Home » Politik » Demokrasi » Komaruddin Hidayat: “Mampu di Demokrasi, Gagal di Korupsi”
Komarudin Hidayat (Foto: wikipedia.org)

Komaruddin Hidayat: “Mampu di Demokrasi, Gagal di Korupsi”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Pola keberagamaan yang Anda sebutkan tadi cenderung ke ritualistik dan mungkin sufistik. Apakah ini gejala perkotaan saja atau juga pedesaan?

Bagi saya ini semakin memperkuat teori dan kenyataan bahwa Islam itu pada akhirnya memang berdialog, lebur, dan menyatu dengan local culture. Oleh karena itu, kalau bicara soal Islam, mau tidak mau kita juga berbicara soal kultur orang Islam sekaligus setting sosial-politiknya.

Dengan demikian, keberagamaan seseorang atau masyarakat pasti dipengaruhi suasana psikologis dan sosiologis dimana mereka berada. Dalam konteks ini, kita melihat bahwa secara kultural, Islam Indonesia itu mulai merambah bentuk keindonesiaan.

Saat ini kita melihat, komunalisme ekstrem semakin sulit ditemukan. Dimanapun kita berada, kita mesti akan menemukan masyarakat yang pluralistik, baik pluralitas dari segi etnik maupun agama. Ini juga memberi warna baru bagi Islam Indonesia.

Anak-anak muda sekarang juga tidak begitu kental lagi dengan memori ideologis. Mereka mungkin membentuk kelompok-kelompok baru yang sifatnya puritan, tapi juga menghadapi tantangan ekonomi yang mendorong pragmatisme dan sebagian intelektualisme. Akhirnya, pola keberagamaan anak muda kini, saya lihat berbeda dengan orang tua.

Mas Komar, ada harapan besar dari peningkatan spiritualitas masyarakat perkotaan dari uraian Anda tadi. Tapi ada juga yang beranggapan gejala itu baru sebatas aspek ritualnya. Sementara aspek sosialnya masih lemah. Anda setuju?

Ya. Tapi saya melihat ada harapan. Banyak juga teman-teman saya yang bekerja di bank, eksekutif muda, dan kaum profesional yang sangat peduli dengan persoalan sosial. Misalnya persoalan anak asuh. Gaji mereka tiap bulannya dipotong 2,5 % untuk keperluan sosial. Hanya saja, kegiatan sosial mereka ini tidak terekspos.

Selain itu, banyak juga LSM-LSM yang tidak menggunakan tampilan-tampilan simbolik agama, tapi punya motivasi keagamaan yang tinggi dan melakukan kritik atas ritualisme.

Saya juga melihat gejala yang lebih substansial daripada itu. Misalnya pada kader-kader PKS. Komitmen keislaman mereka tinggi, tapi simbol-simbol keagamaanya tidak begitu menonjol. Dan orang seperti itu banyak sekali di Indonesia.

Itu satu sisi keberagamaan Islam di Indonesia. Bagaimana dengan meningkatnya gejala ekstremisme yang cukup mengkhawatirkan sepanjang tahun 2004 kemarin?

Itu terjadi juga. Bagi Barat, gejala itu memang menjadi umpan empuk untuk di besar-besarkan. Tapi di sisi lain, tokoh-tokoh Islam maupun organisasi Islam yang besar, merasa tidak terlalu terganggu dan juga mengutuknya.

Mungkin inilah sebuah harga demokrasi. Kelompok yang kecilpun bisa muncul ke permukaan dalam alam demokrasi. Tapi perlu diingat, aksi kekerasan berbasis agama di sini, jauh lebih sedikit dibandingkan di Timur-Tengah yang mempunyai alasan-alasan tersendiri. Kekerasan di sini sebagian memang karena watak-watak kultural tertentu, tapi sebagian juga karena himpitan problem ekonomi dan politik.

Mas Komar, tadi Anda mengatakan kalau generasi muda Islam baru kurang ideologis dibanding generasi tua, dan komunalisme ekstrem dalam masyarakat kurang diminati. Tapi kalau mengamati fenomena gerakan Islam di “kampus-kampus sekuler”, pernyataan Anda tadi mungkin terbantah. Gerakan Islam baru yang lebih punya “etos perlawanan” dan dianggap tidak pro status quo tampaknya lebih diminati dari pada underbow NU dan Muhammadiyah!

Fenomena ini masih akan berkembang terus. Kalau ikatan kedaerahan, afiliasi kultural, ikatan kelompok dan mazhab pertama-tama masih begitu kental, dengan masuk perguruan tinggi mereka akan berada pada komunitas yang plural dan sebagian lebih rasional.

Menurut saya, anak-anak muda itu mau tidak mau harus memperoleh basis intelektual sendiri untuk tampil. Artinya, di situ masih bisa diharapkan proses yang evolutif dalam menentukan corak pikiran atau strategi pergerakan.

Jadi akan ada tuntutan intelektualisme di samping aktivisme. Yang mengedepankan intelektualisme tanpa basis massa akan sulit menjadi tokoh gerakan. Yang sekadar aktivis tanpa basis intelektual, juga akan kurang percaya diri.

Terakhir, apa rekomendasi Anda untuk kehidupan sosial-keagamaan yang lebih sehat pada tahun 2005 mendatang?

Pertama, di tahun 2005 nanti, nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan hendaknya lebih kita tonjolkan. Dan dalam pemilu-pemilu yang akan datang, seperti pilkada dan lainnya, representasi aspirasi agama hendaknya disalurkan melalui tokoh yang baik dan program yang bagus. Dengan begitu, diharapkan tidak terjadi komodifikasi agama yang berlarut-larut, tetapi muncul partisipasi keagamaan secara kualitatif.

Ke dua, ke depan yang harus ditonjolkan gerakan-gerakan keagamaan adalah usaha meningkatkan kualitas pendidikan. Kalau aspek pendidikan tidak kita selamatkan, habislah bangsa ini.

Ke tiga, gerakan-gerakan sosial-keagamaan juga harus mengambil peran aktif dalam memberdayakan ekonomi rakyat kecil. Saya kita, masa depan bangsa ini bisa kita selamatkan dengan ikut serta dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.