan untuk menjadi imam laki-laki. Soalnya, argumen kitab-kitab klasik kita selama ini memang terlalu sering mengekspos persoalan itu. Dan asumsi dasarnya selalu memosisikan perempuan sebagai sumber fitnah.

Kalau begitu, mungkinkan gebrakan Amina Wadud ini diterapkan di Indonesia?

Saya kira, Amina Wadud sudah berani melakukan perlawanan simbolik terhadap tradisi yang sudah mapan dalam konstruksi hukum Islam. Lantas, mengapa kita tidak menerapkannya di Indonesia?

Saya kira, kita masih melihat konteks situasi dan kondisi yang berlangsung di negeri ini. Ketika mempraktikkan itu, apakah tidak akan muncul perpecahan yang luar biasa? Saya kira, soal itu juga perlu dipikirkan lebih lanjut.

Makanya, di sinilah letak pentingnya melakukan pengondisian terlebih dahulu. Pengondisian itu bisa dilakukan dengan menyebutkan atau mengungkap wacana fikih atau pendapat yang membolehkan imam perempuan.

Langkah-langkah seperti ini saya kira selalu penting, karena kita tahu, dulunya perempuan juga sulit bisa berpidato di muka publik, karena masih ada larangan-larangan keagamaan. Bahkan, untuk membaca Alquran di muka publik pun mereka belum dibolehkan.

Dulu perempuan kita tidak dibolehkan mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Tapi sekarang, di sini tidak ada lagi larangan, sekalipun di banyak negara Timur-Tengah masih dilarang dan dianggap tabu.

Jadi pandangan Anda cukup kokoh dan akan masuk proses pembuktian sejarah?

Saya kira dari sudut substansi (lidzâtih), soal boleh-tidak bolehnya dari sudut pandang fikih sudah tidak ada masalah. Yang menjadi masalah hanya: apakah itu menggangu atau tidak. Jadi dari sudut substansi hukumnya, perempuan boleh menjadi imam salat laki-laki sekalipun. Hadisnya sudah jelas membolehkan.

Kalaupun ada masalah yang tidak membolehkan, mungkin masuk kategori masalah eksternal atau efek sampingan saja. Misalnya, kalau makmumnya pemuda-pemuda semua apakah masih dibolehkan? Saya kira tergantung apakah pemudanya masih berotak ngeres atau tidak terhadap imamnya. Soal itu kan sebenarnya bisa ditanggulangi dengan berbagai cara.

Gangguan kekhusyukan salat akan datang dari banyak hal, bukan hanya karena imamnya seorang perempuan. Kenapa hanya soal perempuan yang diributkan; dan mengapa persoalan perempuan lagi-lagi didefinisikan atau dilihat dari sudut pandang laki-laki?

Nur Rofiah

Mbak Nur, sosok Amina Wadud sudah banyak dikenal di Indonesia melalui buku-buku terjemahannya, seperti Qur’an and Women. Bagaimana reaksi Anda ketika mendengar berita dari Manhattan ini?

Pertama-tama kaget, karena ini kejadian yang sangat baru. Tapi saya juga salut pada Amina Wadud, karena tidak hanya berani menentang, tetapi juga mendobrak tradisi dan pandangan keagamaan yang sudah mapan selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad.

Makanya saya berkesimpulan bahwa apa yang sesungguhnya dilawan Amina bukanlah pandangan agama itu sendiri, tetapi tradisi penghayatan agama yang sudah berlangsung sejak lama.

Kita tahu, memang sulit melepaskan diri dari tradisi. Orang lebih gampang berada dalam posisi tidak menunaikan tuntutan agama daripada melanggar atau mendobrak tradisi agama yang sudah mapan.

Makanya, apa yang dilawan Amina bagi saya adalah pandangan-pandangan agama yang dilestarikan melalui tradisi patriarkhi yang begitu panjang.

Jadi ini sangat terkait dengan tradisi yang memang memandang rendah potensi perempuan?

Ya. Sebab secara sosiologis dan kultural, Islam memang hadir pertama kali pada masyarakat Arab yang sangat kental berbudaya patriarkhi. Mereka sangat mengagung-agungkan laki-laki dan kelelakian, dan sebaliknya merendahkan potensi kaum perempuan.

Nah, budaya seperti itu ikut mempengaruhi dan membentuk kesadaran dan asumsi bahwa perempuan adalah makhluk yang pasif, sementara laki-laki ditakdirkan untuk terus aktif. Kesadaran dan asumsi-asumsi seperti itu, juga sangat mempengaruhi bentuk-bentuk penghayatan keagamaan yang kita warisi sampai saat ini.

Misalnya dari Kang Husein ataupun ayat-ayat Alquran, kita tahu bahwa Islam secara tegas memosisikan laki-laki dan perempuan pada tempat yang setara. Namun seiring perkembangan sejarah yang sangat dipengaruhi bentuk pola pikir suatu masyarakat, ayat-ayat ataupun hadis yang membolehkan perempuan menjadi imam, menjadi kalah populer dan hampir tidak dikenal lagi dalam khazanah fikih.

Saya kira persoalan ini sangat terkait dengan persoalan tradisi. Dan kita tahu dari sejarah, tradisi kita lebih banyak dimainkan atau diperankan oleh kaum laki-laki. Makanya tak heran kalau hukum fikih yang berkenaan langsung dengan sisi pengalaman perempuan sekalipun, seperti soal haid dan nifas, semuanya dikonstruksi dan didefenisikan oleh ulama laki-laki.

Mbak Nur, pendapat Kang Husein tadi memang kurang populer. Makanya banyak yang menganggapnya mengada-ada. Komentar Anda?

Memang pandangan seperti itu tidak populer, makanya banyak yang tidak tahu. Tapi perlu digarisbawahi, jangan karena kita tidak tahu lantas menganggap sesuatu itu tidak ada (tidak ada landasannya di dalam Islam).

Sebab kita juga tahu, ayat-ayat Alquran tentang porsi pembagian waris satu berbanding dua antara laki-laki dan perempuan, atau bolehnya seorang suami memukul istri, jauh lebih populer dari pada ayat yang memerintahkan laki-laki atau setiap suami untuk berbuat baik terhadap istrinya.

Dan uniknya, sisi lemah hadis yang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh menjadi imam, itu pun tidak kita ketahui. Makanya, ketidaktahuan ini memang sebuah persoalan besar. Untuk itu perlu ada sosialisasi yang seimbang dan berkelanjutan antara laki-laki dan perempuan untuk membuat sebuah wacana lebih hidup.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.