Home » Keluarga » Syafiq Hasyim: “Patriarkhisme Bukan dari Islam”
Syafiq Hasyim dalam diskusi JIL tentang otoritas MUI (Foto: Evi)

Syafiq Hasyim: “Patriarkhisme Bukan dari Islam”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Jadi yang harus dilakukan apakah hanya mengkritik tafsir-tafsir yang ada atau kita membutuhkan tafsir-tafsir baru yang lebih berpihak pada persoalan kesetaraan ini?

Kita masih bisa menggunakan tafsir-tafsir lama. Yang saya gunakan adalah tafsir-tafsir lama juga. Ini bukan buku saya yang pertama tentang isu perempuan. Sepuluh tahun yang lalu saya menerbitkan satu buku utuh yang diterbitkan oleh Mizan tentang Hal-hal yang Tak Terpikirkan tentang Isu-isu Keperempuanan dalam Islam. Saya melakukan survei terhadap literatur-literatur klasik.

Kitab-kitab tafsir…

Ya, tafsir, fikih. Saya bisa menggunakannya untuk merekonstruksi sebuah cara baru, tafsir yang relatively friendly terhadap kaum perempuan. Jadi tafsir lama tidak selalu tidak bisa digunakan untuk menjustifikasi atau untuk dijadikan bahan dan dasar bagi reinterpretasi mengenai relasi yang lebih adil antara laki-laki dan perempuan.

Tinggal mempopulerkannya dan menggunakannya ya…

Saya kira alat baca kita yang harus kita penuhi. Metodologinya, membaca itu seperti apa, menafsirkan itu seperti apa. Kalau bahannya bisa yang lama atau yang baru. Kritik ini adalah cara untuk melahirkan sesuatu yang baru. Kalau tidak melalui kritik, tidak akan muncul sesuatu yang baru.

Berarti Anda harus menulis lagi agar penafsiran-penafsiran yang jarang dipakai orang semakin populer. Jangan-jangan buku yang Anda tulis ini bisa kita sebut sebagai tafsir baru…

Tidaklah.

Ada pertanyaan: mengapa dalam Islam, pada saat salat di masjid, perempuan harus dipisahkan dari laki-laki, tidak boleh berbaur?

Ya. Itu juga banyak didiskusikan dalam buku-buku fikih. Tapi persoalan yang krusial di sana adalah mengapa posisi perempuan itu tidak sejajar dengan laki-laki. Memang tidak bisa dicampur. Kalau sejajar bisa, asal dikasih satir istilahnya, dikasih penghalang. Yang sebelah kanan laki-laki, yang sebelah kiri perempuan. Isu utamanya sebetulnya isu tentang aurat, isu tentang sesuatu yang harus dijauhkan dan sesuatu yang harus dilindungi dari mata laki-laki. Makanya kalau salat jangan dicampur.

Itu asal-usul lahirnya pemisahan itu ya…

Ya.

Tapi berita-berita mengenai salat Idul Adlha di dunia para perempuan dan laki-laki bercampur…

Ya, berarti kemajuan yang luar biasa. Tapi yang saya katakan tadi adalah historisitasnya seperti itu. Bahwa pada zaman Nabi salatnya seperti itu. Shaf-shafnya seperti itu.

Di Mekah mereka salat bercampur…

Ya, itu emergency.

Bukan karena menggunakan mazhab fikih tertentu…

Fikih emergency istilahnya, fikih darurat. Karena kalau tidak seperti itu, hajinya tidak bakal sah. Kan di dalam haji itu, kalau kita mengikuti mazhab Syafii, tidak akan sah itu hajinya. Dalam mazhab Syafi’i sentuhan kulit itu dapat membatalkan wudhu.

Kembali ke soal kerugian masyarakat jika mempersempit peran perempuan dalam kehidupan…

Ya, saya setuju bahwa kita memang tidak bisa dan tidak boleh mengabaikan perempuan untuk bekerja atau untuk berperan di ruang publik, baik di bidang pendidikan, politik maupun yang lain. Masalahnya selama ini, di dalam dunia kerja, kadang-kadang perempuan sudah disediakan ruangnya, sudah disediakan pekerjaan-pekerjaan yang menurut gender itu pekerjaannya perempuan.

