Home » Politik » Politik Islam Berada di Titik Nadir

Politik Islam Berada di Titik Nadir

4/5 (1)

Kesejahteraan rakyat dan New Leader Politik Islam seyogianya tidak terus berkutat pada masalah formalitas akademik, namun harus turun gunung untuk fokus terhaap problem pengentasan kemiskinan. Karena sistem politik manapun yang mampu menghadirkan kesejahteraan ekonomi, akan diterima dan didukung rakyat. Politik Islam harus fokus pada masalah ini.

Kemiskinan dan kemunduran umat Islam di segala aspek kehidupan meniscayakan lompatan pemikiran dan gerakan yang menyadarkan umat akan pentingnya pendidikan dan ekonomi transformatif dan progresif. Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk berjuang dengan harta dan jiwa. Perintah ini secara eksplisit mengharuskan umat Islam untuk meningkatkan aspek ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia sebagai dua aspek fundamental dalam kebangkitan suatu bangsa.

Menurut Dr. KH. MA. Sahal Mahfudh, dua bangunan yang didirikan Nabi ketika hijrah dari Mekah ke Madinah adalah masjid dan pasar sebagai simbol kebangkitan agama, pendidikan, dan ekonomi. Masjid zaman Nabi tidak hanya untuk menjalankan shalat, tapi untuk mencerdaskan umat, dan memupuk persatuan. Sedangkan pasar dijalankan dengan penuh kejujuran, akuntabilitas, dan kredibelitas tinggi sehingga membawa semangat kemandirian dan kemajuan umat.

Kemiskinan dan kemunduran umat Islam dalam bidang pengetahuan dan ekonomi sekarang ini adalah a-historis, melupakan sejarah kebangkitan Islam yang dirintis Nabi Muhammad SAW. Saat hijrah, walau harus meninggalkan kerabat dan harta di Mekah, namun semangat berprestasi yang berkobar di dada, membuat umat Islam cepat mengatasi masalah ekonomi dengan semangat berdikari dan berprestasi.

Mereka mempunyai komitmen, integritas, dan profesionalitas dalam menjalankan roda perekonomian yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. yang menekankan kejujuran, keadilan, kerelaan, proporsionalitas, keseimbangan, dan menghindari kebohongan, korupsi, kolusi, manipulasi, spekulasi, riba, penipuan, kemungkaran, dan kekejian. Kesejahteraan dan kebahagiaan lahir-batin menjadi mind set ekonomi Islam yang dibumikan oleh Nabi Muhammad SAW. dan para sahabat.

Menurut Prof. Rokhmin Dahuri (2011), kemunduran umat Islam disebabkan enam hal. Pertama, keimanan dan ketakwaan berada di titik nadir. Survei lembaga kredibel di 33 Provinsi di Indonesia, hanya 30 % umat Islam yang melaksanakan shalat. Kedua, menjauhi pengetahuan dan teknologi.

Ketiga, menjauhi semangat berwirausaha dan berdagang secara jujur dan profesional, sedangkan Nabi Muhammad menganjurkan dan menjadi contoh yang baik dalam masalah perdagangan. Umat Islam lebih suka bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Keempat, menjalankan Islam secara parsial, hanya dalam konteks relasi vertikal (ibadah mahdlah), sedangkan dalam konteks ekonomi, politik, budaya, dan teknologi, mengikuti sistem Barat.

Kelima, terlibat dalam korupsi, mafia pajak, nepotisme, kolusi, dan lain-lain. Realitas ini bertentangan dengan ajaran al-Qur’an yang memuji umat Islam sebagai umat terbaik (khaira ummah) yang mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Keenam, perpecahan karena perbedaan organisasi dan kepentingan tertentu. Sedangkan Al-Qur’an mendorong kepada persaudaraan dan kerukunan hakiki. Bahkan Nabi Muhammad SAW. menggambarkan umat Islam laksana satu tubuh, sebagai simbol satu sistem yang terintegrasi dalam satu langkah menuju satu tujuan yang disepakati.

Menyikapi kemunduran umat Islam dalam segala aspek kehidupan ini, tidak ada jalan lain kecuali menggerakkan perubahan secara dinamis dan kompetitif, sesuai dengan ajaran Islam, khususnya dalam bidang ekonomi sebagai pondasi kemajuan umat. Ada beberapa langkah yang seharusnya dilakukan para pemimpin politik Islam.

Pertama, mengalokasikan anggaran mulai dari APBD 1, 2, dan APBN yang memadai. Menurut Imam Suyuthi dalam kitabnya Asybah wa An-Nadhair, kebijakan penguasa harus berkelit kelindan dengan kemaslahatan rakyat. Salah satu cirinya adalah mendahulukan kelompok yang paling berhak.

Dalam konteks Indonesia, kaum petani, nelayan, pedagang kaki lima, buruk, TKI, dan lain-lain adalah kelompok masyarakat paling marginal yang membutuhkan bantuan secara terus menerus. Pemerintah sudah seyogianya mengalokasikan dana besar buat mereka untuk keluar dari problem kemiskinan dan kemunduran.

Kedua, mendorong kajian ekonomi Islam diberbagai lembaga pendidikan, dari bawah sampai perguruan tinggi. Mushalla, masjid, majlis ta’lim, dan lainnya bisa dijadikan media dinamisasi kajian ekonomi Islam. Kajian ekonomi Islam selama ini ditempatkan secara marginal dan dikotomis, apalagi dengan interpretasi yang negatif.

