Bulan April merupakan tanggal yang sangat berarti, terutama bagi yang bergiat dengan isu-isu keperempuanan. Tanggal 21 April Kartini lahir; sosok pejuang nasional perempuan yang tak kenal lelah menyuarakan isu-isu perempuan.
Mengenang Kartini berarti mengenang perjuangan sesosok perempuan lokal melawan tirani budaya yang feodalistis dan hegemonis. Mengenang Kartini juga mengingatkan sejumput cita kesetaraan laki-laki dan perempuan. Mengenang Kartini juga mengingatkan pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa.
Tapi, sementara kita memperingati Kartini berulang kali, masih saja terlihat penindasan terhadap kaum perempuan. Kekerasan terhadap tenaga kerja wanita (TKW) merajalela. Mereka tak jarang ter(di)bunuh di rantau orang. Pendidikan kian mahal, hingga banyak yang tak mampu bersekolah.
Pendidikan dikomodifikasi dan menjadi lokus penjajahan baru. Budaya dan mental penjajah masih bercokol dalam hati para pejabat pemerintah kita. Hutang luar negeri kian menumpuk. Inikah yang diharapkan Kartini? Dan apakah ini pertanda reduksi besar-besaran terhadap gagasan Kartini, sulit memastikannya.
Namun dalam pelbagai peringatan tentangnya, Kartini seringkali disajikan sebagai teladan resmi, bukan karena apa yang dikatakannya melainkan apa yang dikatakan orang mengenai dirinya. Pramoedya Ananta Toer dalam pengantar buku Panggil Aku Kartini Saja menulis:
“Sampai sedemikian jauh, Kartini disebut-sebut di berbagai peringatan lebih banyak sebagai tokoh mitos, bukan sebagai manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya, tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung dari pada total jendral mitos-mitos tentangnya.”
Cita-Cita Kartini
Sebuah bangsa yang diharapkan Kartini adalah bangsa yang besar, gemah ripah loh jinawi. Bangsa yang sejahtera, rakyat hidup sentosa. Penguasanya adil dan tidak diskriminatif. Tak ada lagi yang tidak mengenyam pendidikan.
Kartini mengimpikan bangsa yang dewasa, tidak berpikir picik dan gegabah. Dewasa artinya tidak egois dan selalu mengedepankan kepentingan rakyat. Dewasa juga berarti tak mudah terpikat dengan iming-iming sementara; tidak suka berebut kuasa sampai harus menghalalkan segala cara. Bangsa yang dewasa itu juga berani mengalah demi kebaikan bersama, wani ngalah luhur wekasane.
Namun apa lacur, harapan Kartini tak kunjung terwujud; tidak dulu, tidak juga sekarang. Semasa hidup, Kartini tak mendapatkan banyak hal. Dia hidup sebentar saja, 25 tahun. Tapi 25 tahun adalah masa yang lama untuk berjuang.
Sejak kecil Kartini sudah dihadapkan pada budaya Jawa yang tiranik. Adat di daerahnya melarang perempuan yang belum kawin tampil di muka umum. Ia merasa berada dalam “penjara” berjeruji besar, menjulang tinggi, dan mengungkung. Itulah salah satu faktor mengapa dia tak dapat lekas-lekas mewujudkan cita-cita. Keinginannya yang besar hanya disalurkan lewat surat kepada teman-temannya. Walaupun, menurut pengakuannya sendiri, surat-surat itu seringkali hanya menggali-gali luka hati.
“Penjara” telah menghadang langkah Kartini untuk meraih idealismenya. Meski demikian, itu tak serta merta menyurutkan langkahnya. Kartini malah makin lantang menyuarakan suara hatianya. Ia dikenal sangat kritis terhadap pendidikan dan kemajuan.
Bukan hanya kemajuan kaum perempuan, tapi juga kemajuan bangsanya. Ia pernah menulis, “Dan tidak hanya untuk perempuan saja, tetapi untuk masyarakat Bumiputra seluruhnya pengajaran kepada anak-anak merupakan berkah?” (surat 31-1-1901). Di sini, Kartini hadir dengan gagasan dan praktek pembebasan, bukan hanya untuk perempuan, tapi juga untuk masyarakat terjajah, dengan kemiskinan dan adat istiadat yang merugikan.
Kartini mengaktualisasikan perjuangannya antara lain dengan memediasi antara pesanan Belanda kepada pengrajin perak dan kayu. Kartini juga berupaya agar pengrajin dapat meningkatkan mutu desainnya melalui semacam training dan bantuan mereka yang lebih ahli.
