Home » Politik » Politik Islam Berada di Titik Nadir

Politik Islam Berada di Titik Nadir

4/5 (1)

Ibarat rumah adalah milik bersama, karena dibangun dengan keringat, darah, dan kerja keras bersama. Jangan sampai salah satu pihak mengklaim rumahnya sendiri, karena menimbulkan permusuhan, perang saudara, dan keonaran masal. NKRI justru menjadi momentum berharga umat Islam untuk memacu potensi, membangkitkan partisipasi, dan menggerakkan kemajuan secara dinamis dan produktif bagi kemajuan di segala bidang.

Umat Islam seyogianya menjadi pioneer kebangkitan Indonesia, jangan menjadi kaum pemarah dan suka menteror kelompok lain atas nama agama. Ajaran agama jangan dijadikan media justifikasi perilaku radikal, fundamental, dan teror yang membahayakan nyawa manusia.

Menurut Masdar Farid Mas’udi (2009), hanya Indonesia satu-satunya harapan pemimpin Islam masa depan, karena itu, pluralitas Indonesia dari Sabang sampai Merauke harus dijaga, umat Islam harus bekerja keras untuk menjadi umat terbaik dari segi prestasi di semua bidang, ekonomi, pendidikan, politik, peradaban, militer, teknologi, moral, dan pertahanan keamanan, sehingga umat ini berwibawa dihadapan negara lain.

Negara-negara Barat saja, seperti Amerika Serikat, Perancis, Inggris, dan lain-lain belum bisa memperlakukan pemeluk agama lain, seperti Islam secara setara dan adil, baik dalam konteks peluang berkarir dibidang politik, militer, pendidikan, atau dalam bidang yang lain. Mereka masih diskriminatif dan sering melakukan pressure yang destruktif bagi agama minoritas.

Fenomena ini dalam perspektif demokrasi tentu sangat memilukan, karena mereka menasbihkan diri sebagai nenek moyang demokrasi yang seharusnya bersikap egaliter dengan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh rakyat untuk berkiprah dalam bidang apapun sesuai keyakinan agamanya masing-masing.

Amerika lebih ironis lagi, bapak demokrasi dunia ini memperlakukan umat Islam secara sadis, diskriminatif dan tidak etis. Umat Islam Amerika dicap sebagai kelompok teroris, radikalis, dan ekstrimis tanpa bukti.

Mereka menggeneralisir umat Islam dunia seperti Al-Qaida ala Osama bin Laden yang menggelorakan semangat jihad untuk menumpas Amerika dan sekutunya dengan menggunakan kekerasan, misalnya bom bunuh diri dan lain sebagainya. Mereka kurang mendalami ajaran Islam dan prakteknya di banyak negara, khususnya di Asia Tenggara yang sejuk, damai, toleran, dan penuh keramahan.

Indonesia sangat berbeda. Negara ini sejak dulu bisa hidup berdampingan dengan agama lain dengan sikap saling menghargai, menghormati, dan memberikan hak masing-masing. Agama adalah pilihan masing-masing individu yang tidak bisa dipaksakan. Dakwah dilakukan dengan kearifan (hikmah), wejangan yang baik (mauidhoh hasanah) dan silang argumentasi yang lebih konstruktif (mujadalah billati hiya ahsan), bukan dengan cara kekerasan dan main paksa.

Para pemimpin Islam negeri ini begitu arif dan bijaksana, mereka tidak memaksakan negara Islam sebagai agama resmi negara, karena ingin menjaga kebinnekaan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi mereka esensi dan substansi agama jauh lebih penting dari pada simbol dan formalisme agama yang bisa mengancam disintegrasi. Agama dijadikan sebagai nilai kehidupan yang menyinari sikap perilaku manusia dalam semua aspek, ekonomi, politik, budaya, pendidikan, peradaban, dan pertahanan keamanan.

Pandangan pemimpin Islam Indonesia ini sangat toleran, moderat, dan inklusif, jauh dari kesan fanatis, primordial, dan eksklusif. Pikiran-pikiran keagamaan mereka terbuka, dinamis, dan progresif. Mereka lebih suka membangun jiwa dan raga bangsa ini dengan intensifikasi lembaga pendidikan formal, nonformal seperti pesantren, dan informal. Internalisasi nilai agama memunculkan sikap yang agung, cermin dari moralitas luhur seperti yang diwariskan baginda Nabi Muhammad Saw.

Mereka lebih memilih isi dari pada kulitnya. Demonstrasi dan publisitas kulit tanpa isi membahayakan Islam. Pandangan moderat, toleran, dan progresif ini lahir dari pergulatan panjang dalam memahami Islam. Para pemimpin Islam di negeri ini, khususnya pada masa revolusi kemerdekaan belajar Islam puluhan tahun, sejak dari satu pesantren ke pesantren lain, sampai ke pusat studi Islam di Makkah dan Madinah.

