Home » Politik » Internasional » Philip J. Vermonte: “Bush Selalu Ingin Hasil Cepat”
Philip Jusario Vermonte (Photo: whiteboardjournal.com)

Philip J. Vermonte: “Bush Selalu Ingin Hasil Cepat”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Anda melihat Amerika dan Israel saat ini menggunakan isu bahwa Iran adalah ancaman potensial demi memetakan ulang kekuatan kawasan?

Ya. Kini Iran dianggap sebagai pihak yang paling dekat dengan Hizbullah secara ideologis. Sehingga wajar kalau Iran juga salah satu pihak yang dilirik dalam konteks keseluruhan serangan Israel ke Libanon. Banyak orang yang tidak bisa paham, termasuk saya, tentang logika para pengambil keputusan di Israel ketika berperang dengan Hizbullah.

Tapi kalau kita memahami perspektif negara seperti Isreal yang selalu merasa terancam oleh lingkungan yang dianggapnya tidak friendly, mungkin kita bisa sedikit mengerti mengapa Israel begitu keras kepala. Nggak usah jauh-jauh, Singapura yang kecil itu, konon selalu merasa terancaman oleh negara-negara lain.

Akibatnya, dalam beberapa isu seperti perdagangan pasir, kita yang di Indonesia selalu menganggap Singapura sebagai negara kecil yang keras kepala. Artinya, mereka menyimpan paranoia terhadap negara-negara di sekitarnya.

Andai kita negara superpower seperti Amerika, perlukah kita sedikit arogan dalam urusan kebijakan luar negeri kita?

Sebenarnya, kalau kita tengok sejarah, Amerika itu telah begitu lama menjalankan politik isolasionisme. Dulu, mereka tidak mau terlibat dalam pelbagai hubungan internasional. Bahkan sampai Perang Dunia I, Amerika tidak mau ikut-ikutan perang. Mereka dengan teguh memegang prinsip isolasionismenya. Sebab, mereka menganggap dirinya berada di wilayah yang jauh dari pusat perang di Eropa.

Karena itu, mereka tetap konsentrasi pada upaya-upaya penyejahterakan rakyat dan melakukan perbaikan ekonomi. Padahal, sejak tahun 1800-an, kekuatan ekonomi Amerika di dunia, sebenarnya sudah dominan. Tapi dia tidak mau terlibat konflik di berbagai tempat, walau perang terus-menerus terjadi selama periode itu.

Amerika baru meninjau ulang dan membuka politik isolasionismenya karena dipaksa Jepang di tahun 1942. Opini publik Amerika saat itu mulai berubah. Mood policymaker juga berubah. Mereka lalu menganggap bahwa sudah saatnya Amerika keluar dan ikut serta dalam proses-proses politik internasional.

Sebab terbukti, politik isolasionisme tak mencegah mereka untuk diserang negara lain. Dalam konteks itu, sebetulnya keterlibatan Amerika—superpower dunia saat ini—dalam perpolitikan internasional, baru terjadi di tahun 1940-1960-an.

Tapi akhirnya ketagihan juga, karena ternyata mereka misalnya bisa mengamankan pasokan minyak dari Timur Tengah…

Ada banyak konteks yang perlu dijelaskan. Yang pertama, sejak PD II, muncul antitesis dari kapitalisme Amerika, yaitu mencuatnya Uni Soviet sebagai kekuatan dunia, sehingga Amerika makin dalam terlibat dalam perpolitikan internasional.

Dia harus membela prinsip-prinsip kapitalisme yang dianutnya. Lalu di tahun 1948 ada Israel. Ada Perang Enam Hari (1967) di Timur Tengah, dan peristiwa lainnya yang makin melibatkan Amerika.

Di awal-awal pembentukan Isreal, sebetulnya Amerika tidak terlibat. Tapi ketika Amerika sudah terlibat makin dalam di perpolitikan internasional melawan komunisme yang makin rumit, Israel tiba-tiba jadi faktor; menjadi aspek dan proxy kepentingan Amerika.

Tapi kalau dihitung dari sejarah konflik Timur Tengah, itu tergolong baru. Jadi akar persoalan Timur Tengah mungkin bukan sepenuhnya Amerika, tapi ada di Timur Tengah sendiri. Kita tahu, dalam proses pembentukan negara Israel, negara-negara Arab sendiri sikapnya terpecah. Jadi agak rumit juga…

Adakah suara-suara di Amerika yang kini menginginkan Amerika agar tidak lagi terlibat aktif dalam konflik-konflik di banyak belahan dunia saat ini?

