Home » Politik » Dunia Islam » Mustafa Abd. Rahman: “JI Itu Sempalan Ikhwanul Muslimin”
Mustafa Abd. Rahman

Mustafa Abd. Rahman: “JI Itu Sempalan Ikhwanul Muslimin”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Setelah bersatunya dua kelompok ini, apakah radikalisme di Mesir semakin meningkat?

Kecenderungannya demikian. Hanya saja ketika berhasil membunuh Sadat, masa depan merger tersebut menjadi tidak begitu jelas. Sebab setelah itu tiba-tiba saja mereka hilang. Namun demikian, hilangnya konstelasi politik yang didominasi merger kedua gerakan itu, lalu diikuti suatu gerakan yang cukup besar yaitu lahirnya Tandzimul Qaidah yang tiba-tiba mencantumkan nama Ayman Al-Zawahiri sebagai orang kedua setelah Osama bin Laden.

Maka dari itu, antara Tandzimul Qaidah dan Jamaah Islamiyah juga diduga kuat terjadi merger. Mereka saat ini menjadi perbincangan utama di pentas politik Timur Tengah.

Bagaimana ide pokok, gagasan, atau ideologi yang melandasi JI ini menurut Anda?

Seperti halnya garakan radikal Islam lainnya, JI juga terinspirasi oleh karya-karya Sayyid Qutb dan Hassan Al-Banna yang sarat dengan ideologi anti hegemoni asing dan anti Amerika khususnya. Inilah yang menjadi pijakan mereka.

Apakah di sana juga ada ide tentang Khilafah Islam atau Negara Islam Nusantara seperti yang diusung oleh JI Abdullah Sungkar di Indonesia?

Betul. JI memang terang-terangan mengusung gerakan Pan-Islamisme yang pernah diusung oleh Jamaluddin Al-Afghani pada abad ke-19. Dalam pandangan mereka, Pan-Islamisme merupakan alternatif dari sistemnation-state atau negara bangsa yang menurut mereka harus diubah karena mengantarkan hegemoni asing atas negara-negara muslim.

Jadi, konsep negara bangsa yang menjadi ciri negara modern ini dianggap sebagai konsep yang tidak Islami?

Betul. Maka dari itu, menurut mereka harus ada alternatif Islam dari sistem yang ada sekarang. Inilah gagasan yang diperjuangkan Tandzimul Qaidah saat ini dengan Ayman Al-Zawahiri sebagai otaknya.

Sejauh mana hubungan kelompok ini dengan aksi-aksi terorisme; apa yang mereka lakukan setelah sukses mebunuh Sadat?

Setelah terbunuhnya Sadat, banyak sekali aksi kekerasan terjadi di Mesir. Misalnya serangan terhadap wisatawan mancanegara. Kasus terakhir adalah aksi terorisme atas turis asing di kota wisata Luxor pada tahun 1999. Misalnya lagi, tiba-tiba terjadi penyerangan terhadap bus wisata. Walaupun tidak membawa korban, tapi sudah diketahui bahwa yang melakukan hal itu punya latar belakang politik tertentu.

Menurut Anda, kenapa mereka menjadikan orang asing sebagai sasaran, sama seperti yang kita alami pada bom Bali?

Kalau berbicara secara makro, mungkin itulah manifestasi dari antipati mereka terhadap hegemoni asing. Tapi kalau berbicara pada tataran mikro, kita dapat mencermatinya dengan cara yang lain. Perlu diketahui, sektor wisata adalah salah satu penghasil devisa terbesar di Mesir selain Terusan Suez, minyak, dan transfer gaji orang Mesir yang bekerja di luar Mesir.

Dengan hitung-hitungan seperti itu dapat dikatakan bahwa devisa ini termasuk salah satu faktor yang potensial melanggengkan kekuasaan pemerintahan seperti Presiden Husni Mubarok. Itulah yang hendak mereka pukul.

Kalau begitu, bagaimana sebetulnya visi dan misi mereka; hanya bersifat terorisme atau merongrong pemerintah yang berkuasa saja, atau mereka punya tujuan lain yang bisa diperhitungkan pihak lawan atau Barat?

Seperti yang saya katakan tadi, mereka mengusung gagasan Pan-Islamisme. Gagasan Pan-Islamisme ini pada intinya sama dengan gagasan tentang kekhalifahan Islam, mendirikan negara Islam internasional. Jadi, mereka ingin kembali ke masa seperti Dinasti Ottoman yang pernah berkuasa di Turki dan negara-negara Islam lainnya misalnya.

Jadi gagasannya untuk mendirikan negara Islam internasional, seperti yang pernah dideklarasikan Tandzimul Qaidah tahun 1998, yang sering disebut sebagai front untuk memerangi kaum Yahudi dan Nasrani. Saya kira, dalam pandangan mereka, tujuan “mulia” itu selama ini banyak dihambat oleh konspirasi orang Yahudi.

Kalau tujuannya sebesar itu, kenapa manifestasinya melalui aksi serangan atas turis, membom gedung ini dan itu. Artinya kok munculnya seperti tindakan kefrustrasian?

Memang ini yang sangat disayangkan banyak pihak. Mereka mungkin tidak punya cara lain kecuali melakukan perang-perang gerilya semacam itu. Otak mereka buntu untuk menemukan cara lain yang lebih elegan.

Selama ini masyarakat Mesir sendiri menyayangkan, tidak setuju, bahkan mengutuk tindakan-tindakan tersebut. Bagi mereka, gerakan mereka sama sekali tidak mengubah situasi apapun, bahkan sebaliknya makin memperburuk situasi.

Bagaimana sikap Ikhwanul Muslimin sebagai organ besar yang dulunya menjadi induk kelompok-kelompok ini?

Seperti saya terangkan pertama tadi, justru gerakan mereka merupakan sempalan dari Ikhwanul Muslimin. Jadi, Ikhwanul Muslimin sama sekali tidak mendukung bahkan bertentangan dengan mereka.

Mereka yang mengambil jalur radikal ini menganggap Ikhwanul Muslimin terlalu akomodatif atau teramat lembek menghadapi kekuasaan rezim-rezim di Timur Tengah. Jadi gerakan ini juga merupakan refleksi sikap tidak puas terhadap Ikhwanul Muslimin itu sendiri.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.