Tokoh semacam KH. Moh. Hasyim Asy’ari, KH. Moh. Dahlan, KH. Wahab Hazbullah, KH. Bisyri Syamsuri, KH. A. Wahid Hasyim, dan KH. Abdurrahman Wahid memahami Islam tidak hanya dari Al-Qur’an dan Hadits sebagai dua sumber utama, namun lebih dahulu memahami bahasa arab, gramatika bahasa seperti nahwu, sharaf, balaghah, manthiq, struktur dan mekanisme penggalian hukum seperti ushul fiqh, qawa’id fiqh, ulumul qur’an, ulumul hadits, dan lain sebagainya.

Tafsir yang berisi penjelasan al-Qur’an juga dijadikan pengayaan pemikiran yang luar biasa. Dari pergulatan intelektual yang panjang dan melelahkan itulah mereka memahami agama secara moderat, inklusif, toleran, dan pluralis, tidak langsung mengambil sana mengambil sana tanpa aturan yang benar.

Tentu tidak sama dengan gerakan Islam yang akhir-akhir ini mendengungkan syari’at Islam dengan langsung kembali kepada al-Qur’an dan Hadits Nabi, karena al-Qur’an dan Hadits tidak akan bisa dipahami tanpa memahami bahasa arab, tafsir, ulumul qur’an, ulumul hadits, dan perangkat ilmu penggalian hukum Islam yang lain sebagaimana di atas. Islam kaya wacana, pemikiran, dan interpretasi, ada perdebatan panjang antar para pemikir Islam yang sangat luar biasa. Mestinya, gerakan Islam ini melalui proses pemahaman Islam yang benar sebagaimana para pemimpin Islam yang lain.

Menurut Zakki Mubarak (2009), kelompok-kelompok Islam kanan yang getol memperjuangkan politik Islam, kebanyakan tidak mempunyai konsep kenegaraan yang utuh yang meliputi konsep politik, ekonomi, kebudayaan, pendidikannya, militer, dan lain sebagainya. Mereka hanya mengandalkan satu nama ’syari’at Islam’ tanpa memberikan formula konkret syariat Islam yang bagaimana yang akan diterapkan dan formula itu harus siap didiskusikan secara terbuka oleh seluruh elemen bangsa, termasuk yang nonmuslim, sehingga ada dimensi akseptabilitas dari syariat Islam tersebut.

Terlepas dari spirit agama yang mereka perjuangkan, mereka seyogianya memahami dengan bijaksana bahwa Indonesia adalah negara plural, binneka tunggal ika, banyak agama, suku, etnis, ras, dan golongan yang hidup di negeri ini.

Kalau Indonesia berubah menjadi negara Islam, disintegrasi bangsa sulit dicegah. Akan ada banyak daerah yang memisahkan diri dari Republik ini, terutama daerah-daerah yang menjadi kantong agama nonmuslim, misalnya Bali, Maluku, Sulawesi, Papua, dan lain-lain. Mereka beranggapan apa manfaatnya bergabung dengan Indonesia kalau agama yang diakui hanya Islam, lebih baik mendirikan negara Kristen sendiri, Budha sendiri, dan Hindu sendiri.

Indonesia bukan lagi negara yang terdiri dari Sabang sampai Merauke, tapi akan terpecah-pecah menjadi beberapa negara. Kalau ada kepentingan asing yang masuk, maka akan semakin memperkeruh suasana. Jawa yang menjadi basis umat Islam tidak bisa utuh lagi, karena nonmuslim di Jawa juga banyak, mereka akan berjuang melawan nonmuslim kalau mereka memaksakan Islam sebagai agama negara.

Dus, pluralitas Indonesia adalah sunnatullah yang harus diterima dengan lapang dada, bahkan menjadi pelecut untuk berprestasi. Pluralitas inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negara unik dari segala aspek. Pluralitas disisi agama, negara ini dihuni banyak agama, dari sisi geografis, negara ini terdiri dari banyak pulau, dari segi bahasa, negara ini mempunyai banyak bahasa lokal, begitu juga dengan etnis, ras, suku, dan golongan.

Islam yang menjadi agama mayoritas terdiri dari banyak golongan dan aliran, ada NU, Muhammadiyah, Persis, Wasliyah, LDII, Darul Hadits, Qudsiyah, dan lain-lain. Semuanya ada dalam kebinnekaan Indonesia. Pancasila menjadi payung besar bagi seluruh agama, golongan, dan geografis dari Sabang sampai Merauke.

Keunikan inilah yang mendapat apresiasi positif dari hampir seluruh negara dunia. Orang-orang Barat memuji demokrasi Indonesia yang luar biasa, karena bisa memperlakukan semua agama secara setara. Negara-negara Islam juga memuji Indonesia karena moderasinya dalam beragama dan proaktifnya dalam politik internasional yang bebas aktif. Multikulturalisme menjadi potensi besar bangsa ini yang mengamankan integrasi bangsa dari potensi separatisme dan disintegrasi.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.