Saya kira banyak. Dan yang paling kontroversial saat ini adalah perdebatan yang dipicu Jhon A. Mearseimer dan Stephen Walt yang menginginkan Amerika lebih kritis terhadap kepentingan lobi Yahudi demi kebaikan Amerika sendiri. Mereka adalah dua pakar hubungan internasional yang disegani.

Yang satu dari Harvard University, lain dari University of Chicago. Mereka sudah lama mengamati politik Timur Tengah. Buat yang mengkaji hubungan internasional, sudah tidak mengherankan kalau mereka sangat kritis terhadap kebijakan luar negeri Amerika.

Polemik ini menarik karena yang menulis soal lobi Israel di Amerika adalah Mearseimer dan Walt, dua profesor yang cukup disegani. Jadi, di lingkaran elite akademisi Amerika, isu ini mulai diangkat. Mereka bilang bahwa Israel itu sekarang sudah jadi beban bagi politik luar negeri Amerika.

Kalau Amerika ingin politik luar negerinya lebih bersahabat dengan negara-negara Timur Tengah dan kepentingan strategisnya lebih terjamin, maka cara pandang lingkaran pengambil kebijakan luar negeri Amerika tentang Israel harus segera diubah.

Akankah dukungan Amerika yang tidak kritis dan tanpa reserve Amerika terhadap Israel di Timur Tengah itu akan berubah?

Sepanjang agenda perang Amerika melawan terorisme masih berlangsung, dan aksi-aksi terorisme masih marak, saya kira pandangan Amerika terhadap Israel tak akan banyak berubah. Mereka akan tetap menopang Israel, karena itu mereka perlukan untuk menjaga perimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Kita tahu, Irak kini menjadi training ground orang-orang yang tidak menolak penggunaan kekerasan dalam menghadapi Amerika. Sepanjang itu masih terjadi, saya kira dukungan Amerika atas Israel tetap akan berlangsung. Itu pertama.

Yang kedua, yang jarang kita angkat di sini adalah soal opini publik Israel sendiri tentang diri dan nasib mereka sendiri. Yang kita lihat dari Isreal selalu sikap para pengambil keputusannya yang tiba-tiba sangat militan. Tadinya, orang berpikir PM Ehud Olmert akan cukup lunak menghadapi tantangan-tangangan dari luar.

Tapi karena merasa dirinya dianggap lemah di dalam negeri, dia justru ingin membuktikan diri kalau mampu melindungi segenap kepentingan dan kedaulatan Israel secara solid, dan tak akan tunduk pada negara-negara sekitarnya.

Psikologi politik semacam itu yang mungkin sedang kita lihat di Israel saat ini. Andai kekuasan Olmert di Israel sudah solid, mungkin ceritanya akan lain. Tapi persoalannya, dia harus menghadapi kelompok-kelompok yang sedang berusaha mencapai kekuasaan  (struggle for power)  di dalam negeri dan mengurangi kedaulatan Isreal dari luar. Jadi dia sangat jeli terhadap aspirasi konstituennya di dalam negeri. Di mana-mana juga begitu; politik luar negeri selalu menjadi fungsi dari politik dalam negeri.

Kini dalam negeri kita ada militansi untuk berjihad melawan Israel meningkat. Apakah selalu ada hubungan antara konflik di Timur Tengah dengan gerak maju radikalisme di banyak belahan dunia muslim?

Saya rasa memang begitu. Journal Foreign Policy, salah satu jurnal terkemuka di Amerika pernah mengeluarkan laporan yang berjudul God is Winning, Tuhan Menang. Di situ ditunjukkan bahwa konflik dan ketegangan antaragama justru merebak dan menguat sejak satu dekade terakhir.

Dan itu menegasikan harapan sebelumnya: setelah Perang Dingin usai, berarti kapitalisme sudah menang dan masyarakat dunia akan lebih sekuler, seperti yang dikatkan Francis Fukuyama. Tapi faktanya, pelbagai kejadian di dunia tidak menunjukkan demikian.

Konflik-konflik dan gerakan-gerakan politik bernuansakan keagamaan ternyata juga menguat. Bukan cuma di dunia Islam, tapi Amerika pun sekarang semakin konservatif, bahkan fundamentalis.

Pada akhirnya, yang dirugikan kita-kita juga. Kita tahu, ekstremisme dan terorisme di Indonesia tidak pernah bisa menjangkau Israel, apalagi Amerika. Tapi mereka bisa membom Bali, Jakarta, dll…

Justru itu yang jadi persoalan kita. Mereka yang membom Bali, Jakarta, dsb itu, bilang sasaran mereka adalah Amerika. Toh begitu, masyarakat kita juga yang jadi korban. Itu persoalan yang mengkhawatirkan juga dalam konteks Indonesia saat ini.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.