Home » Politik » Ali Maschan Musa: “Agama dan Politik Tak Bisa Dipisahkan”
Ali Maschan Musa

Ali Maschan Musa: “Agama dan Politik Tak Bisa Dipisahkan”

5/5 (1)

Sebagian tokoh Islam, terutama di Jakarta, nampaknya terlalu defensif dalam menyikapi gerakan radikal semacam JI. Akibatnya, muncul kesan seolah-olah JI mewakili aspirasi umat Islam, sehingga jika JI dikritik, seakan-akan seluruh umat Islam terkena getahnya. Tanggapan Anda?

Memang, sikap orang tak pernah sama. Menurut saya, kalau faktanya memang ada beberapa pesantren ataupun tokoh Islam yang berada di posisi garis keras, kita tidak perlu menafikannya. Kita tidak perlu marah dan kita mestinya melakukan intropeksi. Sebetulnya, kalau dicermati dari sejarah, kelompok Islam garis keras itu memang sudah ada sejak zaman Rosul.

Orang yang membunuh khalifah ketiga, Ustman bin Affan, adalah kelompok Islam garis keras, entah yang disebut Khawarij atau yang lainnya. Dan sejarah membuktikan bahwa kekerasan yang berkedok agama sering kali karena persentuhan dengan politik.

Menurut kesimpulan saya, jika agama dan politik bersinggungan, maka selalu saja akan bermuara pada dua hal. Pertama, agama akan dijadikan alat politik.Kedua, akan terjadi radikalisasi politik atas nama agama. Orang dengan begitu, bisa membunuh lawam politik demi kepentingan politik, sehingga menghalalkan segala cara.

Dulu, ketika Khalifah Usman ibn Affan mengangkat Walid ibn Uqbah dan Saad ibn Abi Waqqas yang nota bene dari kalangan keluarganya, banyak orang yang marah. Lantas, muncullah sekitar 2000-an orang yang ingin membunuhnya.

Sayyidina Ali dan sahabat lainnya, sebetulnya juga tidak setuju dengan kebijakan Usman, tapi tidak dengan unjuk kekerasan. Tapi hasilnya malah seperti itu, Usman benar-benar dibunuh. Sebabnya apa?

Pertama, memang karena pemahaman keagamaan mereka sangat parsial dan sektarian. Kedua, karena kepentingan politik memang menghendaki begitu. Manuver mereka dengan menuntut agar Walid dan Abi Waqas diturunkan, pada intinya punya sasaran lain: ambisi menggulingkan Usman. Itu adalah kepentingan politik murni.

Kalau mengambil sampel zaman modern, kira-kira kecenderungannya seperti apa?

Saya kira sama. Kalau kita menyatukan agama dan politik, hasilnya akan tetap seperti itu. Sebab, agama itu pada intinya spritualitas, sementara politik bertujuan lain dan bersifat profan saja. Keduanya tak bisa disatukan.

Di Mesir kita sudah lama mendengar tentang Jemaah Islamiyah yang pro kekerasan sebagai pecahan Ikhwanul Muslim. Tanggapan Anda?

Saya khawatir, gerakan seperti itu hanya untuk kepentingan-kepentingan politik saja. Jadi, tidak mustahil apa yang terjadi di zaman khalifah yang tiga itu, sebenarnya juga ada pada kondisi modern sekarang.

Nampaknya, ideologi yang mendukung radikalisme belakangan semakin laku. Apa penyebabnya menurut Anda?

Di negara kita, saya melihatnya karena tiga faktor. Satu, karena political uncertainity atau ketidakpastian politik. Karena tidak adanya ketidakpastian politik, antar pemimpin juga sering terjadi konflik. Peluang-pelung menguatnya tren seperti itu, akhirnya semakin terbuka, karena para pemimpin juga tidak bersatu.