Kartini, Agama dan Eropa
Tidak hanya itu, Kartini juga potret seorang pluralis, toleran dan kritis dalam beragama. Tak gentar ia menggugat (tafsir) agama yang telah mapan dan disalahgunakan. Dalam sebuah surat, ia berkata “Ya Tuhan, kadang-kadang saya berharap, alangkah baiknya, jika tidak pernah ada agama. Sebab, agama yang seharusnya justru mempersatukan semua manusia, sejak berabad-abad menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, pangkal pertumpahan darah yang sangat ngeri. Orang-orang seibu-sebapa ancam-mengancam berhadap-hadapan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan yang Esa dan Yang Sama.
Orang-orang yang berkasih-kasihan dengan cinta yang amat mesra, dengan sedihnya bercerai-berai. Perbedaan gereja, tempat menyeru kepada Tuhan Yang Sama, juga membuat dinding pembatas bagi dua hati yang berkasih-kasihan. Betulkah agama itu berkah bagi umat manusia? Agama yang harus menjauhkan kita dari berbuat dosa, justru berapa banyaknya dosa yang diperbuat atas nama agama itu!
Di balik tembok “penjara”, Kartini juga pernah punya angan besar untuk belajar ke Eropa. Sebab, dari Eropa, terutama dari teman-temannya, ia menemukan apa yang ia cari selama ini: kebebasan. Namun, ini bukan berarti semangat Kartini adalah semangat yang diwariskan kaum penjajah sebagaimana dituduhkan padanya.
Jauh sebelum perkenalannya dengan Eropa, Kartini sudah merasakan kegetiran dan semangat untuk melawan keadaan yang timpang. “Bukan hanya suara-suara dari luar; dari Eropa yang sampai kepada saya yang menyebabkan saya ingin mengubah keadaan sekarang ini. Sejak saya masih kanak-kanak… pada waktu kata emansipasi belum mempunyai arti apa-apa bagi saya dan tulisan itu masih di luar jangkauan saya, dalam hati saya sudah timbul keinginan untuk merdeka, bebas, dan berdiri sendiri.”
Sayang, impian Kartini urung terwujud. Ia tak sempat menghirup udara luar “penjara”. Di saat kesempatan itu ada di depan mata, Kartini malah me(di)nikah(kan), bahkan dipoligami seorang Bupati dari Rembang. Pada titik ini Kartini dianggap gagal memperjuangkan perempuan. Kartini seperti kehabisan siasat dan akal, sehingga harus pasrah menerima keadaan. Kartini dianggap mengkhianati perjuangannya sendiri dengan “mengabsahkan” poligami.
Tapi benarkah demikian? Kartini sendiri menampik tuduhan itu. Apa semata-mata dipoligami lantas perjuangan berhenti? Tidak! Kartini tak pernah lelah lalu berhenti. Pernikahan adalah bagian dari siasatnya untuk mengembangkan perjuangan.
Dengan pernikahan, Kartini punya kesempatan lebih besar untuk mewujudkan citanya. “Jika tujuan saja yang dikejar dengan jalan ini lebih cepat dan lebih pasti dapat saya capai, apa salahnya untuk menempuh jalan itu,”demikian tuturnya.
Apa yang diucapkan Kartini bukan omong kosong dan tidak pula impian belaka. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah perempuan bumiputra, tetapi juga berharap Kartini dapat menulis sebuah buku.
Suaminya juga turut mendukung mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya, Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”.
Namun betapapun, Kartiniadalah manusia biasa. Ia punya keterbatasan-keterbatasan sebagaimana manusia yang lain. Pilihan yang ditetapkan Kartini juga bukan pilihan mudah. Faktanya, amat sedikit perempuan dengan kesempatan dan privelege yang sama (ningrat) dengan Kartini berani mengambil langkah seperti dirinya: memaknai hidup, betapapun kerasnya, untuk selalu berjuang.
Kartini tak pernah berharap apa-apa, bahkan mungkin tak menyadari kalau yang ditulisnya kelak menjadi sangat berarti. “…kami hendak memberikan diri kami seluruhnya, kami tidak minta apa pun bagi diri kami, kami hanya ingin agar dikerjakan sesuatu terhadap yang menyedihkan dan kejam, agar dibuat permulaan dari akhirnya.” (surat21-12-1901).
Penulis adalah Koordinator Piramida Circle, Jakarta.