Ajaran zuhud, qana’ah, wira’i, tawakkal, dan takdir dimaknai secara pasif dan negatif yang membuat umat Islam tidak mempunyai semangat melakukan perubahan nasib ke arah yang lebih baik. Dunia dibenci karena menjadi sumber malapetaka.

Reinterpretasi ajaran-ajaran ini mendesak dilakukan agar umat Islam tidak membenci dunia, tapi memburunya sebagai bekal menghadapi masa depan akhirat yang lebih baik. Dengan harta, umat Islam bisa meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, membantu mereka yang lemah dan tertindas, bisa menunaikan ibadah zakat dan haji, serta menghilangkan kemungkaran dan kebatilan.

Bukti kesejarahan yang diperankan Nabi Muhammad SAW., Khadijah, Abu Bakar, Utsman, Abdurrahman bin ‘Auf, dan lain-lain dalam bidang ekonomi diangkat kembali secara aktif untuk memberikan bukti dinamisme ajaran Islam dalam bidang ekonomi.

Ketiga, menyulutkan semangat dagang dan berwirausaha. Umat Islam tidak boleh takut berdagang dan berwirausaha, karena wilayah ini menjadi kunci kebangkitan ekonomi. Dibutuhkan pelatihan intensif menjadi pedagang profesional. Tradisi menabung dikembangkan, watak konsumerisme dan konsumtivisme diminimalisir.

Mempersiapkan mental yang tangguh, tidak mudah menyerah, kreatif, dinamis, dan inovatif adalah keniscayaan untuk meraih keberhasilan dalam berwirausaha. Semangat berkompetisi dikobarkan, sehingga kemampuan terbaik terus dikeluarkan.

Keempat, mendirikan lembaga swadaya masyarakat untuk mengadakan pelatihan keterampilan sebagai bekal mencari penghidupan, seperti menjahit, komputer, bahasa Inggris, jurnalistik, membuat makanan ringan, kerajinan tangan, dan lain-lain. Posdaya yang digerakkan Mantan Menkokesra Haryono Suyono bisa dijadikan contoh gerakan pemberdayaan masyarakat ini. Bekerjasama dengan lembaga pendidikan melakukan pendampingan masyarakat dalam program KKN (Kuliah Kerja Nyata) dengan membekali masyarakat kemampuan praktis sehingga mereka eksis dan survive ditengah kompetisi terbuka.

Kelima, menggerakkan dana zakat, wakaf dan sedekah untuk mempercepat proses pengentasan kemiskinan. Dana ini lebih diprioritaskan untuk memberikan beasiswa pendidikan kepada kader-kader masa depan bangsa dari keluarga yang tidak mampu, anak yatim piatu, dan yang membutuhkan, sehingga mereka bisa mengenyam lembaga pendidikan dari bawah sampai atas, kalau bisa sampai menjadi Doktor. Akhirnya, dana ini tidak hanya bersifat konsumtif, tapi juga produktif untuk meningkatkan pengetahuan dan ekonomi umat dalam jangka panjang.

Keenam, menggalang kerjasama umat Islam dalam program pengentasan kemiskinan, misalnya, antara NU dan Muhammadiyah. NU dan Muhammadiyah dengan kekayaan pesantren dan lembaga pendidikannya, dekat dengan semua kalangan, adalah modal sosial yang harus dimanfaatkan untuk memberdayakan ekonomi umat.

Partai politik, seperti PKB, Demokrat, Golkar, PAN, PDIP, Nasdem, PKU, dan lain-lain diajak bergandengan untuk memaksimalkan program populis ini. Persatuan ini menjadi kekuatan besar dalam menggerakkan perubahan ekonomi umat menuju level ekonomi menengah ke atas.

Dari sanalah, kemajuan dan kejayaan umat dan bangsa ini akan menjadi kenyataan. Lima langkah di atas diharapkan mampu meningkatkan kepekaan krisis para pemimpin politik umat Islam dan menjadikan kesejahteraan dan keadilan sebagai tujuan yang terus diperjuangkan sepanjang hayat.

Dengan pergulatan intelektual dan aksi sosial yang panjang dan melelahkan inilah, Islam akan tampil sebagai pioneer perubahan untuk mencapai keagungan Islam dan umatnya, Izzul Islam wal muslim dengan mengedepankan paradigma pemikiran dan gerakan Islam yang moderat, progresif, toleran, inklusif dan pluralis. Mereka aktif mengembangkan pendidikan, ekonomi, peradaban, intelektual, militer, informasi, teknologi dan lainnya untuk mencapai masa kejayaan sebagai sebuah bangsa yang bermartabat.

Jika umat Islam negeri ini mampu mewujudkan idealisme ini, maka jargon Islam rahmatan lil alamin, sebagai penebar kasih sayang kepada seluruh penduduk alam, tidak hanya untuk umat Islam saja, bisa menjadi kenyataan, karena dengan kebangkitan Indonesia menjadi negara maju, seluruh elemen bangsa, termasuk mereka yang nonislam bisa merasakan manfaatnya. Dan dari sini Indonesia pelan namun pasti akan muncul sebagai pemimpin baru dunia Islam.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.