Home » Politik » Demokrasi » Saiful Mujani: “Ritual Nahdliyin, Modal Sosial Demokrasi”
Saiful Mujani

Saiful Mujani: “Ritual Nahdliyin, Modal Sosial Demokrasi”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Berarti kita punya modal sosial demokrasi yang banyak yang lahir dari rahim sosio-religio budaya kita sendiri?

Memang. Yang menjadi fokus perhatian saya adalah ritual-ritual kolektif itu. Dalam ritual yasinan, tahlilan, manaqiban dan lain-lain terdapat dimensi transedentalnya, yaitu niat ibadah pada Allah. Hanya saja, implikasi ritual itu juga banyak kita temukan. Dalam ritual yasinan, kita ‘kan tidak hanya membaca yasin, tapi juga bersilaturahmi, bertemu dengan orang lain dan saling sapa. Itulah yang dalam konteks demokrasi disebut sebagai civic engagement, keterlibatan sivik.

Belakangan ini, ada gerakan Islam baru (new Islamic movement) di luar NU dan Muhamadiyah yang mengembangkan orientasi politik Islamis. Apakah fenomena itu bisa bernilai positif untuk menunjang demokrasi?

Itu pertanyaan yang sangat pokok dan penting. Kelompok yang Anda sebut sebagai Islamis, atau kadang disebut fundamentalis, militan atau radikal, kalau dilihat dari segi kuantitasnya di masyarakat, tergolong kecil.

Tapi kelompok kecil ini sering menjadi penting karena sangat aktif secara parokial. Artinya, aktif untuk dirinya sendiri saja, tidak keluar dan terlibat di wilayah lain, sehingga dimensi pluralisme yang diharapkan, tidak tumbuh dari kelompok semacam ini.

Kalau kita perhatikan secara sekilas, para aktivis Islamis dan radikal ini sering juga membentuk kantong-kantong tersendiri, atau dalam istilah Emmanuel Sivan disebut sebagai enclave culture. Mereka tak bergaul dengan masyarakat dan membuat komunitas sendiri.

Lihatlah para aktivis yang terlibat dalam kasus bom Bali misalnya, mereka memang masuk ke daerah-daerah perkampungan tertentu, tapi tidak bergaul dengan masyarakat setempat. Mereka tidak bersosialisasi, tapi menjadi seorang yang asing.

Nah, orang semacam ini sesungguhnya ialah manusia yang teralienasi. Oleh karena itu, sumbangannya untuk memperkaya dan memperluas kesadaran kolektif dan kompleksitas kehidupan sosial menjadi tidak hadir. Di samping itu, tingkah demikian juga tidak bisa dipisahkan dari cara pandang mereka terhadap agama tentunya.

Ada aliran agama yang sulit menerima ritual-ritual keagamaan yang berdimensi kolektif karena dinilai bid’ah. Mereka lebih menyukai konsep hijrah yang diterjemahkan sebagai eksodus lahir dan batin dari kehidupan sosial yang diklaim bernuansa jahiliyah. Apa komentar Anda?

Saya melihat persoalannya secara empiris saja. Secara sekilas, kita melihat tradisi yang menganggap praktik atau ritual keagamaan seperti yang dijalankan kalangan Nahdiyyin di Indonesia ataupun Syiah di Iran yang kaya itu sebagai bid’ah oleh sekte Wahabi di Arab Saudi. Kita tahu, sekte puritanis seperti Wahabi ini menekankan pada apa yang murni, yang otentik saja dari agama. Tapi kita bisa juga memperdebatkan tentang apa yang disebut otentik itu.

Hanya saja, kepentingan saya dalam studi ini adalah melihat sejauh mana sebuah ritual agama, apapun bentuknya, memungkinkan atau tidak, untuk menjadi semacam basis bagi pertumbuhan demokrasi.

Sekiranya modal sosial yang ada di dalam tradisi kita tadi, yang mendorong orang untuk hidup secara kolektif dan terlibat secara sosial dimusnahkan karena dianggap bid’ah, bahkan kasus-kasus tertentu diklaim musyrik, maka tindakan itu tidak akan mendukung ke arah demokrasi. Gerakan tarekat yang punya aspek kolektivitas yang besar sayang jika dihilangkan semata-mata karena dianggap bid’ah.

Coba lihat, betapa kehidupan keagamaan di Arab Saudi begitu kering. Di situlah akar fundamentalisme dan konservatisme Islam yang sangat anti demokrasi berkembang. Sebab apa? Mereka memandang kehidupan ini begitu simpel. Mereka tidak membawa umat Islam dalam kehidupan yang sangat kaya, dan heterogen secara sosial-budaya.

Artinya, jika umat Islam makin terlibat dalam kehidupan sosial, maka ia makin terhindar dari benih-benih fundamentalisme?

Ya. Perasaan dan pengalaman atas kompleksitas kehidupan sosial itu akan diperkenalkan melalui kehidupan ritual yang bersifat kolektif tadi. Oleh karena itu, kita bisa menyaksikan orang-orang sufi termasuk yang cukup toleran. Ini karena ada dimensi sosial yang mereka rasakan, lihat, dan alami sendiri. Dengan begitu, mereka tahu bahwa hidup bukan hanya hitam-putih, atau untuk ibadah yang sifatnya personal saja.

Tadi Anda bicara soal ritual NU sebagai modal sosial demokrasi. Dalam konteks Muhamadiyah, tentu perantaranya adalah amal usaha dan unit-unit organisasi. Bukan begitu?

Persis. Saya perlu tekankan, bahwa kesemua itu adalah salah satu modal saja. Modal sosial itu tidak tunggal, ada banyak bentuknya. Muhamadiyah, walau mungkin tidak seintensif NU dalam yasinan atau tahlilan, tetap saja terlibat dalam kehidupan keagamaan dalam bentuk yang lain. Hal ini juga bagian kolektivitas yang didorong motif-motif keagamaan.

Menurut saya, selama ini aktivitas semacam ini sangat positif, sehingga orang-orang yang aktif di NU dan Muhamadiyah, dalam studi saya, telah memberi kontribusi positif untuk penguatan demokrasi kita.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.