Home » Keluarga » Perempuan » Musdah Mulia: “Nabi Sulaiman Pun Iri Pada Ratu Bilqis”
Musdah Mulia

Musdah Mulia: “Nabi Sulaiman Pun Iri Pada Ratu Bilqis”

3.67/5 (3)

Bagaimana Anda menanggapi pendapat bahwa Allah sudah menetapkan kodrat laki-laki dan perempuan secara tepat?

Dalam Alquran, tidak ada penjelasan rinci tentang siapa mengerjakan apa. Yang ada bersifat global, “walaitsadz dzakaru kal untsâ”, atau laki-laki dan perempuan memang berbeda. Dan kenyataannya memang berbeda secara biologis. Tapi, perbedaan biologis itu tidak boleh dijadikan landasan untuk mendiskriminasi satu sama lain.

Sebab Alquran jelas menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antarmanusia. Aspek pembeda antarmanusia yang diakui langsung oleh Alquran hanya pada unsur taqwa. Dan kalau kita berbicara soal taqwa, tentu hanya Allah saja yang bisa menilai.

Sebetulnya pendapat seperti ini sudah diadopsi Munas NU tahun 1997 di Lombok. Itu keputusan luar biasa; sebuah pengakuan besar. NU yang sudah berdiri sejak tahun 1926, baru pada tahun 1997 mengakui prinsip kesetaraan gender secara resmi. Makanya, saya tidak pesimis akan terjadi setback (arus balik) ke masa lampau.

Secara teologis, kalangan yang menolak presiden perempuan juga mengacu pada hadis-hadis misoginis?

Orang yang mengutip Hadis “lâ yuflih qaumun wallau amrahum imra’atan” (tak beruntung sebuah kaum yang menyerahkan kepemimpinan mereka pada seorang perempuan, Red) itu, hanya melihat hadis dari sisi tekstualnya. Dalam studi hadis, ada urgensi kritik sanad (mata rantai perawi hadis, Red) dan matan (inti hadis, Red). Mungkin saja dari aspek kritik sanad,hadis misoginis itu lolos, karena kita memakai perspektif Bukhari yang konon dianggap paling sahih.

Tapi sebagai cacatan, dalam studi-studi hadis yang lebih mendalam disimpulkan bahwa tidak seluruh isi kitab Bukhari mutlak dijamin benar. Banyak juga Hadis Bukhari yang tidak disahihkan oleh imam-imam lain, dan itu bukan hal baru dalam studi hadis. Kritik lain terhadap hadis yang diriwayatkan Abu Bakrah ini juga terletak pada persoalan perawinya sendiri.

Artinya, Hadis Bukhari bukan garansi kebenaran?

Ya. Studi kritik atas sanad dan matan kini dikembangkan lebih jauh lagi. Dalam kritik matan misalnya, terdapat tiga kategori yang dipakai sebagai patokan kebenaran sebuah hadis. Pertama, apakah hadis itu tidak bertentangan dengan pesan moral Alquran seperti persamaan, keadilan dan kemanusiaan?

Kedua, apakah matan hadis itu tak bertentangan dengan kenyataan sejarah (kritik sejarah, Red). Ketiga, apakah content atau isi hadis itu tidak bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah. Kritik matan ini sangat penting juga artinya, bahkan terkadang jauh lebih penting dari kritik sanad sendiri.

Nah, kritik kita terhadap hadis yang disebutkan di atas cukup menarik. Kesimpulan kita: Pertamacontent hadis tadi baru muncul 23 tahun setelah Nabi Saw meninggal. Kedua, hadis itu bertentangan dengan Alquran yang mengisahkan secara global tentang kepemimpinan perempuan Ratu Saba’.

Di dalam Al-Qur’an sendiri, hampir seluruh pernyataan tentang eksistensi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr mengacu pada kepemimpinan Ratu Bilqis itu. Kenyataan bahwa Alquran mengabadikan cerita itu bukan main-main dan punya arti yang mendalam.

Dalam konteks Ratu Bilqis, kepemimpinannya justru berakhir buruk, dan kerajaannya ditaklukkan Nabi Sulaiman yang notabenelaki-laki!

Sepengetahuan saya, yang diinformasikan Alquran justru soal kejayaan, gaya kepemimpinan yang begitu memikat, dan kebijaksanaan dalam memerintah. Tak ada informasi tentang keruntuhannya. Makanya, saya berkesimpulan, Alquran ingin mengabadikan fakta bahwa perempuan bisa memimpin sebuah negara. Sampai Nabi Sulaiman iri dengan kepemimpinannya.

Bagaimana dengan argumen historis dalam konteks di Nusantara tentang pemimpin perempuan yang berprestasi?

Yang menarik adalah Kesultanan Aceh. Selama 58 tahun, Aceh dipimpin oleh empat orang ratu secara berturut-trurut. Dan prestasi mereka juga tidak kalah hebatnya dengan prestasi raja-raja dari kalangan laki-laki. Semua itu tergambar dalam sejarah.

Tapi “raja perempuan” (baca: presiden) yang sekarang ini agak berbeda, ya?

Ya. Jadi kegagalan dan kemenangan sebuah kepemimpinan itu bukan karena faktor gender, tapi lebih karena soal kompetensi dan prestasi yang mereka capai. Tapi yang menarik juga pada kasus Aceh, pemerintahan ratu terakhirnya, jatuh karena fatwa yang dikemukakan seorang ulama yang pernah belajar di Mekkah.

Begitu dia datang dari Mekkah, dia memberikan fatwa haramnya kepemimpinan perempuan. Akhirnya yang menggantikan posisi ratu itu tak lain adalah ulama yang memberi fatwa tadi. Jadi kelihatan sekali betapa politisnya fatwa itu. Artinya, dia sangat dimotivasi oleh politik kekuasaan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.