Yang halus-halus pekerjaan perempuan ya...

Dibangun sebagai pekerjaan perempuan. Sekarang kita harus mengubah cara pandang itu. Cara pandang itu harus didasarkan kepada capability. Nah, persoalan kapabilitas perempuan itu sendiri juga tidak bisa dilepaskan dari bagaimana perempuan dibangun persepsinya dan image-nya di tengah masyarakat di mana perempuan dianggap lemah. Itu semua harus kita bongkar.

Padahal faktanya tidak seperti itu ya…

Tidak seperti itu. Mungkin lemah tapi pada sisi yang lain kuat. Pentingnya analisis gender seperti itu, untuk memahami bahwa relasi itu tidak selamanya didominasi oleh salah satu pihak. Tidak selamanya sesuatu yang dianggap lemah menciptakan sesuatu yang lemah pula. Sesuatu yang lemah bisa menciptakan sesuatu yang kuat.

Soal penciptaan: dalam buku saya sepuluh tahun yang lalu saya ulas panjang lebar soal penciptaan. Kalau di buku ini saya tidak mengulasnya karena isu itu saya anggap sudah selesai. Kalau di dalam tradisi tafsir Islam, terutama saya mengacu pada Tafsir al-Manar, Muhammad Abduh. Tafsir ini sangat otoritatif sekali, tapi kalangan tradisionalis tidak begitu suka membaca Tafsir al-Manar karena banyak hal yang modern, banyak hal yang reform di dalamnya.

Nah, menurut Muhammad Abduh, cara tafsir yang mengatakan bahwa Hawa itu diciptakan dari Adam adalah cara tafsir yang diadopsi dari gagasan isra’iliyat. Itu jelas dikatakan bahwa di dalam al-Quran sendiri penciptaan itu dari sumber yang satu, min nafsin wahidatin, atau single sources.

Tidak ada yang namanya lebih dahulu atau yang satu bagian dari yang lain…

Debat itu berada dalam wilayah penafsiran yang sangat rumit kalau saya jelaskan di sini.

Bagaimana soal hukum rajam itu yang memang ada dalam al-Quran atau hadis muttafaq ‘alaih?

Kalau soal rajam memang di dalam al-Quran ada. Tapi sebagai hukum, apakah efektif atau tidak, itu yang menjadi perbincangan kita. Nah, pada zaman Nabi, tradisi rajam ini sangat jarang dilakukan. Bahkan tidak pernah dilakukan. Mungkin pada zaman sahabat pernah dilakukan. Nah, mengenai kasus di Iran (kasus Sakinah Ashtiani, red), kalau memang mengimplementasikan hukum rajam, sebenarnya yang bisa terkena hukum rajam tidak hanya perempuan. Laki-laki juga bisa terkena.

Jadi rajam bukan hokum yang spesifik untuk perempuan. Untuk konteks Indonesia sekarang ini, kita tidak memakai hukum hudud. Criminal laws itu kita tidak pakai. Kita memakai hukum yang didasarkan pada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dan juga berdasarkan beberapa hukum yang diadopsi dari tradisi Islam, dari tradisi Barat dan lain sebagainya. Kebetulan kita tidak mengadopsi rajam.

Ada yang mengatakan bahwa patriarkhi berkembang dalam sistem feodal sebelum Islam. Islam justru menguranginya. Kita justru membahasnya…

Sebetulnya kita ingin membebaskan Islam dari patriarkhisme. Yang disebut dengan patriarkhisme Islam itu adalah cara pemaknaan kelompok tertentu yang mengakibatkan posisi perempuan didominasi atau dikuasai oleh ideologi kelelakian. Nah, Islam tidak seperti itu. Islam harus bebas dari itu.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.