Dua, persoalan ketidakpastian hukum. Kita menyaksiakan belum adanya law emforcement (penguatan supremasi hukum, Red). Orang menjadi tidak terlalu takut pada hukum, sebab hukum bisa diatur dan dibeli. Pengadilan juga seperti mesin cuci saja. Tiga, persoalan recovery ekonomi yang tersendat dan belum jelas. Maka, orang yang diberi uang 500 ribu rupiah saja, bisa rela hati untuk membunuh.

Jadi, untuk misi pengeboman misalnya, kita bisa saja memberi seseorang uang 500 ribu rupiah. Kenapa? Karena mereka butuh uang itu. Kasus-kasus seperti itulah yang dalam konteks yang lebih lokal, memberi peluang untuk leluasanya gerakan-gerakan radikal dan membuat mereka lebih laku di pasaran.

Tapi, Amrozi dan Imam Samudra nampaknya yakin betul bahwa apa yang mereka perbuat adalah benar menurut ideologi yang dia anut. Komentar Anda?

Maka dari itulah, saya menjadi sangat kuatir. Saya kuatir fenomena ini sama dengan 2000-an orang yang membunuh khalifah ketiga tadi. Analisis atas penyebab mereka berbuat demikian itu berkisar antara dua hal. Pertama,karena pemahaman keagamaan mereka yang parsial. Kedua, karena kepentingan politik saja.

Jadi dalam sejarah, selalu saja ada kelompok kecil yang memilih haluan hidup di garis keras. Mereka memahami ayat-ayat dan hadis-hadis secara parsial dan sangat skripturalis. Kalimat “asyiddâ’ ‘alal kuffâr” (yang bermakna tegasterhadap orang-orang kafir, Red) mereka pahami sebagai anjuran untuk membunuh orang yang kafir.

Mereka-mereka ini tidak melihat konteks sosiologis bagaimana Nabi Muhammad mengaplikasikan kandungan ayat tersebut di Madinah. Di sana, Nabi juga mengadakan perjanjian dengan orang Yahudi dan Nasrani yang kemudian melahirkan 47 pasal perjanjian Madinah(mîtsaqul madînah) itu. Jadi tidak semua orang kafir harus dikerasi dan dibunuh. Tidak begitu, kan?

Anda sering bertemu kelompok seperti itu di kampus-kampus. Bagaimana Anda mengahadapi mereka?

Saya selalu memulai dengan mengatakan bahwa substansi memelihara agama itu, selalu saja dengan pendekatan yang instrinstik, yang substasial; bukan pada yang ekstrinsik, atau sekedar something to use, agama sebagai topeng, untuk kepentingan jabatan ataupun demi prestise belaka.

Islam itu sendiri artinya kedamaian. Jadi, intinya bagaimana kita berdamai dengan orang lain. Itulah inti Islam. Bagaimana agar tiap detik kita bisa menyelamatkan orang lain, itulah inti Islam. Kalau berteladan pada Nabi, beliau sendiri tidak pernah mengatakan bahwa politik saya Islam, misalnya, atau ekonomi saya Islam, ataupun partai saya Islam. Yang ada, semua ucapan Nabi bertujuan sejauh mungkin untuk bisa menyelamatkan dan berdamai dengan orang lain.

Dilihat dari kasus-kasus yang ada, mungkin sekarang adalah periode yang sangat sulit bagi umat Islam. Apa yang ingin Anda pesankan sebagai penutup?

Mari kita mengajarkan Islam seperti yang pernah dipraktekkan ulama dulu. Yaitu Islam yang substansif. Dimulai dari garis besarnya, dengan menjelaskan makna iman, Islam, dan ihsan secara benar. Kemudian barulah kita memerinci kedalam pembahasannya satu per satu. Jadi yang diajarkan bukan tentang doktrin jihadnya saja, tanpa tahu kaitannya dengan pokok masalah-pokok masalah yang lain.

Saya melihat mereka yang disebut kelompok garis keras itu memahami agama parsial saja. Jadi sebagai muslim, bagaimana kita setiap hari menyelamatkan orang lain. Anjurannya adalah kerahmatan untuk alam semesta, lil ‘âlamîn, bukan hanya untuk orang Islam saja. Bukan lil muslimînsaja.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.